MONTOR menjadi salah satu penanda mobilisasi yang cepat. Montor Badung adalah satu sebutan yang saya ambil dari sebuah lagu rakyat yang populer di Bali beberapa dasawarsa lalu. Pada seri tulisan ''keliling Bali putaran pertama'', tahun lalu, pada rubrik Apresiasi ini, saya menulis dua artikel berjudul Montor Badung ke Gianyar. Dalam ''Keliling Bali Putaran Kedua'' sekarang ini, Montor Badung saya angkat lagi, karena masih ada yang perlu dibicarakan tentang itu.
Kalau dulu Montor Badung itu ke Gianyar, sekarang ke manakah montor itu sedang menuju? Kalau dulu Made Cerik disebutkan lilig montor, apakah sekarang ada madecerik-madecerik yang lain dilindasnya? Kalau dulu dikatakan ''tepuk api dong ceburin'', ke manakah sekarang orang-orang itu menceburkan dirinya?
TAK ANEH bila kita senang membandingkan yang dulu dengan yang sekarang. Kita tahu perubahan itu pasti terjadi. Kita juga tahu, dulu pasti lain dengan sekarang. Tapi pikiran tidak bisa distop oleh ''pengetahuan'' seperti itu. Pikiran merujuk masa lalu, bukan karena masa lalu itu lebih indah, tapi barangkali karena kita cemas memandang ke masa depan.
TANDA-tanda zaman adalah referensi kita tentang masa depan. Tanda-tanda itu ada pada masa kini. Montor adalah salah satu penanda bahwa kita sedang bergerak cepat entah ke mana. Karena kita ternyata adalah penumpang montor itu. Sebagai penumpang tentu kita punya tujuan mau ke mana. Tapi kita tidak yakin apakah montor yang kita tumpangi ini menuju tempat yang sama. Siapakah diri kita yang sedang menumpang ini? Barangkali kitalah penjelmaan Made Cerik yang dulu mati lilig montor itu.
BAGAIMANA CARA membaca dan memahami pejelmaan Made Cerik itu? Banyak orang membacanya sebagai penanda kemajuan. Penjelasannya sederhana. Dulu Made Cerik adalah korban di bawah roda yang berputar, sekarang Made Cerik adalah korban di atas roda yang berputar. Itulah kemajuan dalam arti naik status.
Pelakunya memang tetap tidak jelas, baik dulu maupun sekarang. Supir bukanlah pelaku, ia juga korban karena bukan ia yang menentukan rute perjalanan. Ada sekelompok orang yang membuat aturan rute, tapi mereka juga bukan pelaku. Karena mereka adalah korban, entah korban dari apa. Tidak ada orang yang benar-benar tahu, apa yang sedang terjadi dalam sebuah chaos di jalan raya peradaban manusia.
ORANG YANG MENCIPTAKAN lagu Made Cerik pun tidak tahu apa sebenarnya yang sedang terjadi. Ia hanya melihat sebagian kecil dari drama besar ini. Dari sedikit yang dilihatnya, lebih sedikit lagi yang bisa ditulisnya. Sekarang belum ada musisi menciptakan lagu Made Cerik versi, sebut saja, versi Ajeg Bali. Karena jargon Ajeg Bali ini adalah juga sebuah penanda. Jargon ini memberitahu kita tentang kecemasan para penumpang itu. Barangkali saking cemasnya, tidak ada yang dilakukannya selain bercerita tentang sebuah dunia di atas sebuah montor. Dan itu hanyalah salah satu dari sekian banyak cerita yang dibuat oleh sesama penumpang. Perdebatan bisa terjadi antar sesama penumpang. Dan apalah perdebatan itu kalau bukan penanda lain dari kecemasan-kecemasan itu.
KENAPA CEMAS? Alangkah sederhananya pertanyaan ini. Siapa yang bisa menjelaskan kecemasannya, akan kehilangan kecemasannya. Begitu kata entah pepatah, entah kata mutiara, entah kata buku agama, entah kata siapa. Barangkali benar, barangkali salah ucapan itu. Tapi pertanyaan itu bukanlah jawaban untuk pertanyaan kenapa cemas. Pertanyaan dijawab dengan pertanyaan tidak selalu menyelesaikan masalah. Ia hendak menyetop pertanyaan dengan paksa. Atau, dengan kekerasan verbal!
DI DALAM MONTOR yang sedang bergerak cepat entah ke mana, barangkali hanya penumpang yang tidak dibebani oleh tujuan yang tidak akan ikut-ikutan cemas. Tapi bebas dari tujuan juga bukanlah jawaban untuk pertanyaan kenapa cemas. Pertanyaan tidak juga akan selesai setelah diberi jawaban. Karena sebuah jawaban adalah pembenaran dari sebuah pertanyaan. Orang sering merasa puas bila pertanyaannya tidak disalahkan. Dan oleh karena puas itu, jawaban tidak lagi dipentingkan.
Montor Badung terus bergerak cepat dan semakin cepat. Apakah montor itu kalau bukan mesin yang tidak mengenal cemas. Kebijakan mesin, produk mesin, pelaku mesin, korban mesin. Yang ada akhirnya pengakuan atau pengingkaran peradaban sebuah mesin.