Untitled Document
» Berita Kota
30 Juni 2012 | BP
Mengungkap Misteri Bahan Keris Bali
Ada di Antaranya Unsur Beracun
BEBERAPA waktu lalu, Grup Riset Industri Manufaktur dan Permesinan Universitas Udayana bekerja sama dengan tim dari PT Sucofindo dan Museum melakukan penelitian untuk mengungkap misteri bahan yang terkandung dalam keris Bali. Menurut Prof. Dr. Tjokorda Gde Tirta Nindhia dari Grup Riset Industri Manufaktur dan Permesinan Universitas Udayana, pengujian dengan objek keris Ki Pijetan koleksi Museum Neka ini menggunakan peralatan XRF (X-ray fluorescence) portable. Alat uji ini mengeluarkan sinar-X yang mengenai objek yang diteliti, objek selanjutnya mengeluarkan sinar-X sekunder. Dari pengujian itu, katanya, terdapat 16 unsur yang dapat dideteksi yang terkandung dalam keris Ki Pijetan yakni molibdenum (11.5 ppm), arsenik (621.1 ppm), seng (66.8 ppm), tembaga (207.2 ppm), nikel (0.23%), kobalt (270.1 ppm), mangan (464,2 ppm), barium (330.8 ppm), timah putih (17.1 ppm), perak (36.4 ppm), krom (234.2 ppm), kalium (0.16%), silikon (0.1%), klorid (0.5%), belerang (0.1%), dan terakhir besi (84< %).

Dari 16 unsur yang terkandung dalam keris Ki Pijetan itu, ternyata ada beberapa di antaranya yang beracun. Salah satunya arsenik. Menurut Prof. Dr. Tjokorda Gde Tirta Nindhia, arsenik bukanlah logam, melainkan sejenis bahan antara logam dan nonlogam (metaloid). Patut diwaspadai oleh para pembuat dan pemilik keris, arsenik bersifat racun dan secara komersial memang diperjualbelikan untuk pestisida, herbisida dan insektisida. Pemanasan bahan-bahan yang mengandung arsenik akan menyebabkan berubah menjadi arsenik trioksida yang beracun. ''Untuk itu keris yang mengandung arsenik hindari dari aktivitas pemanasan kembali, atau saat pande besi menempa bahan keris, proses pemukulan dengan palu akan meningkatkan suhu dan menyebabkan arsenik terbakar dan menebar racun berbau seperti bawang putih,'' katanya.

Dia menambahkan, terdapat dua kemungkinan mengapa arsenik terdapat dalam keris. Pertama, proses yang di Jawa disebut mewarangi, yaitu membuat timbulnya pamor (guratan pada keris). Proses mewarangi di Jawa justru menggunakan bahan arsenik ini. Yang kedua, arsenik selalu merupakan produk sampingan dari industri pencairan dan pemurnian logam, baik pencairan perak, tembaga maupun timah. Apabila keris tersebut mengandung tembaga, perak atau timah, maka dapat dipastikan arsenik juga akan terdapat di dalamnya.

Di Bali, keris merupakan objek ritual, digunakan untuk mendapatkan air suci saat proses ngewangsuh. Keris juga digunakan saat prosesi ngurek atau ngunying pada pementasan ritual Calonarang dan sejenisnya. Untuk itu, sebaiknya proses mewarangi dengan menggunakan arsenik dilarang penggunaannya di Bali bagi keris-keris pusaka karena membahayakan. ''Dapat meracuni air suci dan juga membahayakan saat proses ngurek,'' katanya mengingatkan.

Tirta Nindhia menambahkan, barium juga bahan beracun seperti arsenik. Bahan baja yang mengandung barium dapat diketahui jika saat menempa keris menimbulkan warna kehijauan. Dalam industri pengecoran medern, barium memang sengaja ditambahkan untuk mengontrol karbon pada pembuatan baja. Barium dapat bersifat posporisensi yaitu berpendar saat gelap. ''Jika ada yang mendengar cerita tentang keris yang bersinar tatkala gelap, kemungkinan kandungan barium yang tinggi menyebabkan terjadinya hal tersebut,'' katanya.

Sementara itu, katanya, molibdenum dalam keadaan serbuk atau debu berbahaya bagi saluran pernapasan dan menyebabkan iritasi pada mata. Ini dapat dihindari dengan menggunakan perlindungan mata dan masker saat pengamplasan keris agar terhindar dari keracunan molibdenum. Sedangkan kalium berasal dari serbuk abu pembakaran jika menggunakan arang kayu. Untuk diperhatikan oleh para pande keris, saat mencelup panas keris dalam air, sebelum dicelup agar dibersihkan dulu sehingga tidak mengandung abu kalium dari arang kayu dengan menghentakkannya. Jika ini tidak dilakukan, saat mencelup akan terjadi ledakan akibat terbentuk kalium hidroksida. ''Air celupan juga diusahakan tidak mengenai kulit karena kalium hidroksida menyebabkan iritasi pada kulit,'' katanya.

Selain mengandung unsur beracun, ternyata bahan keris yang memiliki sifat positif yaitu sebagai antimikrobial. Misalnya, logam tembaga dapat membunuh berbagai bakteri penyebab penyakit termasuk virus dan jamur. Tidak salah kalau zaman dahulu di Bali banyak menggunakan paduan tembaga (seperti uang kepeng dan besi kuning) untuk jimat atau kalung karena logam ini memiliki sifat antimikrobial. Begitu juga dengan perak, secara ilmiah bersifat antimikrobial seperti juga tembaga yang dapat membunuh jenis-jenis mikrobakteri. (ian)



[ Kembali ]
•     Di Pura Campuhan Windhu Segara Empat ''Palinggih'' Baru Dibangun

 
Balipost.com--Berita Bali Post Online Edisi Cetak