Pancoran
Pemedek saat melukat di Pancoran Sapta Gangga di Pura Luhur Tamba Waras. (BP/san)
TABANAN, BALIPOST.com – Pura Luhur Tamba Waras yang berlokasi di Kecamatan Penebel memiiliki tujuh pancoran. Pancoran merupakan tempat pengelukatan baru di Pura yang dikenal sebagai tempat berobat sekala-niskala itu. Dulunya ritual pengelukatan dilakukan di Pura Beji.

Pancoran ini dinamakan Pancoran Sapta Gangga. Sejak dibuka untuk umum pada bulan November 2016 lalu sudah ratusan Umat Hindu datang setiap rerainan untuk melakukan ritual pengelukatan.

Pemangku Gede Pura Luhur Tamba Waras, Putu Wijaya menyebutkan, latar belakang pembangunan pancoran Sapta Gangga ini karena ada yang menerima pawisik. Adapun penerima pawisik adalah Nengah Rentaya yang merupakan pengiring Pura Dalem Solo yang berada di Selatan Pura Luhur Tamba Waras.

Umat Hindu yang datang untuk melakukan pengelukatan kebanyakan datang saat rerainan atau pada hari Sabtu dan Minggu. Umat Hindu yang melakukan penglukatan biasanya menderita sakit medis maupun non-medis.

Putu Wijaya menceritakan soal manfaat yang diterima pemedek yang datang melakukan penglukatan di Pura Luhur Tamba Waras. Menurutnya ada warga asal Denpasar beberapa hari lalu melakukan pengelukatan. Pria tersebut akan melakukan operasi batu ginjal, namun tertunda dan dijadwalkan ulang. Sambil menunggu operasi ini, pria tersebut melakukan penglukatan di Pura Luhur Tamba Waras. “Saat melukat itu dirasakan batu ginjalnya keluar, setelah di cek ternyata ginjalnya sudah bersih,” terangnya.

Baca juga:  Tingkatkan Kualitas Pelayanan Pariwisata, Wacana Kontribusi Wisatawan Dimatangkan

Untuk sakit non-medis seperti kena guna-guna atau ilmu hitam, orang yang melakukan pengelukatan akan merasakan mual saat membasuh diri pada pancoran pertama. Selain membasuh diri, masyarakat juga diharuskan meminum air pancoran yang sumbernya berada di kawasan Muncak Sari. “Saat minum air sebanyak tujuh kali biasanya akan merasa mual,” jelasnya.

Saat melakukan pengelukatan, dua orang pemangku akan mendampingan, yakni mangku Wayan Nuadi dan Wayan Januarta. Keduanya, menurut Putu Wijaya memang merupakan pemangku yang bisa melakukan pengobatan alternatif.

Setelah melakukan pengelukatan, umat akan melakukan persembahyangan di Pura Luhur Tamba Waras dengan membawa bungkak. Jika masyarakat mengalamai sakit keras, bisa jadi akan muntah saat melakukan persembahyangan. Setelahnya akan diberikan bungkak yang dicampur minyak dan minyak urut dari Pura. “Jika sakitnya keras biasanya disarankan melakukan pengelukatan lebih dari sekali,” terangnya. (wira sanjiwani/balipost)

2 KOMENTAR

  1. Lokasi nya di pura luhur tamba waras. Banjar sangketan, desa sangketan, kecamatan penebel, tabanan bali.
    Perlengkapan melukat di sapta gangga biasanya membawa kelapa bungkak sebanyak/sejumlah orang yang akan melukat. Dan pejati.

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.