pancasila
Mayjen Purn. TNI. Wisnu Bawa Tenaya menghadiri acara seminar Kebangsaan Nasionalisme Menolak HTI, Memperkokoh Pancasila dan Merawat Kebhinnekaan dihadiri Danramil Kuta Selatan, Kepolisian, KAPU Bali, Gusti Lanang Perbawa, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), yang berlangsung di Hotel Shunda, Jalan Bedahulu, Gatot Subroto, Minggu (18/6). (BP/wan)
DENPASAR, BALIPOST.com – Salam 5 jari! Salam Pancasila! Merdeka! Kata-kata itu dipekikkan secara lantang oleh Mayjen TNI (Purn) Wisnu Bawa Tenaya di hadapan anggota HMI Bali-Nusra, Minggu (18/6). Sekretaris Dewan Pengarah dan Eksekutif Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) ini didaulat menjadi salah satu pembicara Seminar Kebangsaan Nasionalisme. Seminar yang di inisiasi oleh Badan Koordinasi (Badko) HMI Bali-Nusra ini mengangkat topik “Menolak HTI, Memperkokoh Pancasila, Merawat Kebhinekaan”.

“Ingat salam 5 jari, salam Pancasila. Ini dia, merdeka! Jadi tidak ada lagi yang ruwet-ruwet, kita happy, senang jadi anak bangsa. Cinta tanah air, cinta Pancasila, cinta sesama, satu dengan yang lain saling menghormati,” ujarnya.

Pria yang akrab disapa WBT ini mengatakan, anak-anak muda yang penuh semangat harus dimotivasi dan diajak untuk membangun bangsa. Pedomannya tidak lain adalah Pancasila, sehingga mereka harus mempelajari Pancasila, memahami Pancasila, memperdalam Pancasila, dan berperilaku juga sesuai dengan Pancasila. Dalam hal ini, Pancasila harus dipahami dan diimplementasikan secara utuh.

“Rajin ke pura, rajin ke masjid, rajin ke gereja, ini implementasi Sila Pertama Ketuhanan yang Maha Esa. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, bisa budi pekertinya, sopan santunnya, tata susilanya. Pancasila diaplikasikan dengan Panca Sila Krama. Jangan gunakan kekerasan, jangan dengki, jangan bohong, jangan tipu, jangan mabuk, baik itu mabuk narkoba maupun mabuk jabatan,” terangnya.

Wisnu menambahkan, PR pemerintah maupun pemimpin sekarang adalah membangun komunikasi aktif dengan generasi muda. Termasuk dengan organisasi mahasiswa seperti HMI ini, sehingga satu sama lain bisa saling asah asih asuh, tidak saling mencurigai tapi saling membangun, serta saling memperkuat karena kuncinya adalah bersatu.

“Musyarawah, mufakat, kesejahteraan, keadilan, nah bagaimana kita duduk bersama membuka cakrawala ini agar pikiran, kecerdasannya, cerdas, cerdik, cendekia, ini yang kita dorong. Anak, mahasiswa harus melakukan yang terbaik, sekolahnya harus selesai, cumlaude, kita dorong bersama sehingga dia bisa menuntun adik-adiknya yang SMA, yang SMP, yang SD, yang TK, kemudian di rumah bapak, ibu, anak, solid, harmoni di rumah,” paparnya.

Bila sudah demikian, lanjut Wisnu, kerukunan juga akan terjalin di lingkungan masyarakat dari tingkat banjar dan seterusnya. Disisi lain, generasi muda juga diingatkan agar tidak sembarangan memanfaatkan media sosial. Sebab, tantangan di era sekarang terbilang kompleks. Yakni, berperang melawan narkoba, HIV/AIDS, perbudakan modern, terorisme, separatism, hingga radikalisme.

Baca juga:  Akasaka Digerebek Tim Narkoba Mabes Polri

“Oleh sebab itu kita getol sekarang menyampaikan, bukan hanya euphoria tetapi perilaku dalam kehidupan sehari-hari adalah perilaku hidup berPancasila, saling menghormati, bersatu dari Sabang sampai Merauke, dari Nias sampai Pulau Rote. Kalau di Bali ini dari Cekik sampai Culik, dari Lovina sampai Nusa Penida. Kita harus bergandengan tangan,” tegasnya.

Narasumber lainnya, Ketua MUI Kota Denpasar, Drs. H. Syaifudin Zaini, M.Pd.I mengatakan, Indonesia bukanlah negara Islam. Tetapi orang Islam bisa menjalankan syariat-syariatnya di negara ini. “Tugas kita sebagai kader bangsa adalah bagaimana membuat Indonesia tetap menjadi negara proporsional. Tidak harus negara Islam, kalau dibilang negara Islam kita mau berkiblat kemana? Afganistan, Irak atau yang mana? Apa Suriah?,” ujarnya.

Danramil Kuta Selatan, Mayor Kav. Suprapto, S.Ag mengatakan, Indonesia sampai dijajah 350 tahun oleh Belanda dan 3,5 tahun oleh Jepang akibat politik devide et impera. Artinya, mudah diadu domba karena tidak mau bersatu. “Kita dijajah itu tidak enak, lebih baik kita hidup dalam satu falsafah bangsa Indonesia, satu dasar negara Pancasila, dengan UUD 45-nya kita bersama-sama menopang bangsa,” tegasnya.

Sementara itu, Penanggung Jawab dan Kabid Pariwisata Badko HMI Bali-Nusra, AS. Hamdi Li mengatakan, gagasan tentang penguatan Pancasila dan merawat kebhinekaan harus tetap dijaga secara utuh. Bila ada anak bangsa atau warga negara Indonesia yang menggadaikan ideologi Pancasila sebetulnya tidak lebih mulia dari seorang pelacur yang melacurkan diri di tempat tercela.

“Jadi ini adalah tugas kita, bagaimana ideologi Pancasila yang menjadi falsafah bangsa tetap kita jaga, tetap kita rawat sebagaimana kita merawat diri kita sebagai bentuk kecintaan kita pada bangsa Indonesia,” ujarnya.

Sekretaris Umum Badko HMI Bali-Nusra, Hendri Herliawan mengatakan, HMI ikut mendukung pemerintah dalam menjaga NKRI dari ormas-ormas intoleran. Bali khususnya, sebagai pusat pariwisata di Indonesia telah menjadi gambaran sikap toleransi. Masyarakat Bali dinilai sangat toleran terhadap agama-agama lain. Itu sebabnya, pulau dewata sampai saat ini masih tetap aman, nyaman dan bisa dikunjungi setiap saat oleh semua orang bahkan di seluruh dunia. “Bali hari ini sebagai representasi bagaimana keamanan Indonesia. Amannya Bali jadi parameter amannya Indonesia. Bali masih menjadi contoh toleransi beragama yang patut dibanggakan,” jelasnya. (rindra/balipost)

 

Advertisements

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.