JAKARTA, BALIPOST.com – Sekretaris Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) I Gusti Kompyang (IGK) Manila mengatakan pertahanan negara sudah memasuki tahap mengkhawatirkan. Pasalnya serangan melalui cara-cara nonmiliter, perang informasi dan ideologi yang menyerang mindset (pola pikir)  masyarakat makin masif.

Salah satu bukti kuat adalah maraknya berita hoax dan keinginan dari sekelompok golongan yang memaksakan diri ingin menghantikan Pancasila sebagai ideologi negara. “Saya lihat sepertinya perang secara fisik dengan menggunakan peralatan senjata militer sudah tidak digunakan lagi. Sepertinya diperkirakan oleh Mabes TNI dan Hankam 20-15 tahun lagi itu tidak akan terjadi. Yang terjadi adalah ancaman perang tanpa senjata. Tanpa kekerasan. Bentuknya sosial media, gunakan tekonologi,” kata IGK Manila dalam dikusi bertajuk “Menggalang Ketahanan Nasional untuk Menjamin Kelangsungan Hidup Bangsa,” di Jakarta, Sabtu (6/5).

Diskusi juga menghadirkan Pengamat politik dan pertahanan Saafroedin Bahar. dan bekas Anggota DPR Laode Kamaluddin. Turut hadir Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo.

Saat ini, kata Manila, bangsa Indonesia diadu domba oleh kekuatan asing namun tanpa disadari karena kejahatannya terselubung. “Kita diadu domba tapi tidak ketahuan siapa yang mengadu dombanya. Jadi musuhnya nggak jelas. Yang dirusak ideologi, politik,  sosial budaya, agama , hankam. Bisa masuk ke semua aspek,” kata Manila.

Baca juga:  Ibu dan Anak Tewas Tertimbun Material Longsor, Ini Kronologisnya

Selain berupaya merusak ideologi, persatuan dan kesatuan bangsa juga terancam karena dirusaknya kebhinekaan. “Kebhinekaan itu harus dijaga dan dirajut. Yang terjadi saat ini kbhinekaan yang menjadi pandangan hidup. Bhineka tunggal ika sekarang mau dijadikan satu pemahaman oleh golongan agama tertentu. Itu ancaman,” ujarnya.

Bukan hanya merusak kebhinekaan, Pancasila sebagai pedoman negara juga tengah dirongrong. “Pancasila sebagai pedoman negara juga dimainkan. Yang menggugat eksistensi. Minta Pancasila dievaluasi dan dikaji kembali. Dengan alasan kitab suci saja masih bisa ditafsirkan banyak versi apalagi Pancasila yang cuma buatan orang,” sesalnya.

Ketua Aliansi Kebangsaan Pontjo Sutowo berpendapat, konsep kebangsaan mengalami degradasi makna. Akibatnya, berbagai persoalan mendera bangsa ini. “Kita ini bangsa besar. Mengapa berbagai persoalan seolah tak terselesaikan. Padahal, dengan memahami makna Pancasila dan menguatkan konsep kebangsaan, maka berbagai persoalan bakal terselesaikan,” katanya.

Pontjo mengemukakan, orang sering lupa bahwa kebangsaan adalah sesuatu yang direkayasa. Karena itu, konsep kebangsaan harus terus dipupuk dan dipelihara. “Kebangsaan adalah hasil rekayasa orang. Bangsa adalah bentuk persatuan oleh kelompok orang yang memiliki pemikiran sama. Karena itu, Kebangsaan harus dipelihara,” kata Pontjo. (Hardianto/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.