Untitled Document
» Apresiasi
26 Mei 2013
Perempuan: Menulis dan Tulisan
MENULIS dan tulisan menjadi perkara penting dalam gerakan perempuan abad XX. Gerakan itu menguat di Barat dengan rentetan sejarah panjang sastra dan pembentukan masyarakat literasi. Tulisan dalam perspektif perempuan mulai memiliki karakteristik dan menjadi kekuatan sebagai juru bicara ampuh untuk ide dan identitas perempuan.




Luce Irigaray (2005) dengan lantang mengungkapkan kredo: “Aku seorang perempuan. Aku menulis dengan keperempuananku.” Kredo itu menjadi klaim dan pengesahan atas kepentingan perempuan untuk menulis. Argumentasi dari kredo itu adalah ketidakmungkinan memisahkan diri sendiri sebagai perempuan dan sebagai penulis. Irigaray mengingatkan bahwa pemilahan antara perempuan sebagai perempuan dan perempuan sebagai penulis cuma ada bagi para penganut otomatisasi verbal atau mimetisme makna saat telah melembaga dan stereotipe.

Kredo itu hendak memberi keterangan dan legitimasi bahwa perempuan menulis dengan keperempuanan adalah fakta. Kredo itu direalisasikan dalam tulisan-tulisan sebagai tandingan atas dominasi maskulinitas dalam dunia menulis atau masyarakat literasi. Irigaray memberi pengakuan bahwa menulis mengandung enam alasan logis: (1) aku hidup pada akhir abad XX dan aku cukup dewasa untuk menulis; (2) aku mencari nafkah dari menulis; (3) tulisan adalah medium komunikasi gagasan (ide) yang strategis pada akhir abad XX; (4) tulisan membuka kemungkinan komunikasi dengan orang lain dalam pluralitas dan tulisan potensial jadi warisan; (5) tulisan adalah alternatif ketika aku mendapatkan larangan untuk bicara; dan (6) tulisan menjadi tempat menaruh gagasan dalam konteks “ruang tunggu”.

Kredo Irigaray menemukan realisasi dalam kisah-kisah pengarang perempuan di Indonesia. Fenomena besar pengarang-pengarang perempuan semakin menguat sejak tahun 1980-an dengan kehadiran Dorothea Rosa Herliany, Ratna Indraswari Ibrahim, Oka Rusmini, Abidah El-Khalieqy, Naning Pranoto, Leila S. Chudori, Nukila Amal, Djenar Maesa Ayu, Dewi Lestari, Fira Basuki, Dinar Rahayu, Nenden Lilis, Linda Cristanty, Nova Riyanti Yusuf, Dewi Sartika, Ratih Kumala, Evi Idawati, Rieke Diah Pitaloka, Mariana Amiruddin, Dina Oktaviani, dan lain-lain. Kehadiran pengarang-pengarang perempuan itu menunjukkan karakteristik dan identitas perempuan sebagai kontribusi besar terhadap kesusastraan dan masyarakt literasi Indonesia.

Tema tubuh perempuan sejak kehadiran novel Saman mulai menjadi fokus penting dalam tulisan-tulisan pengarang perempuan. Fokus tulisan atas tubuh perempuan menjadi pembenaran atas kredo Helene Cixous: “Menulis adalah media untuk mengungkap wacana tubuh perempuan disebabkan selama ini tersita oleh dominasi laki-laki. Perempuan menulis bisa kembali pada tubuh sendiri sebab tanpa tubuh-dimiliki maka perempuan akan menjadi bisu, tuli, buta, dan tak mungkin menjadi a good fighter dalam hidup.”

Tubuh perempuan menjadi polemik pelik dalam kesusastraan Indonesia modern dan wacana feminisme. Polemik itu berada dalam tegangan etis, estetika, filosofis, dan gender. Dinar Rahayu Pujiastuti (DRP) mengejutkan publik sastra Indonesia dengan novel Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch (2002). Novel itu mengisahkan perilaku masokisme dan transeksual. Tema itu rentan dengan kontroversi untuk publik Indonesia. DRP dengan fasih menulis dan mengisahkan tema itu tanpa ketakutan terhadap risiko buruk atas pembacaan dan penilaian publik dengan acuan sastra, moral, feminisme, politik.



Lugas

DRP memberikan keterangan lugas atas pilihan menulis novel dengan tema seks dan tubuh menggunakan argumentasi ambigu. Dinar mengakui bahwa fakta diri sebagai perempuan tidak memberi pengaruh signifikan terhadap tema dan kontruksi novel. Pengakuan itu hendak meruntuhkan sterotipe bahwa perempuan niscaya dan mutlak harus menulis mengenai perempuan karena fakta pengarang sebagai perempuan. Dinar mengabaikan itu dan melakukan pembuktian dalam novel yang tidak memiliki pretensi sebagai “novel perempuan”. Novel Ode untuk Leopold von Sacher-Masoch adalah novel tanpa harus ada pelabelan “perempuan” dengan alasan ditulis oleh seorang perempuan.

Pengakuan diri DRP kentara berbeda dengan pengakuan dan argumentasi Djenar Maesa Ayu (DMA) melalui suguhan buku Mereka Bilang Saya Monyet!, Jangan Main-main dengan Kelaminmu, Nayla, dan Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek. DMA mengakui bahwa menulis membantu diri untuk mengeluarkan endapan-endapan bawah sadar dan membantu untuk mengenali diri. Menulis adalah hadiah bagi diri. DMA justru membuat pembenaran bahwa fakta diri sebagai perempuan memberi pengaruh signifikan terhadap proses kreatif menulis teks sastra. DMA mengakui terlahir sebagai perempuan dan hal-hal dalam tulisana adalah isu-isu mengenai dunia dan identitas perempuan. Pengakuan itu menjadi pembenaran atas pilihan tema dan pemakaian-pengolahan bahasa dalam teks-teks sastra DMA.

Perempuan menulis adalah perempuan berpamrih mengisahkan diri sebagai manusia dengan tegangan idealitas dan realitas. Tulisan menjadi representasi dan realisasi dari suatu keinginan atau kepentingan untuk kehadiran dan faktualitas perempuan dalam pemahaman sebagai subjek. Perempuan menulis sebagai bentuk ungkapan atas kedirian perempuan dalam konteks individual dan sosial. Simone de Beauvoir mengingatkan bahwa perempuan dan tulisan (fiksi) adalah masalah tak bakal pernah berakhir. Begitu.



Bandung Mawardi, Pengelola Jagat Abjad Solo



•     Perempuan: Menulis dan Tulisan
•     Memahami Beragam Perbedaan Manusia
•     Lelaki dan Louhan Yanti Riswara Idris
•     ‘’Melajah Negakang Jit’’
•     ’Ngundukang Indik’’
•     Cerita-cerita dari Loteng
•     KEN DEDES
•     CERCAK
•     Budaya Teknologi
•     ‘’Manusa Salah Laku’’
•     Gao Liao dan Kepala Dinas yang Diberhentikan…
•     Melegenda dalam Sukma Ilham Kuasa Sejarah…
•     Kaung Bedolot
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Sastra (Media) untuk Pembangunan Karakter Bangsa
•     Bertemu sang Guru Jati
•     Lahat-Tanjungkarang-Tangerang-Jakarta
•     BAHASA BUNGA
•     Bahasa, Nasionalisme, Kekalahan
•     Gumam Tengah Malam
•     Palsu
•     Gumam Tengah Malam
•     Tapanuli, Tepian yang Cantik…
•     Perempuan
•     CAHAYA UNTUK TIDORE
•     Indonesia Beraksara!
•     Tentang Perkadangan...beban adalah bagian penting dari perjalanan panjang
•     Gumam Tengah Malam...
•     Pikiran: Lubang Jarum Waktu...
•     Mengungkap Nilai Universal Simbol Hindu
•     Penunggu Pagi
•     Subak di Mata Miguel Covarrubias
•     Menepi Air, Memuncak Gunung
•     Koloni Semut
•     Bokong
•     Banjir
•     Koloni Semut
•     Bahasa: Referensi dan Godaan
•     Sensibilitas Lokal Bali dalam Sastra Indonesia
•     Gorontalo…
•     Kota-kota Beranda…
•     Den Pasar: Keberjarakan Tanah-Air…
•     Anak Panah Menembus Jantung
•     Perempuan
•     Betapa Jargon Kota Budaya Itu…Den Pasar: Titik Nol Catuspatha…
•     Pasar Burung, Pasar Taman Pohonan…
•     Dalam Imaginasi Penggubah Mahabharata…
•     Sastrawan dan Profesionalismenya
•     Memahami Ki Hadjar Dewantara
•     Kabut
•     Kota Harmoni…
•     Sebuah Jam Tak Padam
•     Bahasa Air: Bergerak ke Depan…
•     Benih Langkah Inspiratif dari Cuaca Ekstrim
•     Bianglala...
•     Nur
•     Buku Antologi Puisi Denpasar
•     Maknai Kehidupan dengan Mengembangkan Pola Pikir Positif
•     Telur Bebek
•     Hasan Al Banna
•     “In Memoriam” Komang Harbali:Seorang Apresiator Telah Pergi
•     Film “The Act of Killing” dan Banalitas Kejahatan
•     Di Dalam Rumah...
•     Sepeda "Onthel"
•     Interlokal
•     Menghayati Hidup di Kampung Bajo
•     Imajinasi Turisme
•     Yogya-Denpasar...
•     Menghayati Hidup di Kampung Musi...
•     Acara BALI-TV Rabu, 14 November 2012
•     Ida Ayu Kondi Terima ''The Best Indonesian Leader Award 2012''
•     Perempuan dan Pohon
•     Puisi dalam Tubuhmu
•     Delapan Ciri Manusia Dikuasai ‘’Guna Tamas’’
•     Mantra Ombak
•     Daya Bahasa: Hening Utama...
•     CERPEN
•     Binasa Bersama Bahasa
•     Jurnal Sastra dan Masyarakat yang Terbuka
•     Puisi: Jalan Sunyi Menuju Maha Cahaya...
•     Ida Wayan Padang dan Penerus Gambuh...
•     Panah Menjamah Raga, Kata Meraih Jiwa...
•     Rektor Baca Puisi, Acri Pakai "Ongkara"
•     Bahasa: Mendengar dengan Benar
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Layang-layang Berekor Naga
•     Merangkul yang Jauh, Menyikapi yang Dekat
•     Kapat: Bunga, Bungah, Bingar
•     Sastra Digital
•     Sastrawan dan Masa Depan Sastra Indonesia
•     Buah Puasa: Budi Pekerti Mulia
•     Si Lugu Melangkah ke Inti Puisi...
•     Seperti Bernapas, Jalan Berbalik Menyempurna Ulang Alik...
•     Palungan Batu Perempuan Tua
•     Memancing Siswa untuk Tertarik Membaca
•     Jam Kosong
•     Menerima Tilem 17 Agustus ...
•     Puasa dan Kemerdekaan…
•     Peti Mati
•     Purnama Terakhir Utara Khatulistiwa...Bulan Kemuliaan Bhadrawada
•     Jalan Pemerdekaan Paripurna Utuh...Bulan Pembebasan Bhadrawada...
•     Panah Kata Sang Guru
•     Disiplin Melakonkan Keteladanan…Cara Arjuna Memilih Guru
•     Panggilan Insaniah Pembabar Peradaban Daya Transformasi Insaniah Guru
•     Sungkalabasa
•     Sastra Interdisipliner
•     Putri Malam
•     Bersandar
•     Sastra, Medium Refleksi
•     Sampai Langgeng Abadi, Tak Terpikirkan...Ruas 12: Mendekati yang Terdekat...
•     12-isme: Spiral Kewaktuan...
•     Ng Di Tengah Bangli...
•     Hadiah bagi Tubuh...
•     Campuhan Windhu Sagara...
•     Ratu Ayu Manik Blabur
•     Nenek dengan Dua Kendi
•     Ratu Ayu Sunaring Jagat...
•     Kesaksian Kata Hati Seorang Dusun....
•     Sajak- sajak Lailatul Kiptiyah
•     Nini Ratna Pulang
•     Empat (4) Sajak Muhamad Aswar
•     Surat dari Negeri Asing
•     Daya Juang Karya... (Panggilan Tugas dan Tonggak Perubahan...)
•     Belum Optimal Mengolah Cerita
•     Maestro Don Antonio Blanco Terjual Rp 5 Miliar
•     Gerbang Integritas Pengendalian...Pintu-pintu Halus Medangsia...
•     Enteg, Degdeg, Tegteg...
•     Menjadi Sang Empu...Ngempu Keneh...
•     Di Puncak Ning, Nis, Nir...Kedalaman 7 + 10 Hari...
•     Rindu Hening Sang Bayi...
•     Belajar Melek Mpu Tanakung...
•     Isyarat Jeda 12-isme...Titik Penalti yang Mendebarkan...
•     Membaca Manusia dan Rembulan (3)
•     Tutur Sahaja dari Kubutambahan
•     Agnes MonicaTampilkan Tarian Adat Papua
•     Kesantunan + Kedalaman + Keluasan...
•     Kunti, Gandari, Drupadi Industri...Menanti Kegaiban Krisna Lagi?...
•     Pejabat, Korupsi dan Boroskan Uang Rakyat
•     Basur, Cerita Perlawanan Hegemoni Gender
•     Senja
•     Patung Perempuan
•     Diharapkan Muncul Konsep Seni Budaya Internasional
•     Slank-Nanoe Biroe di Pantai Lovina
•     Mimpi dan Realitas dari ''Facebook'' ke Sastra
•     * Pusat Getaran yang Menggetarkan
•     MENUNGGU PETANG SINGGAH
•     Menggantungkan Harapan pada Kemendikbud
•     Menjelajah Musikalisasi Puisi di Bali
•     Pulang
•     Kelompok Semut Sebelas Isi Denpasar Melompat Tembok Kampus
•     Gatot Brajamusti Buat Film
•     KELASI MUDA
•     Menikmati Alih Media Sastra ke Film
•     Menanti Lembaga Dokumentasi Audio-Visual Kebudayaan Bali
•     Putri
•     Menempuh Jalan Berbalik Kegaduhan...
•     Belajar Awal dari Mengendalikan Lidah...
•     Srikandi Versus Bhisma
•     Berkomunikasi dalam Bahasa Diam Hening ...
•     * Berpulang pada yang Halus di Padma Hati ...
•     JENDELA RUMAH URBAN
•     Persimpangan Waktu
•     Belajar Hredaya Sastra dari Tjokorda Made (3)...
•     Memaknai Ulang Faksas-Airlangga-Udayana-Bali, Nias 13 Denpasar (4)
•     Peneguhan Eksistensi Teater Kampung di Bali
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made 2)...
•     Pesan Drupadi pada Negeri...
•     Belajar ''Hredaya Sastra'' dari Tjokorda Made (1)
•     Luka di Kulit Kayu...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (7)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (8)
•     Bentang Spiritualitas Budaya Bambu Bali (6)
•     Kisah Pohon Bambu di Ujung Jalan Itu
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (5)
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (6)
•     Sajak Sajak
•     Napak Tilas Intelektualitas Bali Utara
•     Senja
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (3)...
•     Kembali ke Tamanraya Peradaban Nol (4)...
•     ISI Denpasar Gelar Pameran dan Sarasehan
•     Bali Menolak Bus Besar
•     Tamu Tak Diundang
•     Seluruh Penjuru Sempurna...
•     Berharap Terjadi Sebuah Perubahan...
•     Membaca 10 Galungan-Kuningan: Menuju sang Akhir...
•     I Kadek Surya Kencana
•     Totalitas Berkesenian Partisipan Patut Dicontoh
•     Dalem Purwa: Perjalanan ke Awal Mula
•     Wirasari Bulian: Menyadari Mahasari Hidup
•     Kisah Cinta Remaja yang Malu-malu
•     Jadwal PKB Hari, Tanggal : Jumat, 17 Juni 2011
•     Emansipasi Kartini Bali di Jagat Seni
•     Aneka Tari Bali Memukau
•     Ketika Kehormatan Wanita Dipertaruhkan di Meja Judi
•     * Kotak Zone Nyaman 33 Tahun PKB
•     Memetakan D‚n Bukit: Titik Balik Keseimbangan...
•     Atas-Bawah Bulian: Bersua yang Satu...
•     Pulo Sekar Bulian: Putik Sari Kemurnian...
•     Tim Kesenian Karangasem Tampil Memukau di Pesona Budaya TMII
•     LELAKI PEDALAMAN KINTAMANI
•     Menerima Samudra Makna (Secara Sederhana...)
•     Keindahan Bola Kerelaan Melepas...
•     Spiritualitas Bola: Kosong Bersua Kosong...
•     Kloning
•     Pucak Panulisan: Menyadari Puncak Kehidupan...
•     Membaca Rasa Danuh: Sumbu-Poros Bali...
•     Tirta Harum: Menyadari Wangi Hidup
•     De Mulih : Menyadari Panggilan Pulang
•     DENDANG DI PENULISAN
•     Sukawana: Menyadari Sukaria Hidup
•     Malam Chairil Anwar di Singaraja
•     Mencari Makna Hakiki yang Belum Tersentuh...
•     Membaca Pegunungan Watukaru: Gerbang Ketujuh...
•     Hidangan di Pagi Buta
•     Di Rusuk Kebun Teh
•     Membaca Bali dari Nusa Ceningan
•     Membaca Kelahiran: Dari Watugunung ke Sinta
•     Regresi Human Male
•     Raudal Tanjung Banua
•     KLUNGKUNG: SIMPUL RELIGIUSITAS DAN MARTABAT DIRI
•     Motivasi Bagi Hati yang Ingin Berbagi...
•     Rebung
•     Pelurusan Arti bagi Bumi
•     Kesabaran Inti Spiritualitas
•     Palebon ring Puri Agung Kesiman Kaater antuk Katekok Jago
•     Revitalisasi Ajaran Sutasoma Pendidikan Demokrasi...
•     Faizal Syahreza
•     Realisasi Mantra Suara Aksara
•     Dari Seririt Hingga Miyagi Catatan di Sebalik Bencana
•     Pablo Neruda Menjaga Hening
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Inti-Sari-Isi Kehidupan Mertasari
•     Spirit Budhiana dan Lukisan Pak Wali
•     Lewat ''Melasti'' Kita Tingkatkan Kepedulian Sosial
•     Negara Tidak Boleh Membiarkan Perilaku Kekerasan
•     Dari Kaki Memahami Kepala
•     DENPASAR FESTIVAL
•     Sepanjang Jalan Bukan Kenangan
•     Seloka Upacara Sawah
•     Parfi dan PPFI Siap Gelar Kongres
•     Aksara Tanah dan Bebalang...Terang Galang Lapang...
•     Baya Lalu Lintas ring Buléléng Nincap 117 Persén
•     Marah itu Sayang
•     CEMAS TETAS
•     Buleleng - Probolinggo P.P
•     Menimbang Bumi Sebutir Debu...Misteri Pengalaman Pribadi Sesama...
•     Deburan Keindahan Kekuatan...
•     Di Pura Taman Yeh Obat Penarukan
•     "Aduh": Renungan Manusia Indonesia Masa Kini
•     Kembalikan Fungsi Seni sebagai Penghalus Budi
•     Orang Pesisir Utara
•     Semesta Raya, Semesta Diri dan Anda
•     Dari Guru ke Buku,Ke Aku ke Kau...
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     MENCATAT KELUH IBU
•     Khianat pada Ibu dan Keterpurukan Negeri
•     Memelihara Tradisi Dongeng demi Masa Depan
•     PADA HUJANLAH
•     Hukum Sungai...
•     Epilog
•     Esensi Pembelaan...
•     Waktu Solilokui
•     Oleh Agung Bawantara
•     Metafora, Sebuah Tanda Bayangan Selembar Nyawa
•     Sungai dan Orang Arti Menyeberang
•     KALAU DUKA BERTAMPUK
•     USIA
•     Di Kaki ''Kaki...'' Mata Ketiga...
•     Bolak Balik Berkali...Penjualan Tanah Itu...
•     Menjual Barang Hasil Oplosan
•     Bahasa Jauh... Fenomena Kebahasaan...
•     Niraksara Nirshastra...Pijakan dan Gantungan...
•     Dalam Sehelai Daun
•     Puncak Capaian...
•     Laut Jingga Mengantar Bulan Purnama
•     Kubiarkan Kata
•     Sejatinya Zona Anugerah
•     Sejati Luar Dalam Bahasa
•     Pemilik Kastil Batu
•     Merefleksi Gandhari
•     Kuta Kuti...Berbeda Nuansa...Pasraman Besar...
•     aku ingin rumah ini segera sepi
•     Sangkan Paraning Dumadi
•     Puput Awan...Klimaks Ketegangan...
•     Puput(an) Badung...Kegagalan Diplomasi Kata...
•     Montor Badung...Kecemasan Memandang ke Depan...
•     Yang Terurai di Kecipak Pagi
•     Kau Tak Terpahami
•     Garis Panjang di Timur...Segi Geografis Peta Mistis...
•     Lebih Berat di Timur...Teori Keseimbangan Bali Secara Mistis...
•     Pemujaan Sunyi
•     Zinda Ruud Purnama
•     Belahan Susu...Muara Pertanyaan, Pandangan Mistis...
•     Ujung Timur Ujung Barat...Perjalanan Pikiran, Praktik Mistis?
•     Lentera Temaram
•     Di Kaki Pulau Sulawesi...Etos Kerja Para Transmigran Bali, Jembrana dan Emas Bombana...
•     PENARI PANTAI MENDIRA
•     FSRD ISI Pameran Seni di Australia
•     Prosesi Bulan di Dermaga Padang Bai
•     Dari Karangasem ke Lombok...Membaca dan Menyimak Pustaka Hati...
•     Menyalakan "Pelita Seni" dalam Jiwa Anak-anak
•     Lentera Temaram
•     PURA
•     AMLA
•     Dan Gelombang Sensor Diri
•     Nur Wahida Idris
•     Separuh Pikiran Sebuah Buku
•     Lomba Cipta Seni Pelajar Digelar di Istana Tampaksiring
•     Literatur Tim Sukses Belajar Jurus dan Rumus Negeri
•     Representasi Persepsi Kehidupan Mistis...
•     YUGEK
•     Pintu Gilimanuk Itu...Sebuah Penanda dalam Budaya...
•     Dari Pintu ke Pintu
•     Genjek Tampil Lengkap dengan Ayam Aduan
•     Yang Asing Membeku Budhi Setyawan
•     Pengantar Menuju Pintu...Jagat Kecil Sembilan Pintu...
•     Gilimanuk, Perancak, SR (Segara Rupek)...
•     Ekonomi Publik Membaik, Pengangguran Turun Tajam
•     Dari Pulaki ke Pasar Posisi Pemberi Anugerah...
•     17 Lilin di Anggurmu
•     Masih Sekar Agung Buleleng... Jagat Empat Kata Kunci...
•     Tradisi di Ubun-ubun Jagat...
•     SANG HYANG BATUR BALI
•     Moksa
•     Pohon Insomnia Dari Puisi-puisi Alejandra Pizarnik
•     Tengah Malam : hujan di pesanggaran
•     JANJI SAKRAL CINTAMANI
•     Tradisi Belajar Kemanusiaan ...Mematikan Aksara dan Penulis
•     KONTEMPLASI
•     SUATU PAGI YANG MENGANTARKU KEMBALI
•     Wajah Wajah...
•     Jarak...
•     Pelajaran dari Batur (Atas)
•     Pelajaran dari Batur (Bawah)
•     SELAIN HUJAN
•     DINI HARI
•     BANG BANG BANG(LI)
•     Di Jendela
•     Zinda Ruud Purnama
•     PERTANYAAN DARI TENGGARA
•     NUSA PENIDA: CERITA GRUBUG
•     NUSA PENIDA DALAM LAMUNAN
•     Cerita Murung dari Laut
•     Raudal Tanjung Banua
•     Simalakama Budaya...
•     NUSA PENIDA: PEMUTIHAN
•     Bahan Renungan Pusat Kehidupan...
•     KAPAL DAN LAUT DUA FRAGMEN
•     PENYELAMAT BUDAYA...
•     MENARI SALSA
•     DUA PENGARANG SINGARAJA...
•     SEKAR AGUNG DI SANGGA LANGIT...
•     SANG(G)A LANGIT...
•     PERTAPAAN EMBRIO
•     PERTAPAAN AIR
•     Nuryana Asmaudi SA MB
•     SINGA DI TENGAH PASAR...
•     HARMONI BUAS DAN LIAR...
•     Restu Pasar...Kembali ke Pasar
•     Budaya Kota...KOTA BUDAYA...
•     Pahala dalam Mengupayakan Kebahagiaan Orang Lain
•     Raudal Tanjung Banua
•     Sihir Pasar...Pasar Api...
•     Dua Arus Besar...Pasar Agung...
•     Budaya Pasar ...Pasar Budaya...
•     Denpasar dan Manusia Pasar
•     Pasar dan Denpasar
•     Serapan, Jadian, Kerajaan...Kembali ke Wisata
•     Tagore di Gianyar
•     Raudal Tanjung Banua
•     Situs Sumber Mata Air Permandian dan Pura
•     Musuh
•     Bakau
•     GALILEO GALILEI
•     TAMU YANG MENETAP
•     Penemu Bali...PENEMU UBUD
•     Ibadah Hari Hujan
•     Sang Diri Adalah...MENJADI ALAM
•     Perayaan Ibu (II)
•     Sepuluh Ribu Rupiah
•     Panggilan Alam Sihir...Dengan Ibu Bencana...
•     Luna Maya Merasa Senasib dengan Prita?
•     Perayaan Ibu (I)
•     Perayaan Ibu (II)
•     Feminisme Dalam Koin...
•     ANAK PEREMPUAN
•     Naga Hitam
•     Tapa Bumi, Perjalanan Mencari...Dongeng Ayah Suami Ibu
•     TEMBANG BUMI
•     Tentang Bumi dan Ibu
•     Kado buat Pak Guru
•     Tentang Lelaki dan Ibunya...
•     Monolog "Burung Merak" Putu Wijaya
•     Rotary Peduli Anak-anak
•     Permainan Sunyi (2)
•     Ketika Guru Menjadi Selebritis...
•     Permainan Sunyi (1)
•     Warisan Masa Kecil...Pelangi di Tengah Pasar...
•     Kadek Wara Urwasi
•     Antara Tiga (3) Kediri...
•     Cerita (Arja) Kodok...Teater Rakyat Kisah Berbeda...
•     Nyanyian (Pasar) Kodok...
•     TENUNG RINDU

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak