INI terjadi pada suatu sore di Padangbai. Puluhan orang tua muda laki perempuan berpakaian adat serba putih, masing-masing membawa keben dan rangsel, berdesakan memasuki ferry yang akan menyeberangkan mereka ke Nusa Penida, sebuah pulau kecil di selatan Klungkung. Siapakah mereka itu?
Tanpa perlu memeriksa KTP, kita segera tahu bahwa mereka adalah rombongan orang yang ''disedot'' oleh kekuatan magis Pura Dalem Ped, di Nusa Penida, yang kini menjadi salah satu tujuan tirtayatra. Rombongan orang-orang itu dalam istilah sekarang disebut pamedek, atau bhakta. Dibandingkan dengan objek tirtayatra lainnya, seperti Alas Purwo, Semeru, Lombok, India, dan beberapa lainnya yang ada di Pulau Bali, Pura terkenal di Nusa Penida ini termasuk yang paling diunggulkan. Apa sebabnya? Barangkali karena banyaknya cerita yang tersebar dari mulut ke mulut bahwa pura itu lain daripada yang lain. Dan barangkali cerita itu benar, sehingga semakin banyak saja orang tersedot. Dan barangkali orang-orang sekarang perlu bukti untuk bakti.
Saya terkesima oleh apa yang saya lihat. Tepatnya, terkesima oleh apa yang saya pahami tentang apa yang saya lihat itu. Sekujur pikiran saya dipenuhi oleh lamunan tentang dialektika antara Yang Dituju di sana dengan yang menuju ke sana. Sebagaimana umumnya isi lamunan, tentulah tidak jelas mana ujung mana pangkalnya. Namun demikian, isi lamunan bukanlah sampah yang serta-merta mesti disingkirkan. Karena itulah saya menuliskannya. Apalagi saya percaya kata buku, bahwa bila di hati ada kerinduan untuk ''mendekat'' kepadaNya, berarti Ia sedang bekerja di dalam hati.
Ferry tujuan Nusa Penida itu telah bergerak semakin jauh ke tengah laut. Rombongan tirtayatra itu semakin dekat ke tujuan, baik secara geografis maupun fisik. Dekat secara geografis berarti sisa jarak tempuh semakin pendek. Dekat secara fisik berarti (barangkali) badan kasar dan badan halus masing-masing orang mulai merasakan getaran vibrasi Pura Dalem Ped.
Ketika ferry itu nampak seperti sebuah titik kecil dan kemudian menghilang di kejauhan, mata saya tidak bisa lagi mengikuti rombongan itu. Karena secara fisik mata saya dibatasi oleh apa yang disebut jarak pandang. Telebih lagi saya sedang diam di satu titik. Diam berarti tidak mendekat dan tidak juga menjauh. Tapi yang namanya lamunan, ternyata bisa sampai duluan di Pura Dalem Ped. Namun demikian, tidak ada shastra yang mengatakan bahwa seseorang bisa mendekat ke Tujuan secara lamunan. Tapi biarlah! Saya toh tidak sedang ber-shastra. Saya hanya sedang melamun dalam perjalanan dari Bali menuju Lombok.
Jadi bagaimana pun juga, tirtayatra itu pertama-tama adalah bagaimana fisik, dalam arti gerak, nyata, keringat, debu, uang, waktu, tempuh, dan seterusnya. Orang yang hanya diam di satu tempat, tidak akan pernah dikatakan sedang melakukan tirtayatra atau dharmayatra, walaupun pikirannya meloncat dari satu pura, ke kuburan, ke puncak gunung, ke dalam gua, ke tengah laut, ke pura lagi. Tidak ada tirthayatra atau dharmayatra dalam lamunan. Tidak juga tirtayatra dalam tidur. Apalagi tidur yang penuh mimpi dan mengigau.
Barangkali bukan hanya tirtayatra, tapi agama itu sendiri adalah masalah action yang nyata. Itukah yang ingin disampaikan oleh para Dang Hyang dan para Mpu yang dulu dari satu pulau melakukan dharmayatra ke pulau lain?
Barangkali saja. Bukankah terbukti mereka datang dan pergi selalu ''membawa'' fisiknya. Tidak satu cerita agama pun yang pernah mengatakan bahwa mereka melakukan dharmayatra dengan cara meninggalkan fisiknya di pasraman masing-masing. Barangkali cerita itu ada, dan barangkali banyak jumlahnya. Namun itu bukan cerita tentang tirtayatra, tapi tentang sebuah kedigjayaan batin.
Baiklah action kalau begitu. Apakah action rombongan ke Pura Dalem Ped itu terjadi karena kekuatan besar yang dibangun secara bersama-sama oleh bermacan cerita yang pernah dibuat orang tentang Pura itu, baik kisah nyata maupun kisah imajinasi? Ataukah action mereka itu terjadi justru karena mereka sedang mencari bukti demi bakti? Bukankah bukti dan bakti itu dua hal yang saling memperkuat satu sama lainnya. Rasa bakti akan semakin menguat dengan adanya bukti-bukti. Sebaliknya, semakin bakti semakin mudah menemukan bukti. Karena kembali buku juga mengatakan, bagi orang yang memiliki ketajaman hati, apa saja yang ada bisa menjadi bukti tentang Yang Ada itu.
Lamunan saya terputus. Tiba giliran saya untuk masuk ke dalam konstruksi besi bernama ferry. Saya tidak sedang tirtayatra atau sedang ber-dharmayatra. Saya hanya sedang membawa fisik saya menuju satu tempat yang mesti ditempuh juga dengan action! Lamunan seperti yang saya ceritakan di atas, hanyalah sekadar bumbu sebuah action. Jangan tanya apakah itu bumbu penyedap atau bumbu pemberat sebuah perjalanan.
Ketika sandhyakala turun di tengah laut, Nusa Penida nampak seperti sebuah ferry raksasa dengan posisi terbalik. Tidak ada action apa pun yang bisa saya lakukan dari dalam ferry untuk sebuah Nusa Penida yang seakan memanggil-manggil, selain lagi-lagi melamunkannya. Tapi ini bukan lamunan agama, apalagi agama lamunan!