RIBUAN orang diperkirakan hadir pada perayaan ''Shie Jit Thien Sang Sen Muk'' atau memperingati hari lahirnya Dewa Perdagangan Antarpulau di Klenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali. Upacara persembahyangan digelar mulai pagi hari ini, Jumat (13/4) sampai dengan Minggu (15/4) mendatang.
Berbeda dengan perayaan tahun sebelumnya, di mana pengurus menyebarkan undangan tertulis kepada masing-masing umat, tahun ini pengurus sengaja mengajak para umat untuk memperingati hari suci ini melalui perantara media massa, dengan harapan akan lebih banyak lagi umat untuk datang bersama-sama melakukan persembahyangan yang digelar di Klenteng tertua di Bali, Klenteng Caow Eng Bio.
''Melalui pemberitahuan lewat media ini kami berharap seluruh umat Konghucu, Tao maupun Buddha yang ada di seluruh Bali serta di beberapa kota di Indonesiea bisa ikut bersama-sama merayakan hari yang istimewa ini,'' ujar Ketua Pengurus Liong Siu Yang, yang mempunyai nama Bali Nyoman Suyanti Adiartha.
Selain itu, katanya, juga akan mengundang umat Hindu dan Muslim yang ada di daerah Tanjung Benoa untuk datang sebagai wujud persaudaraan dan kerukunan antarumat beragama. ''Dari dulu para leluhur kita mengajarkan untuk selalu bergandengan tangan dan hidup rukun, baik dengan umat Hindu, Buddha, dan Bugis. Bahkan kerukunan tersebut lebih akrab disebut kerukunan antara HBB,'' jelasnya.
Upacara peringatan hari lahir Dewa Perdagangan Antarpulau (Ratu Subandar) ini dipimpin Bio Kong atau pendeta setempat. ''Kami telah mempersiapkan perayaan ini jauh-jauh hari dengan harapan agar umat yang ikut merayakan bisa mendapatkan ketenangan dan kenyamanan dalam mengaturkan persembahyangan, khususnya memohon agar selalu diberikan kemudahan rezeki, sandang pangan khususnya bagi umat yang bergerak di bidang usaha perdagangan,'' jelasnya.
Dalam perayaan kali ini juga akan diisi pementasan Barongsai, Dadong Rerod dan Legong. Untuk sekadar diketahui, Klenteng Caow Eng Bio Tanjung Benoa yang terletak sekitar tiga kilometer kawasan wisata Nusa Dua itu merupakan salah satu klenteng tertua di Bali. Klenteng ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-16 Masehi. Klenteng ini dibangun oleh leluhur warga keturunan Cina yang ada di Tanjung Benoa, yang datang ke Pulau Dewata dari daratan Tiongkok sebagai pedagang.
Sebagai klenteng tertua di Bali, selama setahun di klenteng ini juga digelar tiga kali peringatan hari suci. Selain peringatan hari lahirnya Dewa Perdagangan Antarpulau atau yang disebut perayaan ''Shie Jit Thien Sang Sen Muk'', rencananya di bulan Juli mendatang juga akan digelar peringatan lahirnya Dewa Penguasa Laut Yatikong yang disebut perayaan ''Shie Jit Thien Yatikong'', dan di bulan November peringatan lahirnya Dewa Penguasa Laut Sue Wesen Niang atau ''Shie Jit Thien Sue Wesen Niang''. (ad8)