Bekraf Indonesia menggelar Bekraf Digital Talent untuk menjembatani pengembangan aplikasi digital sebagai bagian dari ekonomi kreatif. (BP/ist)
DENPASAR, BALIPOST.com – Bali ternyata dijadikan incaran lokasi perusahaan IT. Buktinya, banyak perusahaan IT di Bali dimiliki orang luar negeri, seperti diungkapkan Deputi Infrastruktur Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), Hari Santosa Sungkari, Minggu (7/5).

“Ternyata perusahaan IT di Bali beberapa milik orang luar negeri, tapi mereka mendirikannya di Bali. Dan beberapa yang mendirikan di Bali, sumber daya manusianya dari Jawa. Kita juga mau bangun dari Bali,” kata Hari.

Ia mengungkapkan di Bali ada sekitar 1.000 programmer dari 55.000 programmer yang ada di Indonesia. Potensi yang dimiliki Bali, baik budaya, pertanian, tarian, diangkat ke dalam bentuk digital.

Misalnya, aplikasi yang telah dibuat untuk petani agar dapat langsung terhubung dengan pihak konsumen seperti hotel. Tanpa melalui pihak kedua atau ketiga. Sehingga harga yang didapatkan petani menjadi lebih bagus.

Menurutnya beragam potensi itu akan dikembangkan melalui Bekraf Digital Talent. Kegiatan pertama kali yang dilakukan oleh Bekraf ini dimaksudkan untuk mewadahi kreatifitas digital di Bali.

Koordinator Kumpul Coworking Space, Faye Alund, yang nanti akan menjadi mitra Bekraf di Bali dalam Digital Talent mengatakan peserta programmer bisa memilih beberapa modul pembimbingan dari pengembangan android untuk pemula, pengembangan ios untuk pemula, pengenalan google material desain web development menggunakan mode untuk pemula, 2D art. Total mentor dalam sebulan yakni 24 jam, dengan 6 jam dalam seminggu.

Baca juga:  2018, Foodstartup Indonesia Kembali Digelar

“Seleksinya bisa daftar online, tetapi yang daftar jadi harus paham dahulu dasar programming. Siswa SMK komputer bisa daftar kalau SMK tata boga ga bisa, karena harus paham dasar-dasar programming,” jelasnya.

Kepala Bidang Data, Infrastruktur dan Informasi Badan Kreatif Denpasar, Agung Bawantara mengatakan, Bali memiliki potensi industri kreatif yang luar biasa. “Komunitas apa saja ada di Bali dan mereka bekerja mandiri,” katanya.

Selama ini komunitas kreatif mengalami problem, ketika memiliki kreativitas tapi mencari modal dan jaringan tidak ada. Selain itu linkage antara komunitas kreatif dengan pemerintah belum match. “Pemerintah merasa merancang program untuk semuanya, tapi di komunitas kreatif merasa pemerintah tidak peduli dengan mereka,” sebutnya. (Citta Maya/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.