wisata
Petani memetik kopi di Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. (BP/udi)
BANYUWANGI, BALIPOST.com – Potensi wisata di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur (Jatim) terus dikembangkan. Salah satunya, desa wisata kopi di Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro. Di desa ini terdapat perkebunan kopi, luasnya mencapai 550 hektar. Dari luas tersebut, sekitar 330 hektar milik rakyat.

Menuju desa tersebut, pengunjung akan menikmati jalanan yang berliku, menanjak, khas pegunungan. Sepanjang jalan hamparan kebun kopi. Saat musim kopi tiba, di setiap rumah akan terhampar jemuran kopi. Menimbulkan aroma khas tersendiri.

Di desa ini terdapat Omah Kopi. Rumah bergaya Suku Using itu, menjadi sentra pembuatan kopi rakyat. Tidak hanya pembuatan kopi, di sekitarnya juga terdapat pembuatan gula merah, dan songkok dari anyaman bambu.

Maklum saja, Telemung tidak hanya menghasilkan kopi, namun juga memiliki potensi lainnya seperti aren (gula merah). Selain bisa menikmati kopi rakyat, pengunjung bisa membeli oleh-oleh gula merah serbuk, dan kerajinan anyaman bambu.

Khusus kopi, sekolah di desa diminta memasukkan pelajaran terkait pengolahan kopi. Sekolah diimbau mendatangkan ahli kopi untuk mengajarkan ilmunya. Mulai dari memetik, memilih, menjemur, hingga menyangrai kopi. Untuk awal, guru-gurunya terlebih dahulu yang dilatih. Setelah itu, guru mengajarkan pada siswanya.

Baca juga:  Kembangkan Sektor Lain yang "Inline" Pariwisata

“Anak dari pengusaha kopi yang sukses di Telemung, bisa membawa kopi ke sekolah. Kopi tersebut digunakan bahan pembelajaran bersama bagi siswa, bagaimana cara menjemur kopi, sampai menyangrai dengan benar. Itu nanti akan diberlakukan di SD dan SMP, jadi sejak dini anak sudah tahu kualitas pengolahan kopi yang baik,” kata Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Pelajaran kopi ini juga bisa dijadikan materi ekstra kurikuler di sekolah. Tidak hanya kopi, Telemung juga memiliki potensi lainnya seperti aren (gula merah), hingga kopiah dari anyaman bambu. Bahkan, warga Telemung telah memproduksi kopiah berbahan dasar bambu. Produk songkok anyaman bambu ini tersebar hampir seluruh Jawa, Sumatera hingga Sulawesi. (budi wiriyanto/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.