Korem 163/Wira Satya menggelar kegiatan pembinaan Keluarga Besar TNI (KBT) di Aula Makorem, Denpasar. (BP/rah)
DENPASAR, BALIPOST.com – Berbagai ancaman melanda Bali sebagai salah satu dampak negatif kemajuan pariwisata, diantaranya peredaran narkoba dan lunturnya nilai-nilai nasionalisme. Jika kondisi ini tidak diantisipasi maka 20 tahun ke depan, Bali rawan krisis kader pemimpin berkualitas.

“Harus diantisipasi seperti bahaya narkoba, perilaku seks bebas yang menyebaban HIV/AIDS, budaya asing yang tidak cocok harus difilter. Munculnya kembali politik identitas akhirnya terjadi perkelahian antar kelompok, geng dan kampung. Ini yang harus dihindari karena kita tidak mau 20 tahun ke depan tidak memiliki kader-kader pemimpin yang bagus,” tegas Danrem 163/Wira Satya Kolonel Arh. I Gede Widiyana, S.H., usai membuka kegiatan pembinaan Keluarga Besar TNI (KBT) di Makorem, Selasa (6/6).

Menurutnya, kegiatan ini dilaksanakan untuk memelihara dan meningkatkan keeratan hubungan antara prajurit TNI AD dengan KBT untuk kepentingan pertahanan negara. Dengan demikian terwujudnya pemahaman dan kesamaan persepsi. Selain itu terjalin kerja sama yang erat dalam upaya meningkatkan kepedulian dan kepekaan masyarakat terhadap aspek geografi, demografi agar terciptanya kondisi yang dinamis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara yang tercemin dalam sikap dan perilaku yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Baca juga:  Terlibat Kasus Ganja, Nanang Dihukum 13 Tahun Penjara

Perkembangan situasi nasional saat ini masih diwarnai berbagai gejolak dan tindak kekerasan akibat dari lunturnya nilai-nilai nasionalisme di kalangan masyarakat. Akibatnya kondisi itu berpotensi terjadinya konflik horizontal yang dapat mengarah kepada disintegrasi bangsa.

Hal ini dapat dicegah dengan cara memberdayakan dan mengoptimalkan peran KBT dalam setiap penanganan permasalahan yang terjadi di wilayahnya masing-masing. “Kegiatan ini penting dilaksanakan untuk membentuk jaringan karena generasi muda merupakan sumber-sumber informasi. Mereka juga jadi agen-agen untuk perubahan, minimal di lingkungan dia kuat, keluarga dan menularkan ke tetangganya diharapkan akan terbentuk hal-hal positif,” ujarnya.

Pihaknya tidak bisa bergerak sendiri, sedangkan masyarakat bisa langsung menyentuh sumber permasalahan. Pembinaan seperti ini akan dilakukan kepada semua komponen masyarakat, khususnya keluarga besar Korem dan mereka harus diperdayakan.

Apalagi sekarang generasi muda dibayangi ancaman tidak langsung yaitu untuk merusak calon pemimpin bangsa. Targetnya Indonesia 20 tahun ke depan tidak memiliki pemimpin bagus. “Alangkah kecewanya generasi kami jika harapan generasi muda yang bisa melanjutkan perjuangan kami malah lemah,” ungkap mantan dosen Sesko TNI ini. (Kerta Negara/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.