pelaku
Selain menderita gangguan jiwa, I Wayan Agus Arnawa juga bisu sehingga menyulitkan pemeriksaan oleh polisi. (BP/nik)

GIANYAR, BALIPOST.com – Selain memiliki riwayat gangguan jiwa, pelaku pembunuhan, I Wayan Agus Arnawa (22), juga bisu. Untuk itu polisi mengalami kesulitan untuk melakukan pemeriksaan. Polisi pun akan mendatangkan penerjemah dari sekolah luar biasa (SLB), untuk membantu proses pemeriksaannya.

Minggu (11/6), Kapolsek Payangan, AKP Gede Endrawan mengatakan, selama ini pelaku pembunuhan Ni Wayan Uyut ini cukup koperatif ketika diajak berkomunikasi. Namun karena ia mengalami kebisuan, pelaku hanya bisa berkomunikasi dengan menggerakan dua tangan dan badannya. “Untuk berkomunikasi dengan orang lain hanya menggunakan cara itu. Selama ini dia (pelaku, red) ini tidak pernah sekolah (SLB, red). Dia juga tidak bisa menulis, makanya kami perlu menunggu penerjemah,” ucapnya.

Dengan kndisi ini polisi pun berencana mengundang penerjemah bahasa dari SLB pada Senin (12/6) hari ini. Nanti apa yang dilontarkan si penerjemah akan langsung di tuangkan dalam BAP. “Setelah di BAP, mungkin akan langsung dibawa ke RSJ. Begitu saja prosedurnya untuk orang gangguan jiwa,” ujarnya.

Kapolsek mengatakan selama mencoba berkomunikasi, pelaku disebut sudah mengetahui alasannya harus berada di kantor polisi karena telah membunuh nenek buyutnya dengan cara ditikam. Disinggung apakah pelaku merasa menyesal membunuh korban, Endrawan mengaku tidak paham sejauh itu. “Sama orang begitu, harus santai kami. Ini bukan pelaku pembunuhan yang bisa dibentak-bentak. Harus halus diajak seperti ngobrol,” terangnya.

Baca juga:  Berkabut, Penyeberangan Ketapang - Gilimanuk Buka Tutup

Dikatakan selama diamankan di Polsek Payangan, pelaku lebih banyak ke luar sel tahanan. “Kalau tidur di sel. Tapi kami lebih ke pendekatan, diajak minum, santai,” katanya.

Sementara saat ditemui di lobi Polsek Payangan, pelaku memang nampak berbicara dengan bahasa isyarat tangan. Tanpa berdosa, ia dengan ceria menceritakan pelariannya pasca membunuh nenek buyutnya. Dia menggerakkan tangannya, seolah pergi ke suatu tempat lalu bermain layaknya adegan suami istri. Dalam isyaratnya, pelaku juga mengaku membayar orang yang diajak bermain.

I Wayan Agus Arnawa juga menceritakan sebelum membunuh nenek buyutnya. Tangan kanannya mengacungkan empat jari yang artinya uang. Lalu tangan kirinya mengacungkan jempol. Namun si nenek buyut tidak mau dan hanya memberikan dua jari saja. Ia pun marah dengan berkacak pinggang. Kemudian ia pun mengaku menancapkan sesuatu ke dada kanan nenek buyut. Ia juga memeragakan saat bersusah payah menyeret nenek buyutnya untuk dibuang ke jurang di sekitar 100 meter dari rumahnya di banjar Marga Tengah. (manik astajaya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.