"Sungguh, hari Tuhan akan datang, menyala seperti perapian. Maka semua orang yang gegabah dan setiap orang yang berbuat fasik akan menjadi seperti jerami, dan akan terbakar oleh hari yang datang itu," firman Tuhan semesta alam, akar dan cabang mereka pun tidak akan ditinggalkan. Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya. (Nubuat Maleakhi 4;1-2a)
Ketika naskah ini ditulis status Merapi masih pada level keempat atau awas. Merapi masih aktif mengeluarkan material vulkanik. Batas aman masih radius 20 km dari Merapi. Para pengungsi belum boleh kembali ke tempat tinggalnya. Mereka yang nekat, akan dievakuasi kembali ke tempat pengungsian oleh para relawan dan TNI yang beretugas. Diberitakan di Kabupaten Magelang ratusan hektar lahan pertanian rusak, para petani di sana menderita kerugian lebih dari 240 miliar rupiah.
Jumlah pengungsi dari Kabupaten Sleman, Klaten, Boyolali, Magelang sudah lebih dari tiga rarus ribu. Sebagian pengungsi di Klaten ada yang mendapat gangguan psikotis. Anak-anak banyak yang terserang ISPA. Ibu-ibu banyak yang stres karena bosan sudah belasan hari hidup berdesakan dengan sesame pengungsi. Korban yang meninggal sudah lebih dari dua ratus orang, yang dirawat di rumah sakit karena luka berat dan ringan hampir seratus orang. Kalau ditulis semua, daftar penderitaan akan memenuhi halaman ini. Yang membuat para pengungsi sangat menderita adalah karena mereka tidak tahu kapan penderitaan ini akan berakhir.
Demikian juga para keluarga yang berada di luar batas 20 km, walaupun mereka tidak mengungsi namun mereka juga ikut menderita karena mereka ikut meringankan penderitaan para saudaranya yang mengungsi. Dari segala lapisan ikut merasakan penderitaan mereka dengan mengirim bantuan semampunya. Dan yang lain menymbangkan tenaga, pikiran, waktu dan dan harta merreka dengan menjadi relawan. Media massa membua dompet peduli kemanusiaan demikian juga instistusi semua keagamaan. Yang tak kalah pentingnya adalah doa yang kontemplatif. Karena doa yang dermikian ibarat akar yang tidak tampak dari luar namun menjadi saluran hidup.
Kita semua ikut berdukacita atas bencana akibat meletusnya gunung Merapi, gempa bumi dan tsunami di Nias, banjir bandang di Wasior dan di tempat lain serta tanah longsor dan puting beliung dan kebakaran yang terjadi di bulan Oktober dan November di Tanah Air kita kini.
Kutipan dari Nubuat Maleakhi di atas merupakan bancaan pertama untuk Misa hari ini, 14 November 10. Kutipan ini tidak mengenai penderitaan di Tanah Air kita akhir-akhir ini, tetapi dibuat untuk kelak pada akhir zaman. Hal yang perlu kita ingat dan berlaku setiap saat bagi kita semua adalah sabda Tuhan yang mengatakan "Tetapi kamu yang takut akan nama-Ku, bagimu akan terbit surya kebenaran dengan kesembuhan pada sayapnya."
Kemudian ada pesan dari nenek yang mengatakan "Bila penderitaan diterima sebagai sesuatu kekuatan penting tanpa rasa benci dan marah, maka penderitaan dapat berubah menjadi anugerah besar. Bila penderitaan diterima dengan kebencian atau kemarahan dan dianggap tidak ada manfaatnya, maka penderitaan dapat menjadi malapetaka. Penderitaan tidak pernah diharapkan oleh siapa pun, tetapi penderitaan merupakan salah satu cara paling efektif di mana manusia dipersiapkan untuk menjadi sederhana dan mau bekerja sama dengan sesamanya. Penderitaan adalah obat bagi jiwa, karena tanpa penderitaan maka jiwa seseorang tidak dapat dikenal oleh orang lain. Tanpa pengaruh dari penderitaan, manusia akan tetap berada dalam keadaan yang sama dengan binatang yang lebih rendah tingkat kecerdasannya. Penderitaan menghancurkan rintangan yang ada antara jasmani manusia dan kemampuan rohaninya.
Penderitaan menghentikan kebiasaan lama dan menggantikannya dengan kebiasaan baru yang lebih baik. Adalah suatu fakta yang menyatakan bahwa penderitaan merupakan perlengkapan alam yang dapat mencegah manusia supaya tidak diperbudak oleh perasaan puas terhadap diri sendiri. Penderitaan memaksa manusia untuk mawas diri sehingga dapat menemukan obat untuk penyakit kekecewaannya dengan mendapatkan kebahagiaan. Penderitaan memperkenalkan seseorang pada keuntungan meditasi dan keheningan di mana kekuatan yang tidak kelihatan akan memberikan pertolongan atau hiburan yang cukup untuk selalu mengingatkan bahwa apa yang ada di dunia ini tidak abadi dan segalanya dapat sirna. Memang akhirnya terpulang pada cara masing-masing individu bagaimana menghadapi dan menanggapi penderitaan.