Para narasumber yaitu Erlinda (kiri), Deddi Hardiawan (dua dari kiri), Ahmad Rizali (dua dari kanan), dan Dharmaningtyas (kanan) saat diskusi soal pendidikan berasrama di Jakarta, Selasa (16/5). (BP/son)
JAKARTA, BALIPOST.com – Pendidikan asrama akan mampu melahirkan anak dengan karakter dan pribadi unggul, karena mereka sejak awal telah ditempa keberagaman dan disiplin yang ketat. “Interaksi intensif itulah yang membentuk karakter orang yang tinggal di asrama menjadi orang yang teratur, disiplin, patuh pada aturan, dan memiliki semangat korsa yang tinggi,” kata Staf Pengajar FEB UI Deddi Hardiawaan dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (16/5).

Diskusi Publik bertajuk Peran Sekolah Berasrama dalam Membentuk Karakter Pribadi Unggul yang Berjiwa Kebangsaan dan Kebhinnekaan menghadirkan sejumlah pembicara antara lain Ahmad Rizali, Pendiri Sekolah Berasrama Internat Alkausar Parung Kuda Sukabumi, Staf Khusus Mendikbud bid Pendidikan 2014/2016, Dharmaningtyas, Taman Siswa, Pengamat Pendidikan, Arie S Budiman, Staf Ahli Mendikbud Bid Revolusi Mental, dan Erlinda, Komisioner & Kadiv Sosialisasi KPAI.

Deddi mengatakan, sistem pendidikan berasrama memungkinkan terjadinya interaksi intensif antara murid dengan guru, murid dengan murid, maupun murid dengan pembimbing asrama. Pilihan model pendidikan berasrama, kata dia, umumnya didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan tertentu, terutama terkait dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada murid, yang diyakini bahwa nilai-nilai tersebut sulit terbentuk bila tidak berasrama. Di antara nilai-nilai itu adalah kedisiplinan, kepatuhan, kejujuran, kekompakan, kebersamaan, tanggung jawab, solidaritas, dan empati.

Baca juga:  Tanamkan Nilai Nasionalisme dan Patriotisme Sejak Dini

Sementara Ahmad Rizali menilai, fungsi asrama lebih pada pembentukan karakter anak, sehingga ketika lulus dari sekolah tersebut anak tersebut menjadi sosok yang prima dan handal (trampil dan trengginas). Bagi penyelenggara sekolah berasrama lebih mudah membentuk karakter.

Tetapi ada juga tantangannya. Rizali mengatakan, tantangannya adalah bagaimana mewujudkan model pendidikan yang egaliter, tidak eksklusif, dan tidak melahirkan generasi yang berjarak dengan realitas sosial, karena ada kecenderungan, eksklusivitas itu berimplikasi pada pengambilan jarak dengan realitas, realitas sosial dianggap sebagai urusan pihak lain.

Sementara Dharmaningtyas mengatakan, agar sekolah-sekolah berasrama itu mampu membentuk karakter pribadi unggul yang berjiwa kebangsaan dan kebhinnekaan, maka selain pembacaan sejarah perjuangan itu mutlak dilakukan, pelajaran sastra menjadi wajib, karena sastra akan berperan dalam penghalusan jiwa manusia tanpa bersifat dogmatis. “Jadi kuncinya adalah model pendidikan yang dikembangkan, terutama melakui kurikulum yang tersembunyi, bukan kurikulum yang diajarkan dan diujikan,” paparnya. (Nikson/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.