SEMARANG, BALIPOST.com – Setelah terbentuk tiga bulan lalu, Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Jawa Tengah makin agresif bergerak. Anak-anak muda ini makin dinamis dan sudah menjadi “selebriti baru” di kalangan netizen Jawa Tengah. Mirip media mainstream, sudah mulai banyak undangan-undangan baik dari lembaga pemerintah maupun swasta. 

Sebagai volunteer kampanye destinasi wisata, event dan festival, serta kebijakan kepariwisataan, ruang gerak GenPI semakin signifikan. Spirit pariwisata sebagai core economy bangsa dan leading sector, oleh Presiden Jokowi itu cukup berefek di level grassroad.

Untuk manajamkan misinya itu, Jumat (12/5), anak-anak Genpi Jateng berkumpul di “Radja Pendapa Camp”, Desa Segrumung, RT 04/RW 04, Meteseh, Kecamatan Boja, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Di lokasi camping, outbond dan trekking yang bersebelahan dekat hutan karet itu, mereka ngobrol ide-ide kreatif bersama Stafsus Menpar Bidang Komunikasi, Don Kardono.

“Setelah terbangun, kami terus bergerak, dan nyata. Selain volunteer wisata di medsos, juga aksi nyata. Kami juga mempromosikan homestay di Salatiga, yang sampai trending topic di twitter. Kami selalu jadwalkan kopi darat, agar semakin solid,” kata Shafigh Pahlevi Lontoh, Ketua Genpi Jateng.

Kampanye medsos sudah banyak mereka lakukan dengan sukses. Yang terbaru memviralkan event Semarang Bergerak Bersama dan Semarang Nigt Carnival (NSC). Gelaran akbar dalam rangka HUT Kota Semarang itupun tranding topic nasional twitter maupun  facebook dengan menyebar hastag #SNC2017 dan #BergerakBersamaConcert.

Begitupun dengan event-event Borobudur dan lainya. Untuk kegiatan nyata di masyarakat, belum lama ini juga ambil bagian menerjunkan anggota Genpi pawai bersama komunitas lain di rangkaian acara HUT Kota Semarang.

“Yang terbaru kami mendatangi kampung wisata atau kampung warna warni di Desa Bejalen Ambarawa. Kami mendampingi masyarakat untuk mengembangkan obyek wisata dari sisi kemasan, manajemen, dan marketingnya,” imbuh penggiat Event Organizer (EO) ini.

Kumpul-kumpul di Radja Pendapa Camp itupun, dalam rangka menggali ide, terutama menyambut bulan Ramadhan. Menurut Don Kardono, panggilan akrab Stafsus Menpar  Bidang Komunikasi yang bernama asli Muh Noer Sadono itu, anak-anak Genpi juga harus berperan aktif mengkampanyekan program Kemenpar di medsos.

Baca juga:  Kemenpar Gelar Workshop Penyelarasan Kemitraan Program Co-Branding di Bandung

Lebaran tahun lalu, Kemenpar membuat hastag #PesonaKuliner #PesonaLebaran. Isinya tiga fokus pemberitaan di 50 kota, yaitu tentang destinasi, kuliner, dan agenda event pre on post Lebaran. “Lebaran tahun ini Pak Menpar Arif Yahya punya ide, hastagnya #PesonaLebaran #PesonaKuliner dan #PesonaRamadhan,” papar Don.

Anak-anak GenPI pun menyambut antusias. Siap mengkampanyekan tiga hastag tersebut menjadi tranding topic. “Dengan follower yang baru 500-an orang, Genpi siap kampanye di semua medsos ,” kata Shafigh.

Ngobrol-ngobrol Radja Pendapa itu juga mengingatkan 4 KSPN di Joglosemar, Jogja Solo Semarang. Yakni Borobudur, Dieng, Sangiran, dan Karimunjawa. “Sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, harus disupport dengan promosi. GenPI bisa punya peran lebih kuat sebagai community sekaligus media sosial,” kata Don.

Don juga menyarankan Genpi Jateng segera punya website. Itu penting untuk wadah publikasi/pemberitaan kegiatan Genpi baik dalam bentuk foto, berita, maupun video. Selain itu juga sarana kampanye konten destinasi, kuliner, dan lainya yang ada di Jateng.

“Misal menampilkan 10 top destinasi Jateng yang wajib dikunjungi, atau 10 top kuliner Semarang yang menggoyang lidah. Genpi harus punya, dibuat saja yang versi Genpi. Apa saja silahkan diexplore,” saran Don. Buat forum Pentahelix yang secara periodik berjumpa, bisa di darat maupun udara dengan live streaming.

Forum inilah yang bisa merekomendasi apa saja dari para Akademisi (A), Budiness (B), Community (C), Government (G), Media (M).

Dalam kopi darat di Radja Pendapa Camp itu, anak-anak Genpi mendapat sambutan istimewa , kuliner Sego Bancakan, yang lagi nge-hits. Di tata di atas meja kayu panjang, masakan Jawa, empat kacam sambal, tiga macam kerupuk kriuk, ayam, telor, tempe, tahu,  gudangan, langsung diserbu di tengah kebun.

Menurut peraciknya, Mr Rere, ini namanya Nasi Bancakan, atau Nasi Gotong Royong. “Filosofinya, kebersamaan, satu meja, satu lembar daun pisang, satu semangat, satu jiwa! Togetherness, seperti GenPI!” ucap Rere menjelaskan kuliner khas Jawa di bawah joglo yang juga khas Jawa. (kmb/balipost)

BAGIKAN

1 KOMENTAR

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.