Gubernur
Gubernur Bali, Made Mangku Pastika. (BP/dok)
DENPASAR, BALIPOST.com – “… Kalau cocok, silahkan pungut, kalau tidak setuju, buang saja! Bukan untuk ngajarin siapa-siapa, tapi hanya untuk ngajarin diri saya sendiri.”

Penggalan kalimat ini menjadi semacam pembuka dari buku “Percikan Perenungan dari Jaya Sabha 2” yang ditulis Gubernur Bali, Made Mangku Pastika. Buku itu diluncurkan tepat saat perayaan HUT Ke-66 orang nomor satu di Bali itu, Kamis (22/7) malam. Selain buku yang ditulisnya sendiri, ada pula buku “Jejak Derita Jenderal Bintang Tiga” yang ditulis Emanuel Dewata Oja.

Dalam buku karya Pastika sendiri, disebutkan bila kumpulan tulisan yang ada sepenuhnya merupakan pandangan dan pendapat subyektif dirinya terhadap fenomena politik, sosial, ekonomi, dan situasi atau kondisi yang tengah berkembang atau tengah menjadi isu hangat.

“Pandangan ini mungkin sebagian besar jauh sekali bahkan bertentangan dengan konsep dan teori umum yang berkembang dan diakui konsistensinya. Bahkan cukup banyak tulisan menyuarakan hasil dialog saya dengan diri sendiri”. Begitu tulis Pastika.

Isi buku terbagi dalam 3 bagian. Bagian pertama memuat 198 tulisan yang ditumpahkan seperti menulis diary. Salah satunya ada yang berjudul “Emosi (2)”. Isinya “Takut ngetel payu makebyos. Karena takut mengorbankan yang kecil, akhirnya kehilangan yang besar. Takut mengakomodasi orang kecil akhirnya harus membuat gusar orang sekampung. Juga : Karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Oleh karena itu, hati-hati, jangan emosi! Jika sedang emosi, jangan ngomong. Jelek Sekali!”.

Baca juga:  KCBI Bali Rayakan HUT ke-1

Pada bagian kedua adalah renungan pendek yang diisi dengan semacam kata-kata mutiara atau kata-kata bijak. Pun pada bagian ketiga. Namun yang menarik, bagian ketiga ini diberi judul “Kalah”. Dalam hal ini, Pastika sebetulnya ingin mengajak pembaca untuk selalu menumbuhkan optimisme.

“Orang selalu berkata siap menang, siap kalah. Tapi siapapun sesungguhnya tidak siap untuk kalah. Saya melihat orang yang kalah kadang tidak mau menerima kekalahan itu,” ujarnya. Tak ketinggalan, Pastika juga menyinggung politik seperti pada bukunya yang pertama. Bila politik disebutnya sebagai seni tipu menipu pada buku pertamanya, maka di buku keduanya ini politik adalah “the truth belong to the winner”.

“Tidak ada benar, salah. Tidak ada baik, buruk. Yang ada hanya menang dan kalah. Siapa yang menang itulah yang berhak bicara kebenaran. Kalau kalah, jangan coba-coba,” tandasnya. (Rindra Devita/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.