KEMANUSIAAN manusia benar-benar telah hampir copot dari cantolannya di hati dan otaknya. Padahal malam Tahun Baru 2012 nyaris semua orang merayakannya dengan sukacita disertai pesta dan minum berjenis-jenis alkohol hingga pagi suntuk. Berbagai ucapan dan harapan yang manis-manis dan muluk-muluk saling dilontarkan. Kembang api menerangi langit dan gelegar mercon tak henti-henti, seakan dunia saat itu adalah milik spesies manusia. Mereka tidak peduli atmosfer bumi diselaputi asap tebal dan aroma mesiu, juga tidak ambil pusing penghuni dunia lain nonmanusia mengalami stres berat akibat melihat dan mendengar benderang tak lazim dan dentum mengagetkan.
Dari sekian banyak ucapan yang kuterima lewat SMS di HP-ku sebelum dan sesudah tahun baru, satu kalimat yang membuatku tertegun. Selamat Tahun Baru 2012, semoga di Tahun Naga Air ini dunia khususnya Indonesia menjadi tempat yang layak dihuni sepanjang hayat. Aku melihatnya kembali saat menyaksikan di TV anak-anak sekolah dan nenek-nenek meniti sisa jembatan yang rusak parah akibat banjir bandang menggerus tepian Sungai Ceberang di kawasan Lebak, Banten. Berikutnya, SMS itu nyaris kuhapus saat di layar kaca kulihat mayat-mayat bergelimpangan di Tugu Tani, Jakarta akibat ulah wanita mabuk ekstasi menabrak mereka dengan mobil pinjaman. Aku benar-benar menghapus SMS itu setelah menonton TV dan membaca koran ikhwal kerusuhan di Lampung Selatan, Senin lalu, tutur Rubag.
Hatiku juga sangat miris melihat murid-murid sekolah, di antaranya seusia anakku yang duduk di kelas satu SD bergelayut di kawat, sementara punggungnya dibebani tas, sedangkan kaki menginjak kayu tipis sepanjang ratusan meter. Juga ada nenek-nenek yang bicara saja bibirnya bebuyutan atau gemetar, juga bergelantungan dengan cara yang sama meski lututnya sudah goyah. Lucunya, para pemimpin kita dengan mulut berbusa dan dada membusung bicara soal pertumbuhan ekonomi menggembirakan dan grade investasi naik. Padahal lokasi kondisi memprihatinkan yang digambarkan seperti suasana dalam film Indiana Jones, tidak begitu jauh dari ibukota negara. Di Banten yang letaknya dekat dengan Jakarta, masih ada desa terisolir yang rakyatnya seperti berangkat ke medan perang penuh bahaya maut untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Sedangkan di pusat pemerintahan para pemimpin fasih bicara soal uang milyaran dan trilyunan, baik untuk anggaran maupun dikorupsi, komentar Smarajana.
Memalukan! Tapi malu sebagai rasa yang mengawali peradaban manusia, sudah tidak ada lagi nyantol di sanubari kebanyakan orang, khususnya para pemimpin dewasa ini. Hilangnya rasa malu, selanjutnya empati, simpati, tolerasi dan solidaritas justru berawal dari para elit, yang selalu menggembar-gemborkan hidup dan berpikir positif. Karena terlalu positif membuat perasaan mereka jadi tumpul secara spiritual, jadi hedonis secara intelektual, jadi narsis secara emosional dan jadi takut mati namun tidak peduli atas kematian orang lain. Mereka tidak malu kendati berita tentang jembatan hancur itu mendunia dan diberi julukan '' Jembatan Indiana Jones'' Sama tidak malunya ketika lusinan media asing mewartakan negeri ini punya simbol keadilan berupa sandal jepit. Bagaimana tebal mukanya orang-orang yang mengaku wakil rakyat yang menggagas dan merealisasikan ruang rapat berbiaya Rp 20 milyar, bila melihat murid-murid seperti anak-anak monyet bergelayut di ranting dan dahan saat menuju sekolah, tambah Subaya.
Ing ngarso sung tulodo, begitu kearifan Jawa yang dipopulerkan saat Penataran P4 berlangsung di Era Orde Baru. Perilaku pemimpin ditiru dan dijadikan model oleh rakyat. Segala rasa yang dulu kokoh bersemayam di hati menyebabkan manusia disebut sebagai makhluk berbudaya, kini kian pupus. Kusaksikan tampang dan mimik wanita gembrot yang menabrak belasan orang dengan mobil itu di TV. Cengar-cengir sambil sibuk SMS-an berdiri di samping mobil pinjamannya yang ringsek bagian depannya tanpa peduli belasan tubuh bergelimpangan bersimbah darah akibat perbuatannya. Yang luka menjerit-jerit kesakitan dan yang luput meraung histeris, namun penabrak itu seperti tidak hirau dengan pemandangan yang mengiris hati tersebut, bahkan sambil mempermainkan HP mondar-mandir di samping mobilnya. Tanpa rasa bersalah, bahkan wajahnya yang tembem tampak memuakkan ! Sebagian dari mereka yang langsung tewas konon adalah anak-anak yang baru keluar dari latihan futsal dan mereka berjalan di trotoar, ujar Manik.
Apa bedanya dengan pejabat kita ? Mereka juga tidak hirau dengan kemiskinan rakyat yang tampak telanjang ditayangkan TV dengan memamerkan gaya hidup yang hedonis dan narsis. Menjadi kaya dan hidup mewah memang tidak dilarang Undang-Undang di negeri ini, tapi itu akan kelihatan normal dan wajar bila masalah korupsi, suap dan penyelewengan kekuasaan tidak meraja-lela. Kita bisa melihat dalam pembagian zakat yang cuma berisi Rp 20 ribu ribuan orang berdesakan sampai puluhan wanita meninggal karena terinjak dan terhimpit, sementara uang negara miliaran digerogoti para tikus berdasi. Aku masih ingat pendapat almarhum Prof. Dr. Satjipto Rahardjo yang mengatakan bahwa Indonesia adalah laboratorium yang paling baik di dunia untuk penilitian hukum dan masalah sosial. Alasannya, di sini berbagai macam kasus dari anomali serta penyelewengan hukum hingga pelanggaran HAM berlangsung selama puluhan tahun. Akibatnya, muncul istilah Petrus, Markus atau makelar kasus dan Mafia Peradilan. Sayang beliau keburu wafat, sebelum kasus koin untu Prita dan keadilan sandal jepit muncul, papar Santika.
Sekali lagi jangan menertawakan orang yang jatuh, bersyukurlah kamu tidak atau belum jatuh ! Terlepas dari dugaan bahwa wanita penabrak itu menggunakan narkoba dan minum alkohol sebelum nabrak, aku anggap kecelakaan tersebut sebagai musibah. Apalagi di zaman sekarang, peredaran narkotika dan derivatnya beredar luas dan orang-orang yang suka dugem kalau tidak kuat mental akan terjerat penggunaan narkoba. Jadi, aku menganggapnya sebagai musibah yang bisa menimpa setiap orang kalau tidak hati-hati. Mirip seperti kasus pembakaran 48 unit rumah, pengerusakan 21 unit rumah dan motor serta penggilingan padi di kecamatan Sidomulyo, kabupaten Lampung Selatan, yang oleh para tokoh yang menjadi korban dianggap musibah. Aku setuju dengan sikap dan pernyataan tokoh asal Bali di sana, yang mengimbau para warganya agar tidak berpikir untuk balas dendam atas tragedi yang terjadi Senin lalu itu. Itu mencerminkan karakter orang Bali asli, yang tidak bereaksi langsung atas apa pun menimpanya, namun menyerahkan pada Ida Sang Hyang Pematut alias Tuhan, kata Kasna.
Setuju ! Kendati orang yang berpikir seperti kamu jumlahnya sangat sedikit sekarang, namun aku sependapat denganmu. Balas dendam membuat urusan yang sebenarnya bisa diselesaikan secara cepat dan bermartabat, akan berlarut-larut bahkan turun temurun. Serahkan saja pada Sang Hyang Pematut, yang kurasa akan melaksanakan hukum yang adil dan benar. Seperti dulu kita dibom dua kali oleh para teroris, orang Bali menyikapinya dengan upacara, kendati hati sempat panas saat peristiwa terjadi. Untuk bom pertama tahun 2002 kita lakukan upacara Karipubhaya di Legian Kuta dan bom kedua tahun 2005 kita lakukan Mapekelem di laut Jimbaran. Hasilnya semua jaringan terorisme dunia terungkapnya dari Bali. Tidak saja Amrozy dan Imam Samudra, juga Dr. Azahari serta Noordin M Top berhasil dibinasakan. Jangan-jangan jaringan Osama bin Laden bisa dilumpuhkan berkat doa kita dari Bali. Kekuatan doa memang kedengaran remeh, tapi kalau kita yakin kekuasaan sang Hyang Widi, maka hasilnya mengagumkan. Memang tidak seperti makan cabe, yang pedasnya muncul seketika, namun hukum Sang Hyang Pematut terjadi slowly but sure, sambung Sudirman seperti bercanda. (aridus)