Singaraja (Bali Post)
Umat Katolik di Singaraja, terutama anak-anak, yang sebelumnya menjadi pendukung Romo Yohanes Tanumiarja alias Romo Yan mengaku masih trauma dengan peristiwa kericuhan yang terjadi di Gereja Katolik Paroki Santo Paulus di Jalan Kartini Singaraja, Selasa (24/8) lalu. Hingga Sabtu (28/8) kemarin, umat Katolik itu masih belum belum bisa berpikir untuk memutuskan langkah-langkah apa yang harus mereka lakukan dalam kegiatan keagamaan selanjutnya.
Dewan Pastoral Paroki (DPP) Santo Paulus Singaraja juga masih bingung menentukan nasib organisasi mereka. Pasalnya, DPP itu dipilih oleh umat dan dilantik oleh Romo Yan Tanu saat masih menjadi partor di Gereja Santo Paulus. Dan ketika Romo Yan dipindahkan secara paksa ke Denpasar dan gereja itu diisi pastor yang baru, maka DPP itu kini berada di luar gereja. ''Kami masih bingung, apakah DPP ini bubar atau bagaimana, karena yang memilih adalah umat,''kata Silvester, sekretaris DPP Santo Paulus Singaraja, kepada wartawan Sabtu kemarin.
Untuk menjelaskan sikap-sikap mereka, umat Katolik bersama pengurus DPP Santo Paulus Singaraja kemarin berkumpul untuk melakukan persembahyangan dan menyatakan sikap terkait peristiwa di gereja Selasa lalu. Pernyataan sikap yang dibacakan Ketua DPP Santo Paulus Singaraja, Drs Petrus Wety, itu disebutkan bahwa umat Katolik menyampaikan maaf yang luar biasa kepada pihak Bupati Buleleng, Ketua DPRD, unsur Muspida Plus, Ketua Majelis Madya Desa Adat, Klian Desa Adat Buleleng, tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat serta masyarakat Buleleng seluruhnya yang terganggu dengan adanya insiden di gereja yang mengganggu ketenangan masyarakat Buleleng. Bagi DPP, peristiwa itu dikenang sebagai suatu Ziarah Iman yang Indah dan dijadikan sebagai salib untuk mempertebal, memperkuat dan memperdalam iman. (kmb15)
|