APAKAH Amla itu? Amla adalah sebutan untuk rasa asem. Pada umumnya rasa asem itu ditemukan pada buah dari pohon asem. Selain pohon asem, masih ada beberapa tanaman yang menghasilkan rasa asem, entah melalui daunnya, entah melalui akarnya.
Amla adalah salah satu dari enam jenis rasa pokok (sadrasa) yang disebutkan dalam teori penciptaan ala Samkhyadarshana. Lima rasa pokok yang lainnya adalah manis, pahit, pedas, kecut, dan asin.
Dari keenam rasa pokok itu hanya rasa asin yang berasal dari laut. Selebihnya, berasal dari daratan. Samkhya menyebutkan bahwa rasa itu adalah sari dari bumi. Semua itu disebut rasa pokok, atau rasa yang utama, karena dari keenam jenis rasa itu bisa diciptakan berbagai jenis rasa dengan cara mencampurkan satu dengan yang lainnya.
APAKAH rasa amla juga ada di dalam tubuh manusia?
Dalam teori penciptaan model Samkhya disebutkan bahwa apa yang ada di alam juga ada di dalam tubuh manusia, dan demikian juga sebaliknya. Apa yang tidak ada di alam, tidak juga ada di dalam tubuh. Pernyataan ini memang multitafsir. Namun demikian, teori itu membenarkan bahwa di dalam tubuh manusia juga ada rasa amla. Rasa amla itu konon menyebar ke bagian-bagian tertentu di dalam tubuh. Atau, rasa amla itu bisa pula terkonsentrasi pada satu bagian tertentu. Rasa amla dari alam yang memasuki tubuh sudah pasti melalui alat pengecap, yaitu lidah atau jihwa.
JIKA RASA AMLA yang ada di alam itu bisa dicicipi dengan lidah, dengan apakah kita bisa mencicipi rasa amla yang ada di dalam tubuh sendiri, ketika masih hidup? Dan bagaimana pula rasa amla itu? Apakah rasanya sama dengan rasa amla dari buah asem?
TIDAK MUDAH menjawab pertanyaan seperti itu. Dan kalau pun ada orang yang tahu rasa amla di dalam tubuh ini, bagaimana ia akan bisa menceritakannya kepada orang yang belum tahu. Rasa adalah satu ''pengalaman'' yang sulit dikomunikasikan. Orang akan tahu bagaimana rasa itu, hanya kalau sudah mengalaminya, atau mencicipinya. Dalam hal rasa, ''mengetahui'' berarti telah mengalami.
Oleh karena itu, bagi mereka yang penasaran ingin mengetahui rasa amla di dalam dirinya, tidak ada cara lain kecuali mengalaminya langsung. Tidak ada buku atau lontar akan menyuguhkan rasa amla itu kepada pikiran. Karena rasa bukanlah masalah pikiran. Tapi rasa adalah Rasa.
KATA amla sendiri adalah sebuah petunjuk untuk menuju ke rasa amla itu. Kata itu akan menjadi petunjuk bila dibaca Am dan La. Tapi itu baru petunjuk. Sebuah petunjuk tidak akan berarti apa-apa kalau tidak dijalani. Orang tidak akan sampai di kota Amlapura, misalnya, bila hanya memandang petunjuk di salah satu terminal pemberangkatan. Juga tidak akan sampai di rasa amla walau seandainya orang itu tidur berbantalkan lontar dan pustaka lainnya. Am dan La baru petunjuk. Yang ditunjuk adalah Amla itu sendiri.
KEDUA SUKU kata itu dalam penghayatan mistis yang pribadi menjadi dua silabel magis, yang dalam dunia shastra disebut benih-aksara atau bijaksara. Silabel Am, atau lebih umum disuarakan Ang, merepresentasikan gagasan tentang kekuatan bumi sebagai feminim di dalam tubuh. Silabel Ang umumnya berpasangan dengan silabel Ah, kekuatan maskulinnya yang ada di luar sistem bumi.
KEKUATAN BUMI itu menyebar sedemikian rupa di dalam tubuh. Kekuatan itu menyusup ke dalam tanah (daging-tulang), di dalam air (darah), di dalam api (panas di seluruh tubuh), di dalam angin (nafas), dan di dalam udara (suara di tenggorokan). Masing-masing kekuatan yang tersebar itu memiliki silabel magisnya sendiri-sendiri. Salah satunya adalah silabel La, yaitu silabel magis representasi kekuatan tanah di dalam tubuh. Ketika disuarakan silabel itu berbunyi Lang.
DEMIKIANLAH, jika Am adalah bumi secara keseluruhan, maka La adalah salah satu unsurnya, yaitu tanah dari bumi itu. Bila keduanya digabungkan akan menjadi bunyi amla, yang berarti sari bumi-tanah.
Di dalam tubuh ada satu kawasan (karang) yang bernama Amla. Letaknya di dasar gunung (meru) Kundalini. Dalam bahasa Bali tempat tersembunyi itu disebut karang-asem. Dalam bahasa Kawi tempat itu disebut Amla-pura. Dari tempat itulah ''matahari'' bisa diterbitkan oleh kekuatan keinginan atau kemauan (icchashakti), oleh kekuatan pikiran pengetahuan (jnanashakti), dan kekuatan usaha (kriyashakti). Tujuannya, agar matahari itu bertemu dengan bulan yang datang dari arah berlawanan.
BEGITULAH bacaan lain dari kata amla. Tentu akan ada bacaan yang lain lagi. Tidak masalah pula bila ada orang membacanya dengan cara berbeda, dengan hasil bacaan yang berbeda pula. Karena benar atau salah bukan terletak pada hasil bacaan. Tapi terletak pada pengalaman ketika mengalami rasa amla itu.