DENPASAR, BALIPOST.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali bekerjasama dengan National Critical Care and Trauma Response Centre (NCCTRC) Australia menggelar pelatihan Major Incident and Medical Management Support (MIMMS) bagi tim medis di Bali dan BPBD di Bali pada Selasa (30/5). Pelatihan dilaksanakan selama tiga hari, dari 29 hingga 31 Mei.

Koordinator NCCTRC, Di Brown Faculty mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah agar tim medis penanggulangan bencana di Bali lebih siap dalam menangani bencana. Oleh karena itu, kegiatan ini bukan hanya diikuti oleh BPBD tapi juga pemadam kebakaran dan pihak terkait lainnya. “Bukan karena tidak kompeten. Tapi pelatihan ini adalah kegiatan regular yang dilakukan di Australia dan menurutnya baik dilakukan di Bali,” ujarnya.

Selain Bali, pelatihan ini juga dilakukan di New Zealand, South Pacific, Kamboja, dan lainnya. Pelatihan ini juga dilakukan di negara tersebut bukan karena banyak warga negara Australia di sana tapi karena memang telah terjalin hubungan baik antara Australia dengan negara-negara tersebut, termasuk Indonesia.

Kepala BPBD Provinsi Bali, Dewa Made Indra mengatakan, simulasi ini merupakan penerapan teori yang telah didapatkan di dalam kelas. Seperti teori penanganan korban, tidak hanya individual tapi oleh sistem, baik insiden bom, kecelakaan pesawat, dan bencana.

Penanganan insiden ini harus oleh tim yang terintegrasi dengan baik, mulai dari tim lapangan yang mengidentifikasi korban, memilah korban yang emergensi, termasuk juga manajemen ambulans, fasilitas kesehatan yang dituju. “Pencatatannya harus bagus, sampai penanganannya di rumah sakitnya sendiri,” ujarnya.

Baca juga:  Diduga Karena Ini, DJ Asal Australia Tewas

Pelatihan ini diikuti 25 orang dari instansi-instansi yang pasti terlibat bila terjadi insiden. Seperti RSUP Sanglah, RS di lingkungan sarbagita, RS Polda Bali, tim DVI Polda Bali, Kesdam, PMI, pemadam kebakaran, BPBD, dan Kesehatan Pelabuhan. Ditambah tim dari Australia berjumlah 13 orang.

Insiden yang paling diantisipasi di Bali adalah bom. Karena Australia mempunyai pengalaman buruk pada bom Bali 1. “Mereka lebih fokus disana sih, bagaimana penanganan kalau terjadi bom. Kan biasanya situasinya chaos. Pengalaman penanganan bom Bali yang pertama penanganannya agak chaos sedikit. Tidak didukung oleh manajemen insiden yang baik,” jelasnya.

NCCTRC yang berlokasi di Darwin ini merupakan institusi yang menagani kasus kesehatan kritis dan trauma. “Seperti bom Bali dulu kan banyak korbannya, tidak bisa ditangani disini. Mereka meragukan sistem penanganan medis kita disini, maka mereka ambil warganya bahkan warga negara Indonesia ada yang dibawa ke Darwin, karena Darwin yang terdekat,” pungkasnya.

NCCTRC juga mempunyai kepentingan memberikan pelatihan kepada tim penanganan bencana Bali karena warga negara Australia banyak di Bali. “Orang Darwin banyak sekali disini. Dari segi jarak juga lebih dekat. Darwin-Denpasar jauh lebih dekat ketimbang Darwin ke ibukota Australia,” tandasnya. (Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.