rekontruksi
Duta Kabupaten Jembrana menampilkan tari legong kuntul dan tabuh-tabuhan semara pegulingan, pada Pesta Kesenian Bali (PKB) 2017 di Taman Budaya Bali, Rabu (14/6). (BP/eka)
DENPASAR, BALIPOST.com – Sekeha Semar Pegulingan “Manik Pasupati” berkesempatan tampil dalam ajang Pesta Kesenian Bali Ke-39 di Kalangan Angsoka, Taman Budaya Denpasar, Rabu (14/6). Sekeha dari Desa Pakraman Puseh Agung, Kelurahan Banjar Tengah, Kecamatan Negara, Jembrana ini menampilkan rekonstruksi tabuh semara pegulingan yang terbilang baru di bumi makepung. Mengingat Jembrana lebih lekat dengan kesenian jegog-nya.

“Ini tergolong gamelan baru bagi daerah kami di Jembrana, yang coba dipelajari menyesuaikan dengan karakteristik gamelan. Kalau Jembrana kan khasnya jegog,” ujar

Ketua Manik Pasupati, I Kade Arya Parjana Arya mengatakan, rekonstruksi tabuh semara pegulingan menghasilkan garapan tabuh pategak “Kubu Reod”. Kubu reod merepresentasikan kebudayaan tempo dulu yang tetap hidup di era modern. Walaupun reod tapi dapat memberikan ketenangan kepada setiap orang yang duduk di sana. “Garapan ini saya kira sudah mengacu pada tema Ulun Danu karena kubu reod identik dengan daerah agraris. Kubu itu kan terdapat di sawah biasanya, disaat musim panen digunakan para petani kala menghilangkan lelah,” ujarnya.

Arya menambahkan, sekeha pimpinannya juga didukung Komunitas Seniman Muda Negara “DJ Kepakisan” dan Sanggar Seni Gayatri saat menampilkan 4 suguhan tabuh dan tari termasuk Kubu Reod. Tiga garapan lainnya yakni lengker cenik, tari legong kuntul, dan tari jauk manis. Lengker cenik adalah salah satu gending pegambuhan yang dipakai untuk mengiringi Tari Panji atau Patih Manis yang menggunakan tetekep lebeng. Namun di dalam gamelan semara pegulingan sering menggunakan tetekep tembung.

Baca juga:  Dua Kisah Perempuan Heroik Meriahkan Pawai PKB

“Total ada 25 penabuh dan 5 penari yang kami libatkan. Persiapannya kurang lebih 1,5 bulan, termasuk sangat cepat karena anak-anak kami mengikuti banyak item di PKB. Ada yang di gong kebyar, ada di lomba gender wayang, dan lainnya,” jelasnya.

Sementara itu, tari jauk manis mengisahkan sosok raksasa sebagai raja penguasa hutan yang memiliki karakter lembut. Sedangkan tari legong kuntul menggambarkan kelompok burung kuntul sedang mencari makan di sawah sambil bermain bersama teman-temannya.

Pembina tari legong kuntul, Ni Wayan Ardani mengatakan penari legong yang berjumlah 4 orang termasuk dirinya sebagian besar masih berstatus pelajar. Kendati cukup sulit dan berdurasi panjang sekitar 20 menit, tarian ini berhasil dikuasai tidak lebih dari satu bulan. “Legong memang agak sulit, yang penting pakemnya, intinya sudah tahu, tekniknya sudah tahu, sama daya ingatnya cepat, gampang dah ngapalin tarian,” ujar pembina tari di Sanggar Seni Gayatri ini.

Agar energi tak lekas terkuras, lanjut Ardani, pernafasan diatur sebaik mungkin. Apalagi ada banyak gerakan yang membutuhkan keseimbangan tubuh. “Intinya kita atur nafasnya itu pada saat ada gerak yang memang full mengeluarkan tenaga, disana full. Ada yang gerak agak slow, jangan terlalu diforsir tenaganya,” tandasnya. (rindra/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.