INGIN memahami isi kepala? Pahamilah kakimu, tutur sang Pendeta Sepuh, pada suatu kesempatan lain. Si Anak Muda yang cuma sanggup bernalar biasa-biasa saja saat itu tak paham benar, apa kaitan kepala dengan kaki. Tambah tak paham lagi manakala sang Pendeta Sepuh melanjutkan, Bila kamu ingin paham perihal hulu (ulu, dulu), cermatilah hilir (tebin) sebaiknya-baiknya. Pahami dahulu sedalam-dalamnya perihal kedalaman samudra, kelak ketinggian gunung pun niscaya dapat kau genggam.
BAGAIMANA memahami kepala dari kaki, memahami hulu lewat mencermati hilir, atau mendaki gunung lewat menyelami samudra? Ini, sungguh, tidak mudah dan sederhana buat memikirkannya dengan utak-atik pikiran kelas rata-rata biasa saja. Tapi, tetua Bali yang waskita, justru amat gemar membolak-balikkan penalaran normal, menjungkir-balikkan pengertian-pengertian lurus kebanyakan orang. Dan, sebagaimana biasa, sang Pendeta Sepuh waskita ini pun tidak banyak menguraikan penjelasankarena penjelasan berlebih ditengarai kerap kali malah kian mengaburkan esensi maknawi.
KETIKA si Anak Muda ini meminta penjelasan lebih dan lebih, yang didapat hanya jawaban pendek dari sang Pendeta Sepuh, Sisirlah Pasisi (Pantai) Padanggalak saban pagi, usai pasang. Ada apa lagi dengan pesisir timur Denpasar ini? Punyakah Padanggalak jawaban perihal relasi kepala-kaki, hulu-hilir ini?
YANG KERAP didapat, saban kali menyusuri pasir-pasir pesisir Padanggalak sampai Sanur, yang ditemukan adalah aneka ragam sampah mengotori pasir pantai. Suatu kali pasir hitam Pantai Padanggalak di muara loloan tukad Ayu(ng) ini penuh dengan sampah plastik bekas kemasan minuman, dari ukuran gelas sampai tanggung. Kali lain ada serakan bangkai hewan piaraan, seperti anjing, babi, ayam. Di lain kesempatan malah beberapa potong kayu serta ranting-ranting pohon teronggok. Ada kalanya juga sampah-sampah bekas banten, dan sebagainya.
DARI MANA sampah-sampah ini datang? Kebanyakan dari kawasan hulu dan tengah. Sampah-sampah di pesisir sebagai kawasan hilir dalam bentang ke-Alam-an itu bisa berkisah banyak perihal perilaku hingga gaya hidup manusia di hulunya. Persis seperti juru pijat refleksi yang menekan-nekan titik-titik simpul di telapak kaki guna memulihkan keseimbangan seluruh organ dan sistem di kepala pasien. Seorang juru pijat refleksi yang sudah piawai dengan mudah langsung menekan titik simpul syaraf di kaki pasien begitu si pasien usai menuturkan keluhan kesehatan yang diidapnya.
UNTUK menyembuhkan kesehatan si pasien, ahli pijat refleksi tak perlu sampai langsung menjamah kepala pasien. Kesembuhan, keseimbangan kepala, tersimpan kunci rahasianya di telapak kaki. Sepenalaran dengan inilah kiranya teka-teki sang Pendeta Sepuh tadi dapat dipahami: betapa sepanjang kawasan Padanggalak-Sanur sebagai pesisir hilir timur Kota Denpasar ini bisa menjelaskan banyak perihal cara dan pola berpikir sebagian orang Bali di hulunya yang membentang menembus wilayah Denpasar, Badung, hingga sebagian Bangli dan Buleleng.
PESISIR sebagai kawasan kaki dalam bentang ke-Alam-an memang bisa menjelaskan banyak perihal isi kepala-kepala orang. Hilir (sagara, pasir, pasih), karena itu, merupakan indikator kenyataan kehidupan dan perilaku dan perlakuan manusia terhadap Alam di kawasan hulu dan tengah. Itu sebab penataan ekologi pesisir, seperti Padanggalak-Sanur dengan tukad/telabah, loloan, pasisi/pantai, dan samudra sebagai penampungan seluruh aliran dari kawasan hulu dan tengah, sudah sepatutnya menjadi satu-kesatuan utuh-bulat integral dengan penataan kawasan tengah dan hulu sekaligus yang berbasiskan karakter aliran air. Laku nyagara-gunung, pasir-wukir, dalam tradisi Balidwipamandala-Nusantara barangkali pula bertutur perihal kesatu-paduan nan utuh sempurna nemugelang-ngawindu bentang alam yang alami: kaki-kepala, hilir-hulu, awal-akhir.
PASISI atau pesisir kiranya dapat menuturkan bernas perihal titik-garis perbatasan sekaligus titik-garis pertemuan antara dua sisi yang dalam persepsi pikiran saling berjauhan, saling berbeda: air tawar yang mengalir di satu sisi dengan air asin samudra di sisi lain; perairan dengan daratan; juga antara awal dengan akhir; layaknya rasa kantuk yang ditandai dengan mulut menguap sebagai titik-garis perbatasan antara kesadaran dengan ketaksadaran. layaknya pikiran yang menghubungkan sang Jiwa dengan badan-tubuh-ragawi ini. Atau, sandyakala (senjakala) yang menghubungkan terang siang dengan gelap malam dan sebaliknya gelap malam menuju terang fajar yang dihubungkan titik-garis perbatasan bernama subuh atau dini-hari (dwaja).
Tapi, di mana kepala ketemu kaki paling indah memesona, kini? Jawabannya, boleh jadi bukan lagi di pesisir timur Denpasar, di sepanjang Padanggalak-Sanur. Tapi, di tik-tak tak-tik gocekan-gocekan pemain sepakbola andal, yang kian berbiak seakan menjadi agama baru dunia. Pemain sepakbola ulung-lah yang kini piawai mempertontonkan nyata senyata-nyatanya: bagaimana pikiran di kepala itu ditempatkan di kaki, sehingga kaki seolah-olah menjadi kepala yang cerdas-bernas.