lahan
Musim tanam 2017 ini lahan sawah seluas sekitar 400 hektar ditanami tembakau. Usaha tani ini muncul sejak bertahun-tahun lalu dan sekarang dijadikan komutitas andalan. (BP/mud)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Tembakau merupakan salah satu komuditas pertanian andalan Buleleng. Setiap tahun, petani di Bali Utara menanam tembakau sebagai tanaman sela setelah sawah mereka ditanam padi. Tahun ini, petani di beberapa desa di Buleleng mulai mempersiapakn lahan dan pembibitan tembakau. Diperkirakan, pada Juli 2017 seluruh petani melakukan penanaman pada lahan dengan total luas sekitar 400 hektar.

Sejak budidaya ini dilakoni, petani bekerjasama dengan perusahaan dan difasilitasi Dinas Pertanian (Distan) Buleleng. Sejak kemunculannya, petani menanam tembakau jenis Virginia kemudian berkembang menanam jenis White Burly dan tembakau rajangan. Pengembangan varietas ini tidak lepas karena petani berusaha memenuhi tuntutan konsumen tembakau di luar daerah.

Beberapa tahun terakhir budidaya tembakau di Bali Utara terganjal oleh persoalan hingga mengakibatkan produktifitasnya berfluktuasi. Seperti tahun 2016 yang lalu, akibat cuaca yang tidak mendukung produksi anjlok dan petani menelan kerugian besar. Meski merugi di tahun lalu, akan petani tidak putus asa dan tahun ini mereka kembali meminjam modal untuk menanam tembakau.

Dari total luas lahan tembakau pada musim 2017 ini tersebar di Kecamatan Buleleng, Sawan, Sukasada, dan Kecamatan Gerokgak. Dari empat kecamatan itu sebagian besar menanam Tembakau Virginia dan ada sekitar 50 hektar saja lahan yang ditanam Tembakau Rajangan.

Baca juga:  Diduga Serobot Tahura untuk Bangun Ruko, Direktur Perusahaan Diadili

Kepala Dinas Pertanian (Distan) Nyoman Swatantra didampingi Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan Nyoman Partayasa Minggu (11/6) mengatakan, dari luas lahan sekitar 400 hetar itu sekitar 25 persen lahan sudah ditanami bibit tembaku. Penanaman ini sudah dilakukan sejak awal bulan ini dan penanaman berakhir awal Juli 2017 mendatang.

“Usaha ini sangat tergantung cuaca, dan petani kita harus pintar-pintar menerapkan tehnik pertanian. Salah satunya mulai menanam bibit hingga terhindar dari cuaca yang tidak bersahabat atau penyakit,” katanya.

Di sisi lain Swatantra mengatakan, dibandingkan tahun 2016, luas lahan yang ditanami tembakau terjadi penurunan. Dari kajian dan pengumpulan data di lapangan penurunan lahan tembakau diperkirakan sekitar 15 persen dari luas lahan setahun lalu. Beberapa petani memutuskan tidak menanam tembakau pada musim tahun ini karena khawatir cuaca tidak mendukung kembali terjadi seperti pada musim tanam 2016 yang lalu.

Selain itu, karena setahun lalu petani menelan kerugian besar, sehingga tahun ini mereka tidak memiliki modal untuk menanam tembakau. “Kita tidak bisa memaksakan, karena pengalaman musim tanam tahun lalu itu petani kita merugi, sehingga tahun ini mereka menunda menanam dan terjadi penurunan areal sekitar 10 hingga 15 persen dari luas lahan tahun-tahun sebelumnya,” tegasnya. (mudiarta/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.