Ketut Sukadana di dapurnya yang hampir roboh. (BP/ist)
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Akses jalan di Desa Timuhun rata-rata keadaannya masih bagus. Baik jalan kabupaten mau pun ke rumah warga masih sangat mulus. Meski begitu, masih saja ada masyarakat yang tinggal di pelosok jauh dari permukiman.

Kondisi perekonomian yang sulit membuat sebanyak tiga KK di desa tersebut memilih tinggal di lokasi terpencil. Selain akses jalan yang sulit, tempat tinggal warga yang berada di tegalan Dusun Kaleran ini pun rawan longsor.

Untuk mendatangi tiga KK tersebut, harus menempuh jalan setapak sepanjang 1 km yang tidak begitu besar. Di tempat ini tinggal I Ketut Sukadana yang tinggal bersama dua anaknya. Akses jalan yang jauh membuat anaknya sulit untuk bersekolah.

Ketut Sukadana tinggal bersama kakaknya I Wayan Munggah dalam satu pekarangan. Wayan Munggah telah lama ditinggalkan istrinya akibat sakit kangker I Ketut Merti. Wayan Munggah menjadi salah satu warga miskin di Desa Timuhun yang keluar dari daftar keluarga tidak mampu. “Kami tinggal di sini dua KK. Keluar dari rumah karena di rumah sudah banyak orang,” tuturnya Sukadana yang mengaku bersaudara delapan.

Dalam keseharian Ketut Sukadana bekerja di ladang dan terkadang bekerja serabutan menjadi buruh bila ada yang minta bantuan. Tinggal di dalam satu rumah kecil bersama dua anaknya, Ketut Sukadana kini tidak memiliki dapur setelah roboh sebulan lalu akibat hujan lebat. “Sudah sebulan terjadi, saya tidak memiliki biaya untuk memperbaikinya,” tutur Ketut Sukadana yang ditemani ibunya yang telah uzur.

Baca juga:  Maksimalkan Pelayanan Kesehatan, Gubernur Bali Tinjau RS Pratama Nusa Penida

Di tempat tinggalnya tersebut memang rawan longsor. Masih terlihat sisa-sisa longsoran yang menimpa tempat tinggal Wayan Munggah. Selain dua kakak beradik tersebut, di permukiman terisolir ini juga tinggal I Wayan Darmayasa yang kondisinya tidak berbeda dengan kedua orang tersebut. Namun, Wayan Darmayasa kehidupannya lebih beruntung karena mendapatkan bantuan WC dari Kodim Klungkung.

Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang sempat mengecek keberadaan tiga KK miskin tersebut pun merasa sangat prihatin. Pada kesempatan tersebut Bupati Suwirta meminta untuk segera dialokasikan bedah rumah kepada para warga yang terisolir ini.

Dengan ini, menurut Suwirta, diharapkan warga yang tinggal jauh dari desa tersebut juga dapat hidup layak. Sementara untuk anak-anak yang mengalami kesulitan untuk bersekolah, Bupati Suwirta mengatakan perlu diberikan bantuan dari Pemkab untuk pengentasan buta aksara. “Anak-anak yang putus sekolah dibantu dengan program pengentasan buta aksara. Memang karena situasi, mereka tinggal jauh dan terisolir. Tentu ini menjadi tantangan untuk Perbekel dan bendesa juga,” jelasnya belum lama ini. (Dewa Farendra/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.