BANJARNEGARA, BALIPOST.com – Dipasarkan secara online, Dieng Culture Festival (DCF) yang digelar 4-6 Agustus 2017 tiket masuknya sudah ludes terjual. Helatan ke-8 yang diselenggarakan Komunitas Pokdarwis Dieng Pandawa desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah ini akan digelar di Kompleks Candi Arjuna, Dataran Tinggi Dieng.

Ketua DCF ke-8 Alif Fauzi mengatakan, tiket untuk Dieng Culture Festival ke-8 tersebut sudah habis dipesan di website dieng.id. Tiket untuk tiap orang untuk tahun ini dipatok Rp 300.000, naik Rp 50.000 dari tahun sebelumnya. Kendati harga naik, atensi wisatawan melihat acara ini terbilang tinggi.

“Kami sudah tidak memiliki tiket DCF lagi alias sold out. Tetapi masih ada travel agen yang jual dan di website ITX. Tahun lalu, juga sama, dua bulan sebelum gelaran, tiket telah habis dipesan. Tiket Homestay yang ada juga hampir penuh dipesan para pengunjung, uang tiket yang dibayarkan, pengunjung nantinya akan bisa mengikuti seluruh rangkaian acara. Dari tiket itu, wisatawan akan mendapatkan suvenir, lampion, dan kaus Dieng,” ujar Alif di Banjarnegara, Jumat (9/6).

Lebih lanjut Alif memperkirakan even tahun ini akan ada 120 ribu pengunjung selama festival berlangsung. Berbagai event dalam festival disiapkan, seperti Harmoni Jiwa dan Jazzatasawan tanggal 4 Agustus, kemudian Festival Budaya dan Lampion pada 5 Agustus.

“Selain menikmati pertunjukan dan atraksi dalam Festival Dieng, para wisatawan dapat mengeksplorasi keindahan alam di Dataran Tinggi Dieng seperti sunrise, fenomena alam saat kawasan Candi Arjuna berselimut kabut di pagi hari, keindahan telaga warga, dan Kawah Sikidang, serta berbagai lokasi wisata alam lain yang tersebar di Dataran Tinggi Dieng,” ujar Alif

Sebagai penutup festival, lanjut Alif, penyelenggara menyuguhkan acara ritual cukur rambut anak gembel pada 6 Agustus 2017. Sebuah fenomena langka yang hanya ada di Dataran Tinggi Dieng. Dimana anak dengan rambut gembel (menggimbal), dipercayai sebagai titisan leluhur Dieng dan hanya bisa dicukur rambutnya melalui ritual khusus dengan segala permintaan anak yang harus dipenuhi.

Baca juga:  Kampung Batik Giriloyo, Pesona Batik dan Pecel "Mbang Turi"

Deputi Pengembangan Pemasaran Pariwisata Nusantara, Esthy Reko Astuti mengapresiasi penyelenggaraan DCF 2017 yang memberi dampak positif bagi perekonomian Banjarnegara dan Wonosobo. Menurutnya perputaran uang saat DCF diprediksi sangat fantastis. Diyakini mampu mendatangkan Rp 45 miliar. Dan semuanya, langsung dirasakan masyarakat Dieng dan sekitarnya.

“Antusias wisatawan sangat besar. Sejak jauh-jauh hari wisatawan mancanegara sudah beli paket khusus DCF sudah membeli tiket. Mayoritas wisatawan berasal dari Singapura, Malaysia, Jepang, Australia dan beberapa negara Eropa. Dan sampai hari ini, paket yang disediakan habis terjual,” ujar Esthy.

Menpar Arief Yahya selalu menyebut setiap event berskala internasional itu memiliki dua impact yang positif buat pariwisata nasional. Dia namanya direct impact, atau pengaruh langsung atas event itu, seperti wisman dan wisnus yang langsung membelanjakan uangnya di lokasi.

“Ada yang indirect impact, yang biasanya berupa potential repeaters, dan media value. Akan ada banyak media di seluruh dunia yang meliput dan melaporkan sukses itu, dan menjadikan promosi yang kuat. Media value ini bisa dihitung angkanya, dan biasanya nilainya lebih besar,” kata Arief Yahya.

Event seperti Festival, Sport Event, Meetings, Incentives, Conferences, Exhibitions itu adalah bagian dari Man Made. Atraksi yang sengaja dibuat agar orang datang dan berwisata. “Kontribusi Man Made itu adalah 5%, sisanya nature atau alam 35% dan culture atau budaya 60%. Meskipun 5% tapi itu penting karena ada actions yang kelihatan dan nyata,” kata Menpar yang asli Banyuwangi itu. (kmb/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.