SYUKURLAH, cara menemukan inspirasi untuk bergerak menuju perbaikan (dan pencerahan) makin banyak jumlahnya. Sengaja datang ke toko buku untuk menikmati hangat chicken soup dan melahap novel-novel powerful, atau mencari buku terbaru para motivator favorit tentu sudah banyak menjadi pilihan. Pun datang pada para tokoh spiritual, atau menyisihkan waktu untuk menonton talk show tokoh-tokoh inspiratif yang telah bergumul dalam perjuangan memperjuangkan kehidupan lebih baik (tentu saja tak hanya untuk dirinya sendiri). Cara tirtayatra juga banyak ditempuh, berupaya mencari damai lalu mengendapkannya menjadi inspirasi. Harapan para penempuh jalan ini, pastilah tubuh dapat tumbuh meninggi ke arah lebih positif. Dalam alam pikir saya, semua cara tersebut dimaksudkan dapat berujung pada perubahan inspirasi menjadi motivasi untuk memperkokoh fondasi jiwa dan hati. Bagi jiwa, agar ia tak terbiasa jumawa. Bagi hati, agar ia biasa untuk berhati-hati dan berbagi.
KALI INI saya menemukan inspirasi itu dari sebuah baliho. Apakah fungsinya baliho yang sudah beberapa tahun ini didesain secara digital sehingga dapat lebih menarik tampilannya? Dengan ornamen sangat colorful, foto-foto yang sudah diedit dapat terpasang sempurna, bagus untuk kampanye individu, promosi lembaga dan acara-acara tertentu. Untuk keperluan komunikasi optimal-- apalagi menjadi sesuatu yang dapat menggugah jiwa-- tentu saja tak hanya selera mata yang harus terpuaskan melalui desain cantik, tetapi juga rangkaian kata yang perlu bicara pada publik. Apalagi ketika baliho dijadikan sebagai sarana komunikasi dari pemerintah dan rakyatnya, media untuk menyampaikan kebijakan dan ajakan. Idealnya, kebijakan dan ajakan dalam tema apa pun harus disampaikan dalam kalimat yang efektif. Kalimat itu bicara singkat, tepat namun dapat melekat bagi yang melihat.
SEBELUM LEBIH KHUSUS pada inspirasi lewat rangkaian kata, saya seringkali kehilangan konsentrasi di jalan raya karena dua kebutuhan. Pertama, kebutuhan untuk mendapat informasi tentang kegiatan-kegiatan khusus yang inspiratif. Kedua, kebutuhan untuk analisis linguistik dan fenomenanya. Mengamati pajangan foto yang menjadi refleksi kegiatan para pemimpin dalam visi dan misinya membangun adalah wujud kebutuhan pertama saya. Dari presentasi lewat cetakan besar di jalan-jalan itu, saya menaruh apresiasi pada usaha seorang pemimpin yang ingin menjadikan dunia lebih hijau dan sejuk, meningkatkan perhatian pada orang-orang terabaikan dan tak terpikirkan. Mencermati makna di balik semboyan, slogan, jargon, pengumuman dan ajakan yang sekiranya menyentuh ranah publik adalah aktualisasi kebutuhan kedua saya. Maka, hipotesis saya kira-kira berbunyi begini: makna mendalam ''sewaka dharma'' yang saya lihat dalam sebuah baliho merupakan sebuah inspirasi. Inspirasi yang dapat saja bertransformasi menjadi motivasi.
MENDENGUNGNYA ''sewaka dharma'' di telinga saya berawal dari sebuah baliho, di pertigaan jalan yang biasa saya lewati saat pulang kantor. Walau tak di jalan utama, pesan yang disampaikan pada publik itu dapat terlihat dengan cukup mencolok karena diletakkan di tempat agak tinggi. Alhasil, baliho itu menjadi sangat eye-catching. Banyak baliho yang karena alasan tertentu menarik perhatian saya. Bila dijabarkan secara khusus, alasan ketertarikan itu adalah karena tulisan dan angka-angka yang bombastis, gelaran acara yang relevan dengan kesenangan dan hobi saya, atau karena kata-kata yang menginspirasi. Kali ini, alasan saya untuk sangat tertarik adalah bersandingnya ''Sewaka Dharma dan Tri Kaya Parisudha''.
''MELAYANI ADALAH merupakan sebuah kewajiban''. Makna inilah yang sangat penuh oleh inspirasi. Di tengah udara panas dan cuaca yang tak lagi mudah diprediksi, tekad untuk memberi pelayanan akan membawa kesejukan dalam dua wujud. Hal ini sungguh akan berbuah sempurna bila sewaka dharma didasari kesadaran bahwa sesungguhnya seva (melayani) adalah swadharma (kewajiban) siapa saja. Keinginan mewujudkan sewaka dharma menjadi nyata dapat menjelma jadi angin sejuk dalam gerah udara yang sering terasa dalam perubahan cuaca amat cepat kini. Atmosfir segar di tengah makin panasnya suhu bumi, dan makin meningginya panas jiwa di jagat kaliyuga. Maka tentu saja inspirasi sewaka dharma akan menjadi motivasi bagi orang-orang yang mendambakan perbaikan diri lewat kesadaran bahwa menempatkan kemuliaan orang lain adalah membuat kemuliaan pribadinya menuju tempat lebih tinggi.
BERSANDINGNYA sewaka dharma dan tri kaya parisudha, kalau boleh dianalogikan sebagai sebuah langkah penelitian, untuk menguji hipotesis dan menjawab masalah yang dimunculkan, sang peneliti memerlukan alat untuk membuat penelitiannya berada dalam kerangka pemikiran akademis. Dalam wujudnya sebagai inspirasi dan motivasi, sewaka dharma dapat dilandaskan pada tiga fondasi kebaikan. Tri kaya parisudha menjadi alat untuk mewujudkan keinginan dan inspirasi itu. Berpikir, berkata dan berbuat baik adalah sejatinya tri kaya parisudha yang tak sedikit pun lepas dari jiwa memberi pelayanan dan melaksanakan kewajiban (dengan baik tentu saja). Tiga pilar ini menjadi kontrol agar setiap pribadi tak menyia-nyiakan kesempatan selalu melayani, dengan menjaga pikiran, menata kalimat agar terdengar santun, perbuatan yang didasari keikhlasan untuk membangun hidup penuh harmoni.
LANTAS, saya ingat beberapa rekaman peristiwa yang menghuni salah satu sudut memori otak saya. Setiap kali berurusan dengan berkas-berkas keperluan administrasi sebagai warga negara, berhadapan dengan orang yang ditakdirkan jadi pelayan masyarakat, atau katakanlah juga para customer service di tempat-tempat pelayanan publik, saya selalu menaruh harap. Mudah-mudahan urusan cepat beres dan dilayani dengan ramah. Itu tentu tak saja menjadi harapan saya, tetapi juga banyak orang yang berstatus jadi client, customer, pelanggan, pembeli dan sebagainya. Benang merah sewaka dharma dan tri kaya parisudha terletak pada upaya memberi pelayanan sebagai suatu kewajiban dengan cara menjaga pikir, kata dan laku kita. Dengan sinergi antara sewaka dharma dan tiga pilar kebaikan, pikiran seseorang yang hendak dilayani menjadi positif dan menjadi aura baik bagi yang melayani. Dilandasi sewaka dharma, perkataan yang bernada tinggi, bentak-bentak, setengah hati, diksi kata yang tak berkenan hati semakin kecil frekuensinya. Senyum dan gerak tubuh yang komunikatif terbangun dalam rasa saling membutuhkan. Bila begitu, gerah siang hari mungkin tak setajam biasanya. Mendung musim hujan barangkali pula tak sepenuhnya gelap dan hitam.
DEMIKIANLAH. Ketika kemudian setelah dari baliho, saya lihat lagi ''sewaka dharma'' tertulis besar di dinding sebuah kantor pelayanan publik, harapan saya makin mekar. Mekar untuk dua hal. Pertama, pelajaran bagi diri sendiri bahwa pelayanan dalam tri kaya parisudha akan membagi energi pada setiap usaha memasuki pintu pencerahan hati. Kedua, harapan untuk merasakan suasana dengan senyum yang ditabur, kata-kata tertata dan pikiran yang lebih bersinergi positif dalam segala situasi benar-benar menemukan wujudnya.