JAKARTA, BALIPOST.com – Kehadiran Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulazis al-Saud di Bali untuk berlibur harus dimanfaatkan pemerintah dan masyarakat Bali. Mereka bisa memperkenalkan budaya Bali yang sudah terkenal di mancanegara pada rombongan Raja Salman untuk meningkatkan kunjungan wisata ke Pulau Dewata.

Anggota DPR RI, Gede Sumarjaya Linggih, berharap kunjungan Raja Salman yang membawa 1.500 orang ke Bali bisa berdampak positif bagi Bali. Ia mengatakan momen ini bisa dimanfaatkan untuk memperkenalkan tradisi Bali yang terkenal akan toleransi dan adat istiadatnya.

Selain itu, ia juga berharap ada peluang investasi di Bali dengan catatan investasi harus sehat dan tidak melabrak aturan dan tatanan yang ada. “Alam kita juga terjaga. Investasi yang berkualitas tentunya,” katanya.

Ia mengatakan jika investasi justru mendegradasi kondisi lingkungan di Bali dan jumlah kunjungan wisatawan dari negara lain menurun, tidak akan baik bagi Bali. “Harapan saya terjadi investasi yang win-win antara Arab dengan Bali. Saya melihat ada titik cerah untuk itu karena kita bisa mengungkapkan apa yang menjadi kenyataan daripada Bali,” ujarnya.

Terkait kunjungan ini, akan ada dampak langsung terhadap perekonomian Bali. Diantaranya, kamar hotel berbintang 5 yang disewa untuk 1.500 orang, kebutuhan makanan, melihat destinasi wisata selama 6 hari serta souvenir. “Tentu cukup lumayan ya,” kata Kepala Divisi atau Deputi Direktur Bidang Asesmen dan Pengembangan Ekonomi Bank Indonesia (BI) Bali, Azka Subhan, Kamis (2/3).

Baca juga:  Masih Berstatus Awas, Zona Bahaya Dikurangi Jadi 6 Kilometer

Kunjungan turis Arab Saudi juga menunjukkan tren peningkatan. Jumlah turis Saudi Arabia tahun 2014 yaitu 4.540, tahun 2015 jumlahnya 7.003, tahun 2016 jumlahnya 10.243 orang. “Dengan kunjungan ini semoga semakin banyak yang datang. Tidak saja dari Saudi tapi juga Timur Tengah pada umumnya,” tandasnya.

Sementara rencana investasi Raja Arab tentu akan menguntungkan Indonesia. Menurut Head of IDX Denpasar, I Gusti Agung Alit Nityaryana, semakin banyak yang berinvestasi di Indonesia justru akan menjadi semakin bagus.

“Artinya tingkat kepercayaan terhadap RI dan potensi bertumbuhnya ekonomi RI diminati oleh pihak negara lain. Kalau ada negara yang berminat di suatu sektor, misalnya pariwisata, ini berarti potensi dan peluang di bisnis pariwisata masih besar. Tapi bisa juga investasi dalam bentuk lain di Indonesia,” ujarnya.

Multiplier effect dari penanaman investasi tentunya dapat menumbuhkan ekonomi di RI semakin bagus lagi. “Dan tentunya akan semakin menambah peluang tumbuhnya perusahaan yang go publik di Indonesia,” imbuhnya.

Menurut pengamat ekonomi Unud, Prof. Dr. I Wayan Ramantha, Bali memerlukan investasi di bidang infrastruktur baik airport, jalan layang, dan air bersih. Bali memerlukan investasi dari negara manapun, termasuk Arab Saudi. “Tentu sesuai dengan nuansa dan kearifan lokal Bali,” tandasnya.

Arab Saudi yang kental dengan nuansa Islami menurutnya tidak melulu membawa pengaruh Islami dalam investasinya. “Proyek infrastruktur tidak terlalu terkait dengan agama,” pungkasnya. (kmb/Citta Maya/balipost)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here

CAPCHA * Time limit is exhausted. Please reload the CAPTCHA.