teknologi
Kapten Ovation of the Seas Flemming B. Nielsen saat menjelaskan kecanggihan sistem kemudi dan navigasi kapal pesiar yang dikendalikannya selama enam bulan terakhir. (BP/ian)
SEBELUM kapal pesiar Ovation of the Seas berlabuh di Marina Bay Cruise Center, Singapura, 18 orang jurnalis dari Indonesia yang mengikuti pelayaran Singapura – Penang, Malaysia – Singapura atas undangan Singapore Tourism Board (STB) mendapat kesempatan bertemu dengan kapten kapal dan melongok ruang kemudi kapal.

Sebelum memasuki ruang kemudi, semua dipastikan harus steril, tidak boleh membawa benda jenis metal dan tangan harus bersih. Kendati begitu, para jurnalis tetap diperbolehkan membawa kamera setelah melewati pengecekan terlebih dahulu oleh petugas.

Kapten kapal bernama Flemming B. Nielsen menyambut para jurnalis dengan ramah dan menjelaskan kecanggihan Ovation of the Seas yang dikendalikannya selama enam bulan terakhir. Dikatakan, Ovation of the Seas berada di Singapura selama Maret hingga April 2017. Selama kurun waktu itu, kapal pesiar sepanjang 348 meter, tinggi 18 dek dan bobot 168.666 ton dengan kapasitas 4.180 tamu dan 1.500 awak kapal ini akan melakukan 10 kali pelayaran di Asia Tenggara.

Ada dua rute pelayaran yang ditawarkan, yakni Singapura-Penang-Singapura dan Singapura-Phuket-Singapura. Sementara rute terakhir Singapura-Penang-Singapura akan dilakukan pada 10 April-14 April 2017 mendatang. Setelah pelayaran di Asia Tenggara, Ovation of the Seas akan berlayar ke Tianjin, China dengan waktu tempuh selama 12 hari.

Menurut Flemming B. Nielsen, Ovation of the Seas milik Australia dan dibuat di Jerman dengan harga 1.000 Miliar Dolar AS atau sekitar Rp 13 triliun. Kapal ini di-launching awal 2016 lalu dan menempati urutan terbesar keempat di dunia tapi bisa dibilang yang terbesar di Asia. Pasalnya, tiga kapal terbesar di dunia yakni Oasis of the Seas, Allur of the Seas dan Harmony of the Seas saat ini hanya melayani rute pelayaran Eropa dan Amerika. “Ovation of the Seas menerapkan teknologi serba canggih. Kapal pesiar ini dilengkapi balkon virtual dengan layar LED 80 inci yang bisa menampilkan pemandangan dan suara nyata dari laut,” katanya menjelaskan.

Flemming B. Nielsen menambahkan, Ovation of the Seas memiliki empat busur pendorong tenaga yang masing-masing menghasilkan 4.694 tenaga kuda. Dia meyakinkan, kapal berbobot 168.666 ton ini merupakan kapal ramah lingkungan dan juga ramah untuk anak karena menerapkan standar baru teknologi pengelolaan lingkungan. “Ovation of the Seas menerapkan teknologi generasi baru. Misalnya, sistem pelumasan udara berada pada lambung kapal untuk mengurangi pemakaian bahan bakar. Kapal ini juga meniadakan lampu pijar, hanya menggunakan lampu LED atau lampu neon yang hanya menyala saat diperlukan karena dilengkapi sensor,” ujarnya.

Baca juga:  Proyek Lanjutan Pelabuhan Kapal Pesiar Gagal Diselesaikan Tahun ini

Kemudi utama kapal, kata Flemming B. Nielsen, berada di sayap anjungan sebelah kiri (port side). Di sayap tersebut terdapat sebuah meja konsol yang berisi tiga alat kemudi utama kapal. Yakni, dua mangkuk pemutar Azipod serta tuas untuk mengaktifkan pendorong depan (bow thruster). Ditegaskan, peralatan kontrol kapal ini termasuk teknologi tercanggih abad ini. Azipod seberat hampir 200 ton itu mempunyai fungsi ganda, yakni kemudi sekaligus pendorong kapal. Bentuknya berupa baling-baling besar (propeller) yang dipasang di buritan di bawah batas air. Tangkai perekat Azipod dengan badan kapal bisa berputar 360 derajat. “Dengan begitu, Azipod bisa menghadap ke mana saja dan membuat kapal mampu bermanuver dengan ekstrem,” paparnya.

Selain itu, empat buah bow thruster dengan masing-masing 4 ribu tenaga kuda juga dipasang di moncong kapal di bawah garis air. Alat itu bisa mendorong kapal ke kiri dan ke kanan. Untuk kapal sebesar itu, kemampuan bermanuver dengan smooth sangatlah penting. Pasalnya, tidak semua pelabuhan di kota-kota destinasi wisata punya ruang yang cukup untuk lalu lintas kapal sebesar Ovation of the Seas. Selain kemudi, panel konsol di sayap kiri anjungan memuat papan radar dan peta jalur yang akan dilewati kapal. “Di situ bisa terlihat beberapa kapal yang posisinya berdekatan dengan Ovation of the Seas, termasuk informasi tentang kapal tersebut,” kata Flemming B. Nielsen.

Pria kelahiran Denmark yang bergabung di Royal Caribbean sejak tahun 2000 ini menambahkan, panel tengah anjungan lebih kompleks dan besar. Berisi alat navigasi, radar, sistem kelistrikan, kontrol mesin dan tangki bahan bakar. Setiap waktu anjungan komando harus dijaga minimal oleh dua perwira dan seorang quartermaster. Dalam keadaan tertentu, jumlah personel akan ditambah. “Tergantung situasi. Begitu merapat atau meninggalkan pelabuhan, maka akan perlu lebih banyak perwira lagi,’’ tegasnya.

Lantas, kenapa armada-armada Royal Caribbean termasuk Ovation of the Seas tidak melakukan pelayaran ke Indonesia? Flemming B. Nielsen hanya menjawab singkat, infrastruktur pelabuhan di Indonesia tidak memadai. Ditegaskan, ia sangat berharap pemerintah Indonesia ke depan bisa memperbaiki infrastruktur pelabuhan, sehingga kapal pesiar besar seperti milik Royal Carribean bisa bersandar dan membuka rute masuk-keluar Indonesia. Apalagi, Indonesia memiliki banyak sekali destinasi wisata menarik yang sangat potensial untuk dijual. “Saya berharap, Indonesia bisa memperbaiki infrastruktur pelabuhannya,” ujarnya sambil tersenyum simpul. (sumatika/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.