Pancasari yang masuk kawasan Buleleng sering dilanda banjir jika turun hujan. (BP/dok)
SINGARAJA, BALIPOST.com – Jalur Bedugul-Singaraja, tepatnya di Desa Pancasari, Sukasada masih kerap terlanda banjir. Meskipun tak separah beberapa bulan lalu, kondisi itu tetap menuai keluhan dari sejumlah masyarakat.

Supaya tak terus berlanjut, anggota DPRD Buleleng, Wayan Indrawan, meminta pemerintah lebih serius melakukan penanganan, khususnya di wilayah hulu yang menjadi sumber datangnya air. Politisi PDI-P asal Pancasari ini mengatakan sejak Desember 2016, setiap hujan, jalur tersebut belum bisa terbebas dari banjir.

Meskipun belakangan volume airnya sudah mulai mengecil, kondisi tersebut masih sering dikeluhkan masyarakat dan pengendara lantaran cukup mengganggu kenyamanan. “Sampai sekarang kalau hujan, pasti banjir. Terutama depan Hotel Pancasari In,” katanya.

Menyikapi itu, diakui pemerintah pusat sudah melakukan penanganan dengan cara mengeruk saluran drainase guna memperlancar aliran air. Akan tetapi, itu dinilai belum mendatangkan hasil maksimal. “Setelah saluran dikeruk, saat hujan kembali tertimbun material. Jadinya banjir lagi,” katanya.

Menurutnya, pangkal penyebab banjir itu bukan sepenuhnya akibat saluran drainase di sepanjang jalan yang berfungsi kurang baik. Tetapi lebih pada saluran kawasan hulu.

Baca juga:  Bom Surabaya, Pemerintah Pastikan Penanganan Korban Berjalan Baik

Oleh sebab itu, pemerintah diharapkan bisa turut membantu melakukan penanganan  yang bersifat panjang. “Penanganan di hulu memang sudah dilakukan. Tetapi hanya pengerukan. Kalau bisa, itu lebih serius. Buatkan sodetan, sebagai pemecah aliran air. Ini penting untuk solusi jangka panjang,” tegasnya.

Salah seorang warga, Gede Parto mengatakan banjir ini sudah menjadi pemandangan klasik saat musim hujan. Masyarakat, khususnya yang bermukim di kawasan hilir sangat dirugikan lantaran air berpotensi merendam rumah dan juga lahan pertanian. “Ini bukan hal baru lalu. Kalau hujan pasti banjir. Ini sangat merugikan warga,” ujarnya belum lama ini.

Banjir itu, sambung dia akibat volume air dari hutan perbatasan Buleleng-Tabanan yang cukup besar. Itu tidak sebanding dengan ketersediaan drainase. Pemerintah pusat diminta segera mencarikan solusi jangka panjang. (Sosiawan/balipost)

BAGIKAN

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.