Industri Kreatif
Mujiono. (BP/ist)
DENPASAR, BALIPOST.com – Industri kreatif akan berdampak baik bagi penyerapan tenaga kerja. Sebab, perkembangan dunia industri ini mampu mencapai 5-6 persen.

Jadi, jika mengembangkan industri kreatif, menurut Kepala Pusdiklat Industri Kementerian Perindustrian Republik Indonesia, Mudjiono, akan diperlukan tenaga kerja sebanyak 600.000 orang per tahun jika dunia industrinya terjaga baik. Namun, yang perlu diingat adalah hanya SDM berkualitas yang dibutuhkan industri semacam ini.

Mudjiono menegaskan, kompetensi tenaga kerja sangat diperlukan, agar tidak tersisih dengan kualitas SDM negara lain. Bali yang berkembang dengan sektor pariwisatanya, bisa fokus menggarap industri kreatif, seperti teknologi informasi beserta bidang-bidang di dalammnya. “Apa yang ada di daerah itu, harus sesuai dengan keperluan dunia industrinya. Jangan sampai seperti di Karawang, Jawa Barat, yang di kawasan itu banyak berkembang industri otomotif, namun serapan tenaga kerja lokal, sangat rendah. Jumlah pengangguran di Karawang cukup tinggi. Jangan seperti itu,” katanya.

Dikatakan Mudjiono, saat ini perkembangan industri telah memasuki generasi IV. Bila pada generasi I masih menggunakan alat manual, kemudian di generasi berikutnya sudah mulai masuk mesin-mesin, dan berlanjut dengan pengoperasian mesin otomatis pada generasi III.

Baca juga:  Sebagian Anggota DPR Dinilai Malas

Generasi saat ini, sudah dilakukan secara online. Perkembangan ini harus diikuti, sehingga semua bisa berjalan dengan baik. Karena industri akan berkembang dengan baik, harus didukung tiga komponen, yakni investor, teknologi informasi, dan SDM yang berkompeten.

Untuk mewujudkan SDM yang berkompeten, kata dia, banyak hal yang bisa dilakukan. Terutama Balai Diklat yang ada di masing-masing daerah. Langkah pertama, yakni memberikan pendidikan yang berbasis industri setempat. Ini dimaksudkan agar selesai belajar, bisa terserap dunia industri.

Mewujudkan hal ini, pihaknya sudah mulai membangun sekolah di sejumlah daerah luar Jawa, yang kurikulumnya sesuai dengan industri yang ada di wilayah itu. Bila sekolah terkait belum ada, Balai Diklat bisa memberikan pelatihan kepada calon tenaga kerja yang ada. Namun, sebelum memberikan pelatihan, tutornya harus kompeten dulu. “Bila perlu sekolahkan mereka ke luar negeri dulu, untuk dapat menghasilkan kualitas lulusan yang baik nantinya,” katanya. (Asmara Putera/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.