petani
Akibat hujan seharian bibit tembakau yang beru 15 hari ditanam terendam air dan kini terancam mati karena akar dan batanggnya busuk. (BP/mud)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Hujan yang mengguyur Buleleng sejak Senin (12/6) malam hingga Selasa (13/6) malam lalu membuat lahan yang sudah ditanami bibit tembakau tergenang air. Celakanya, bibit yang rata-rata baru berumur 10 hingga 15 hari tersebut sekarang terancam mati. Pasalnya, akar yang masuh muda dan batang kecil mudah membusuk karena tanah terlalu asam akibat kelambaban tanah tinggi. Petani sekarang was-was jika hujan kembali mengguyur, bisa jadi bibit yang sudah ditanam itu mati total.

Musim tanam tahun ini di Buleleng ada sekitar 400 hektar lahan sawah yang ditanami tembakau varietas Virginia dan tembakau rajangan. Lahan seluas itu tersebar di Kecamatan Sawan, Buleleng, Sukasada, dan Kecamatan Gerokgak. Dari seluruh lahan itu, ada sekitar 25 persen lahan sudah ditanami bibit sejak minggu keempat bulan Mei 2017 hingga penanaman berakhir minggu pertama di bulan Juli 2017.

Sejak awal penanaman bibit tembakau cuaca di Bali Utara sangat mendukung. Cuaca itu tiba-tiba berubah dan turun hujan deras seharian penuh. Tak pelak, genangan air hujan itu merendam bibit tambakau yang baru belasan hari saja ditanam. Genangan air di petak lahan itu sulit dialirkan karena volume air besar. Petani tidak bisa berbuat banyak, dan tidak ada pilihan untuk menyiapkan modal tambahan untuk mengganti bibit yang mati akibat akar dan batanggnya membusuk karena terandam air. Bahkan, pasca hujan itu sebagian besar bibit terlihat layu dan petak lahan tampak basah akibat genangan hujan.

Sekretaris Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Bali Agung Adnyana Rabu (14/6) mengatakan, hujan deras yang berlangsung seharian itu tidak bisa diprediksi. Padahal, sejak pertengahan Mei 2017 hingga bulan ini cuaca begitu mendukung, sehingga bibit yang sudah cukup umur langsung ditanam. Sayang, di tengah musim tanam itu, cuaca tiba-tiba berubah hingga sekarang mengancam terganggunya pertumbuhan. Apalagi, dari pengalaman bibit yang baru berumur 10 atau 15 hari setelah tanam rentan mati jika tergenang air sekitar delapan jam. Akan tetapi, hujan yang melanda Buleleng itu hingga satu hari, sehingga kondisi ini dipastikan akan mengakibatkan bibit akan mati karena akar dan batanggnya busuk. “Dari kemarin (Selasa 13/6-red) banyak kawan-kawan petani melapor bibitnya tergenang air. Bahkan banyak bibit yang layu karena akar dan batanggnya terendam air dalam waktu lama,” katanya.

Baca juga:  Lebih Menguntungkan, Peternak Pilih Pembibitan Babi

Menurut pria yang juga sebagai petani tembakau ini, mencegah kematian yang lebih banyak perlu dilakukan pengeringan areal tanam khsusnya pada lokasi lubang yang sudah ditanami bibit. Pengeringan ini dilakukan dengan membubuhkan kapur dolomit yang berfungsi mengembalikan tingkat kelembaban tanah, sehingga akar dan batang bisa kembali tumbuh normal. Selain itu, petani juga hasrus memperbaiki saluran air pada petak lahan, sehingga jika kembali hujan arinya bisa menggalir dan tidak lagi menggenang di areal petak lahan.

“Itu untuk mengantisipasi dan menyelamatkan bibit yang sudah ditanam, tapi kalau yang udah layu apalagi busuk tidak bisa melakukan upaya lain kecuali harus menanam bibit baru dan ini jelas akan menambah modal karena petani kembali membayar ongkos tanam dari pekerja,” tegasnya. (mudiarta/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.