GIANYAR, BALIPOST.com – Pada 2018 bagi masyarakat Bali akan menjadi tahun politik. Cerdas mengelola tahun politik ini tentu akan menentukan nasib Bali ke depan.

Mengelola politik terlebih menyikapi peningkatan suhu politik dengan logika dan pendekatan kekerabatan akan membuat tahun politik menjadi tahun kebersamaan dan tahun sinergi menjaga Bali. Pandangan itu dilontarkan Wakil Bupati Gianyar I Made Mahayastra, SST. Par., MAP saat hadir di tengah-tengah masyarakat Banjar Pakraman Gagah, Desa Tegallalang, Gianyar, Senin (19/6).

Politisi kelahiran 1971 ini mengingatkan semua elemen masyarakat Gianyar hendaknya menjaga stabilitas wilayahnya menjelang tahun politik ini. Ia bahkan sangat meyakini menjelang tahun politik ini akan terjadi penyebaran beragam isu politik.

Tak hanya pencintraan yang dibangun para kandidat tetapi berita-berita fitnah dan menyesatkan juga akan muncul di berbagai media sosial. “Saya hanya berharap masyarakat Gianyar bisa mengelola beragam isu yang muncul belakangan ini dengan logika dan kedewasaan mengelola isu. Jangan gampang terprovokasi apalagi ikut menghakimi orang tanpa tahu persis permasalahnnya,” ujar pria kelahiran Desa Melinggih, Payangan ini.

Baca juga:  Nesa OSIS CUP XI Digelar, Wabup Ajak Generasi Muda Jaga Kesenian

Bagi Agus Mahayastra, tahun politik 2018 bagi masyarakat Bali adalah sebuah momentum untuk memilih pemimpin yang merakyat dan tahu persis beban warganya. Beban dalam hal ini tentu tak hanya dalam kaitan ekonomi, tetapi juga bisa terkait dengan beban dalam mengawal pewarisan budaya Bali dan tradisinya.

Untuk itu, salah satu kata kunci yang bisa dijabarkan oleh komponen masyarakat Bali adalah tetap menjaga keharmonisan dana kebhinekaan. Menjaga stabilitas wilayah dengan pendekatan harmonisasi adalah jawaban agar kita tak terjebak pada peningkatan suhu politik.

Agus Mahayastra yang juga sempat mengabdikan diri sebagai Ketua DPRD Gianyar ini juga memastikan diri tak akan menganggap calon-calon lain yang dimunculkan dalam Pilkada Gianyar 2018 sebagai lawan politik. Baginya, semua calon adalah sahabat politik. “Lawan politik itu hanya istilah yang bisa membuat suhu politik menjadi panas. Sebagai calon semua kandidat tentu punya kesempatan untuk dicermati oleh calon pemilihnya. Dan bagi saya, calon lain adalah sahabat politik,” tegasnya. (Dira Arsana/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.