Untitled Document
» Mimbar Agama
Senin, 05 Juni 2011 | BP
Debu Batin
Mimbar Buddha

Minggu, 05 Juni 2011


TUJUAN umat Buddha adalah mencapai kebahagiaan tertinggi, nibbana. Bila tujuan tertinggi ini tercapai maka tidak akan terlahir kembali di salah satu alam kehidupan yang ada. Kondisi yang tidak terikat dengan kelahiran yang berulang-ulang.



Tujuan tersebut tentu saja sulit. Banyak orang yang menganggap bagaikan mimpi di siang. Sebuah harapan yang masih sangat jauh. Walaupun demikian, bukan berarti tidak bisa dicapai dalam kehidupan sebagai manusia. Sang Buddha dan para siswa Beliau telah membuktikan dan mencapai tujuan tersebut. Semua orang bisa mencapainya. Yang perlu dilakukan hanyalah mengikuti jejak dan mempraktikan ajaran Dhamma yang telah diwariskan. Dhamma bagaikan peta yang bisa membimbing kita menuju ke sana.

Banyak umat Buddha yang ingin mencapai nibbana namun enggan melakukan latihan. Beberapa di antaranya mengatakan bahwa banyak siswa Buddha yang mencapai tingkat kesucian tertinggi tanpa melakukan latihan, hanya mendengarkan Dhamma secara singkat--satu atau beberapa bait syair saja.

Alasan tersebut kelihatan benar namun tidak sepenuhnya untuk ukuran zaman sekarang. Bila kebersihan batin dipakai sebagai ukuran, ada empat kelompok manusia dalam kehidupan ini.

Pertama, mereka yang mencapai tingkat kesucian hanya dengan mendengarkan satu bait syair saja. Upatissa mendapat pencerahan setelah mendengarkan satu bait syair dari Bhikkhu Assaji. Bersama sahabatnya, Kolita, dia kemudian menjadi pengikut Buddha dan menjadi siswa Buddha yang utama --Sariputta dan Monggalana. Mereka adalah orang-orang yang batinnya sudah sangat bersih sehingga bisa mencapai kesucian hanya dengan beberapa baris syair saja.

Kedua, mereka yang mencapai tingkat kesucian setelah mendengarkan satu sutta. Satu sutta, berarti satu khotbah Buddha, satu ajaran lengkap yang dibabarkan oleh Buddha dalam satu kesempatan. Ketika Buddha selesai menguraikan Dhammacakkavattana Sutta, Kondanna (salah satu siswa pertama Buddha Gotama) mencapai pencerahan. Kelima siswa utama tersebut mencapai pencerahan seluruhnya setelah mendengarkan khotbah Dhamma yang kedua. Mereka dapat dikatakan sebagai orang-orang yang juga batinya telah bersih.

Ketiga, mereka yang mencapai tingkat kesucian setelah berlatih atau mempraktikan Dhamma dalam kehidupan sehari-hari. Di zaman sekarang, ada beberapa bhikkhu yang dipercaya telah mencapai tingkat kesucian. Semuanya dilakukan dengan latihan yang tekun, perjuangan yang tanpa menyerah selama bertahun-tahun kehidupan.

Keempat, mereka yang telah belajar Dhamma dan telah berlatih dengan tekun namun belum berhasil mencapai tingkat kesucian.

Cobalah kita mengukur kekotoran batin yang ada dalam diri, kira-kira berapa tebalnya. Dalam kehidupan ini, sudah berapa banyak syair yang Anda dengar dan baca? Mungkin ada yang sudah membaca Dhammapada berulang kali. Ratusan syair yang sudah diulang-ulang, dibaca dalam bahasa Pali dan artinya. Namun, kita belum juga menembus kebenaran tersebut secara batin. Kita belum mencapai pencerahan, menjadi salah satu dari empat tingkat kesucian.

Entah sudah berapa banyak sutta yang dibaca dalam bahasa Pali. Dalam setiap kebaktian, kita membaca Karaniya Metta Sutta atau Manggala Sutta. Sudah ratusan atau ribuan kali. Dalam kesempatan lain, mungkin juga membaca sutta yang lain dan mengerti artinya. Kenyataanya kita juga belum menjadi tingkat kesucian.

Umat Buddha yang melatih diri juga banyak, mempraktikan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari, bermeditasi berhari-hari atau berbulan-bulan -- bahkan ada yang bertahun-tahun. Namun secara umum, kita belum berhasil menembus pencerahan, belum berhasil mencapai tingkat kesucian yang ada.

Dengan perenungan tersebut, sudah bisa dipastikan bahwa debu kekotoran batin yang melekat dalam diri kita sangat tebal. Kita tidak tahu ketebalannya. Walaupun demikian, merupakan kewajiban kita sebagai umat Buddha untuk mengikisnya sehingga debu tersebut semakin berkurang, semakin tipis. Tidak ada cara lain untuk membersihkan kecuali mempraktikan Dhamma dalam kehidupan ini dan dalam setiap kehidupan selanjutnya. Kita terus menyempurnakan diri, menyempurkan paramita.

Luangkan waktu untuk belajar, mengerti, dan mempraktikan Dhamma. Setiap latihan yang kita lakukan merupakan langkah-langkah kecil dalam mengikis kekotoran batin, langkah kecil menuju tujuan akhir. Selamat berlatih.



Dhana Putra



•     Waisak, Meneladani Buddha
•     Menuju Bali Damai
•     Mengatasi Masalah Kehidupan
•     Bukti Cinta Sesama Orang Beriman
•     Ajaran Para Buddha
•     Berlaku Adil Tanpa Memandang Muka
•     Ordo Karmel III Komunitas Santa Teresa Avila, Bali
•     Renungan Tahun Baru
•     Khotbah
•     Masa Adven 2012
•     Hidup Berbahagia
•     Ibrahim, Tokoh Teladan yang Diidolakan
•     Mimbar Buddha
•     FKUB Terjun ke Kantong-kantong Komunitas Beda Agama
•     Ujian Hidup
•     Menyaksikan Mukjizat Tuhan
•     Syarat Yadnya Berpahala Mulia
•     ‘’Selingkuh’’ Rohani
•     Tiga Landasan Dasar Keimanan Agama Khonghucu
•     Ketaatan yang Penuh Kasih
•     Bangkit Menuju Kebebasan
•     Tulus dan Jujur
•     Hari Doa Panggilan Sedunia
•     Hari Ini, Digelar ''Shie Jit Thien Sang Sen Muk''
•     Pulau Bagi Diri Sendiri
•     Sampaikan Aspirasi Hendaknya Tak Anarkis
•     Vihara Purnama Bali Gelar Upacara Pemberkatan
•     Warisan Leluhur
•     Adat Hindu Harus Selalu ‘’Nutana’’
•     (Ignatius Suharto) Mendidik Kaum Muda
•     Badai Matahari Timbulkan Fenomena Mengagumkan
•     Al Qur’an dan Shalat Melatih dan Memperkuat Akal
•     Jadilah Seorang Pengasih
•     Umat Kepunyaan Tuhan, yang Tetap Rajin Berbuat Baik
•     Lancip Gunung, Runcing Keris, Tajam Pikiran...
•     Kekayaan Duniawi
•     Cinta Kasih dan Kesuksesan
•     Memelihara Kasih Persaudaraan
•     Bulan Kitab Suci Nasional
•     Puasa Pun Usai, Lalu?
•     Nilai Agamis Sembahyang ''King Hoo Ping''
•     Ramadhan, Anugerah Istimewa
•     Membangun Keluarga Memajukan Gereja
•     Tertipu Dunia, Mengabaikan Ayat-AyatNya
•     Debu Batin
•     Bangun Persaingan yang Sehat Bermartabat
•     Minggu Panggilan
•     Retret Agung 2011
•     Memaknai Perayaan Tahun Baru Imlek
•     Ambil Waktu Anda
•     Meneladan Keluarga Kudus dari Nazaret
•     Jangan Berhenti Berbuat Baik
•     Renungan Dermaga Wacana
•     Penderitaan
•     Berbuat Baik di Bulan Kathina
•     Mulut Orang Benar Sumber Kehidupan
•     Ketaatan
•     Ihwal Buah Ramadhan
•     Syukur Bisa Bangun Pagi Ini
•     Umat Katolik di Singaraja Masih Trauma
•     Mimbar Buddha Jiwa-Jiwa yang Merdeka
•     Konfusianitas
•     Inti Isra' Mi'raj: Shalat!
•     Pesta Bola Dunia
•     Merayakan Hari Raya Tritunggal Mahakudus
•     Umat Buddha Rayakan Waisak
•     Gema Waisak
•     Menjadi Saksi Kristus
•     Mempesona, namun Menjerumuskan
•     Umat Rayakan Jumat Agung
•     Persiapan Paskah 2010
•     Oleh I Ketut Wiana
•     Menciptakan Hoki
•     Menjadi Anggota Tubuh Kristus
•     Sejarah Tahun Baru Imlek
•     Mewujudkan Harapan Baru
•     Membangun Wawasan tentang Waktu
•     Natal, Penggenapan Suatu Penantian dan Harapan
•     Hari Sembahyang Tang Cik
•     Persiapan Natal 2009
•     Ibrahim Sang Teladan
•     Kiamat
•     Perayaan Tumpek Krulut Pemujaan Bunyi-bunyian Menuju Harmonisasi Alam
•     Uang dan Keadilan
•     Putu Arya Tirtawirya dan Kematian yang Akrab
•     Pahlawan Keadilan dan Kejujuran

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak