lumba-lumba
Nelayan memarkir perahunya usai melaut. (BP/dok)
SEMARAPURA, BALIPOST.com – Keberadaan lumba-lumba di sekitar perairan Klungkung berdampak buruk terhadap hasil tangkapan nelayan. Selain menghabiskan ikan tangkapan, sering sekali lumba-lumba menyerang jaring nelayan yang telah menangkap ikan. Hal ini pun menjadi pertimbangan para nelayan untuk berhenti melaut sementara waktu.

Nelayan Pantai Kusamba, Wayan Karinu mengaku beralih profesi menjadi buruh angkut barang. Pasalnya, hasil tangkapan ikan para nelayan akhir-akhir ini menurun drastis bahkan ada nelayan yang pulang tanpa ikan seekor pun. “Ini sudah terjadi sejak dua tahun yang lalu. Setiap tahunnya jumlah lumba-lumba terus bertambah jumlah tangkapan kami terus menurun,” ungkap Wayan Karinu saat bercengkrama di Pantai Kusamba, Rabu (17/5).

Setiap melaut, nelayan harus mengeluarkan biaya bahan bakar sebesar Rp 200 ribu. “Jaring sering dirusak lumba-lumba kalau kami berhasil menangkap ikan. Ikan-ikan yang berhasil kami tangkap habis dimakan dan ada pula yang lepas. Jadi kami memilih tidak melaut,” katanya.

Baca juga:  Memancing di Perairan Klatakan, Meninggal Terseret Arus

Saat tidak melaut dia mengaku menghabiskan waktunya dengan bercengkrama dengan sesama nelayan di pinggir pantai sembari memperbaiki alat tangkapnya. Namun ada pula nelayan yang memilih untuk mejadi buruh angkut barang atau jukung. Pasalnya penghasilan buruh angkut barang di Pantai Kusamba cukup menggiurkan. Satu orang buruh angkut bisa mendapat penghasilan sebesar Rp 100 ribu untuk setengah hari saja. “Karena kerjaan sebagai buruh angkut barang di Kusamba cukup berat. Apalagi kalau gelombangnya besar, semakin berat untuk mengangkut barang ke sampan,” terangnya.

Banyaknya nelayan yang tidak melaut berdampak pula pada peredaran ikan di pasaran. Menurutnya ikan-ikan yang dijual di Klungkung saat ini lebih banyak di datangkan dari Karangasem dan Jawa. Ikan yang didatangkan dari Karangasem merupakan ikan segar namun untuk ikan yang didatangkan dari Jawa merupakan ikan beku. “Di pemindangan saat ini lebih banyak menggunakan ikan beku dari Jawa,” ujarnya. (dewa farendra/balipost)

 

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.