SENI rupa terpinggirkan pada Pesta Kesenian Bali (PKB). Keluhan itulah yang terlontar dari sejumlah perupa Bali yang merasa galau melihat ''performa'' pameran seni rupa di event pesta seni budaya terakbar di Bali itu. Kehadiran jenis kesenian yang telah melahirkan barisan panjang seniman-seniman Bali yang punya reputasi mendunia seperti Gusti Nyoman Lempad, Anak Agung Sobrat, Nyoman Gunarsa dan kawan-kawan ini terkesan sebagai sisipan semata. Belum digarap secara serius. Selain itu, ruang pamer di Gedung Kriya dipandang tidak representatif lagi untuk menampung gelegak berkesenian perupa-perupa Bali yang membuncah. Realitasnya, space yang diberikan kepada perupa sangat sempit dan sesak. Pameran seni rupa PKB memang ''sesak napas''.
Ditemui Sabtu (2/7) kemarin, Pembantu Rektor I Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Drs. I Ketut Murdana, M. Sn. dan Dekan Fakultas Seni Rupa ISI Denpasar Dra. Ni Made Rinu, M. Si. tidak menampik bahwa pameran seni rupa di ajang PKB memang terkesan asal jalan. Menurut kedua seniman akademis ini, kehadiran seni satu ini di arena PKB tak ubahnya bagai sesosok makhluk asing yang diam termangu di tengah kemeriahan pesta. "Keterpinggiran seni rupa di PKB sudah menjadi permasalahan klise yang terus berulang setiap tahun. Gedung Kriya memang sangat tidak layak untuk ruang pameran," kata Murdana yang dibenarkan oleh Rinu.
Murdana dan Rinu menambahkan, kesan pameran seni rupa hanya diposisikan sebagai "menu pelengkap" semata di PKB tidak terbantahkan. Selain diberikan space yang tidak memadai, fasilitas penunjang yang sejatinya sangat mendukung kesuksesan sebuah pameran seperti lighting juga di-setting ala kadarnya sehingga keindahan karya-karya seni rupa baik lukisan, patung dan kriya yang dipamerankan tidak bisa ditampilkan secara optimal. Yang juga mengesankan pameran seni rupa tidak digarap secara serius bisa dilihat dari katalog pameran yang juga sekadar asal ada. Sama sekali tidak mencerminkan sebuah pameran yang prestisius. ''Kondisi ini sungguh sangat memprihatinkan. Padahal, pameran seni rupa itu menampilkan karya-karya berkualitas yang juga melibatkan seniman-seniman besar sekelas Gunarsa dan kawan-kawan,'' kata Murdana dan Rinu menyesalkan.
Tidak Representatif
Jika pemerintah memang serius ingin memberikan ruang yang lebih lapang bagi seni rupa untuk "bernapas" di pentas PKB, kata kedua dosen ISI Denpasar itu, sudah sewajarnya pemerintah merenovasi Gedung Kriya dan digabungkan dengan bangunan yang ada di sebelah baratnya. Begitu pula taman atau kolam yang ada di dalam ruangan itu tidak perlu ada. Selain mempersempit area untuk pameran, keberadaan taman dan kolam itu juga berefek tidak bagus terhadap lukisan-lukisan yang dipajang di ruangan tersebut. "Gedung Kriya memang harus dipugar karena tidak representatif untuk kepentingan pameran," tegas Murdana dan Rinu kompak.
Dari segi kualitas materi pameran, Murdana dan Rinu menilai karya-karya yang ditampilkan sejatinya sudah memenuhi standar kualitas. Begitu pula dengan aliran-aliran seni rupa yang berkembang di Bali sudah terwakili. Kendati begitu, kedua seniman akademis ini menegaskan bahwa proses kurasi materi pameran dalam perhelatan seprestisius PKB tetap harus dilakukan secara ketat. Dengan begitu, karya-karya seni rupa yang tampil di PKB benar-benar merupakan puncak-puncak kualitas seni rupa yang ada di Bali. ''Selama ini, saya menilai proses kurasi itu belum dilakukan secara optimal,'' kata Murdana yang dibenarkan oleh Rinu.
Lebih lanjut, Murdana dan Rinu mengaku seringkali mendengar keluhan dari perupa-perupa muda yang merasa keberadaannya terpinggirkan alias tidak terakomodasi di PKB. Keluhan itu, wajar-wajar saja mengingat format pameran seni rupa yang diterapkan di PKB memang tidak bisa mengakomodasikan seluruh genre seni rupa yang berkembang di Bali. Kendati begitu, dia meminta pihak panitia tetap memberikan porsi kepada perupa-perupa muda yang nantinya karya-karya mereka akan disandingkan dengan perupa-perupa senior yang reputasinya sudah go national bahkan go international. Untuk bisa menampilkan karya di pameran PKB, tentu saja mereka wajib mengikuti proses kurasi di mana karya-karya mereka diperbandingkan dengan perupa-perupa muda lainnya. Porsi untuk perupa muda tetap harus disediakan karena merekalah yang nantinya akan melanjutkan kejayaan seni rupa Bali. Untuk menjaring perupa muda yang bertalenta besar, proses kurasi merupakan hal yang mutlak, tegas Rinu dan Murdana. (ian)