Menpar
Menpar Arief Yahya. (BP/udi)
BANYUWANGI, BALIPOST.com – Menteri Pariwisata Arief Yahya mendorong penerbangan Denpasar-Banyuwangi dibuka lagi. Alasannya, ini akan mendorong perkembangan pariwisata di Banyuwangi. Menurutnya, salah satu pendongkrak kunjungan wisatawan adalah akses transportasi. Apalagi, kondisi alam Banyuwangi tak kalah menarik dengan Bali.

“Jadi, kita mendorong rute penerbangan Denpasar-Banyuwangi dibuka lagi. Ini akan mendongkrak kunjungan wisatawan dari Bali ke Banyuwangi,” tegasnya usai peresmian rute penerbangan Banyuwangi-Jakarta di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi, Jumat (18/6).

Ditambahkan, endorse pariwisata adalah Bali. Sehingga, Banyuwangi harus mau mengakui menjadi beyond Bali jika ingin mengembangkan pariwatasa. Salah satu kuncinya, kata Arief, akses penerbangan bisa dibuka seluas-luasnya. Pria asli Banyuwangi ini mencontohkan pengembangan pariwisata di Danau Toba. Awalnya, tak ada maskapai yang membuka rute langsung menuju lokasi dekat Danau Toba, Sumatera Utara. Akhirnya, Presiden memerintahkan maskapai Garuda Indonesia membuka akses ke sana. Alhasil, kunjungan ke Danau Toba terus melejit. Bahkan, maskapai lain ikut membuka rute serupa.

Baca juga:  Dari Laut ke Gunung, Hingga Pawai Mobil Hias, Ada di ITdBI

Dari pengalaman ini kata dia, pihaknya sepakat jika rute Denpasar-Banyuwangi dibuka lagi. Lalu, promosinya dibuat lebih gencar. Pariwisata kata Arief menjadi cara paling murah menggerakkan ekonomi rakyat. Apalagi, Banyuwangi yang baru bergeliat mempromosikan pariwisata.

Sementara itu, salah satu maskapai yang tertarik membuka rute Banyuwangi-Denpasar adalah Nam Air (Sriwijaya Air Grup). Hal ini diakui Presiden Direktur Sriwijaya Air, Chandra Lie. Menurutnya, rute Banyuwangi-Denpasar PP tetap potensial. Karena itu, pihaknya akan segera mengurus izin membuka rute tersebut ke Kementerian Perhubungan. ” Kita akan buka rute Banyuwangi-Denpasar. Kami optimis bisa bagus,” jelasnya.

Sebelumnya, rute Banyuwangi-Denpasar sempat dibuka oleh maskapai Garuda Indonesia. Namun, sejak 2016 lalu dihentikan. Alasannya, okupansinya kurang menguntungkan. (budi wiriyanto/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.