HARI raya Nyepi yang merupakan pergantian Tahun Baru Çaka 1934. Untuk memperingatinya, ada beberapa hal yang mesti dilaksanakan umat Hindu, seperti Catur Berata Panyepian, termasuk untuk hening dan introspeksi diri. Leluhur Bali telah mewariskan kearifan lokal tentang bagaimana memperingati pergantian Tahun Baru Çaka tersebut melalui konsep Ramya, Somya dan Sunya. Hal itu ditegaskan seorang tokoh agama yang sering terlibat dalam karya besar di sejumlah pura, Dewa Ketut Soma. Menurut penekun spiritual dan sastra asal Desa Satra, Klungkung itu, ketika hiruk-pikuk berbagai aktivitas (ramya) yang terjadi dalam setahun, pada saat pergantian tahun umat se-Dharma wajib menjernihkan diri (somya) kembali ke dasar samudra batin dan ruang kosong (sunya). Di ruang kosong itulah, kata dia, umat dituntut melakukan Nyepi (pengheningan). Untuk kembali bangkit dalam kesadaran diri. Di ruang kosong itu juga, tambahnya, sejatinya merupakan pusat denyut hidup sebagai titik awal/berangkat untuk memulai sesuatu yang baru menyambut era kehidupan yang selalu bergerak dan berubah. ‘’Karena memang hanya perubahan itu yang abadi,’’ ujar Dewa Soma. (bal)