SINGARAJA, BALIPOST.com – Pujawali di Pura Dalem Desa Pakraman Munduk Bestala, Kecamatan Seririt nampak berbeda dengan daerah lain. Persiapan yang dilakukan krama tak hanya terbatas pada sarana upacara saja. Namun juga melakukan hal unik, yakni membuat Togog Pemaon di dapur.

Disamping sebagai simbol Lingga Yoni, patung itu diyakini memiliki fungsi penolak bala. Togog ini sangat sederhana. Hanya terbuat dari tanah. Tidak ada ukiran layaknya togog yang lumrah terpasang pada bangunan pura.

Posisi dua togog ini duduk berdampingan dengan kemaluan yang terlihat. Sekilas, itu tak memiliki makna apa-apa. Bagi orang awam, kemungkinan hanya dianggap sebagai ungkapan seni saja, bahkan mengarah pada kesan porno.

Menurut penjelasan Ida Bawati Putu Nata, Minggu (21/5), sebagai penganut Hindu Siwa Sidanta yang mengagungkan Siwa, togog ini merupakan simbolis Lingga dan Yoni. Akan tetapi, dalam masyarakat, simbol itu dibiaskan menjadi sebuah seni dan budaya. “Kemungkinan zaman dulu tidak ada pura. Pemujaan hanya dengan lingga yoni. Dalam masyarakat, itu dibiaskan sebagai sebuah seni yang ditunjukkan dengan togog ini,” jelasnya.

Baca juga:  Jelang Putusan, Winasa Dijenguk Belasan Warga

Meskipun memperlihatkan kesan porno, masyarakat meyakini togog yang dibuat spontan oleh sejumlah krama itu sebagai penolak bala. Karena erat kaitannya dengan upacara, itu juga diplaspas dan dipralina. “Kalau misalnya ada krama yang marah, saat suruh melihat itu, tidak jadi marah. Justru tertawa. Bisa dikatakan itu juga sebagai penghibur,” ungkapnya.

Togog itu, sambung Ida Bawati, selalu ada dalam Pujawali di pura lingkungan desa maupun saat upacara besar yang diselenggarakan warga, salah satunya otonan lengkap dengan guling babangkit. “Kalau upacara nista dan madya tidak ada,” katanya.

Upacara pujawali di desa yang berlokasi di dataran tinggi ini juga memiliki keunikan lain. Dalam pura juga terpasang baling-baling. Itu bukanlah untuk tontonan. Tetapi sebagai simbolis pemikiran pemimpin sejalan dengan krama. “Kalau baling-baling kan kepalanya berputar. Ekornya mengikuti. Kalau pemimpin harus satu komando dengan warganya,” tegasnya.

Selain itu, ada juga bunyi sunari yang sangat halus. Melambangkan suara alam yang memberikan wahyu pada pelaksanaan upacara. “Dipangkal sunari juga ada togog monyet yang melambangkan kembali ke Dewa Bayu,” tandasnya. (Sosiawan/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.