tarif
Kapal ferry sandar di Pelabuhan Ketapang, Kabupaten Banyuwangi, Selasa (14/3) sore. (BP/dok)
NEGARA, BALIPOST.com – Dampak cuaca buruk yang terjadi di Selat Bali mengharuskan jalur penyeberangan di Ketapang-Gilimanuk menerapkan sistem buka tutup. Seperti yang terjadi pada Senin (12/6) malam. Pelabuhan sempat ditutup selama lebih dari satu jam karena hujan deras dan angin kencang.

Dampak buruknya cuaca, sempat terjadi penumpukan kendaraan yang hendak menyeberang ke Ketapang di Pelabuhan Gilimanuk. Sejak dibuka pukul 19.49 Wita sejatinya arus kendaraan masih normal. Namun sejam kemudian hingga pukul 22.00 Wita, kendaraan yang masuk ke Pelabuhan Gilimanuk meningkat.

Parkir di dalam pelabuhan dipenuhi kendaraan baik mobil pribadi, bus dan truk, Lantaran parkiran tidak dapat menampung, kendaraan yang antre hingga keluar loket tiket pelabuhan Gilimanuk. Puncaknya pada pukul 00.00 Wita, ekor antrean hingga dua kilometer atau di depan Pura Dalem Gilimanuk.

Antrean ini dipicu banyak kapal yang berlayar lambat lantaran dampak cuaca buruk dengan arus yang deras. Selain itu, juga dipicu kendaraan barang khususnya truk yang datang bersamaan setelah bongkar muatan.

Baca juga:  Warga 51 Desa Diminta Tak Ngungsi, Ini Kata Mereka

Kepala Unit Pelaksana Pelabuhan Kelas III Gilimanuk, Made Astika mengatakan dampak cuaca buruk yang terjadi di Selat Bali ini pihaknya mengimbau pada para nahkoda diminta untuk berhati-hati dan waspada. Keselamatan pelayaran diutamakan, tidak hanya mengejar waktu dan penumpang.

Sementara itu, dari prakiraan cuaca di pesisir selatan Jembrana dan Selat Bali akan mengalami kondisi cuaca buruk hingga Agustus. Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jembrana Rahmat Prasetia Selasa (17/6) mengatakan, dari prakiraan kecepatan angin hingga bulan Agustus mendatang dari 5 sampai 15 knot dengan tinggi gelombang 0,5 sampai 2 meter.

Selain itu potensi hujan ringan sampai sedang dengan tinggi gelombang  0,5 sampai 2 meter juga terjadi di pesisir selatan Jembrana dan Selat Bali. Kendati cuaca buruk dengan angin kencang disertai gelombang tinggi, tidak terjadi setiap hari. Hal ini menurutnya perlu diwaspadai khususnya bagi pelayaran. (Surya Dharma/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.