Kebangkitan
Pertanian,
Kebutuhan
Dasar
Manusia
Oleh
Dr. Ir.
I Gde
Suranaya
Pandit, M.P.
SERATUS
Tahun
Kebangkitan Nasional
Indonesia dapat
dipakai
sebagai salah
satu
tonggak sejarah
untuk
bangkitnya sektor
pertanian
dalam
arti luas
dalam
penyediaan pangan
yang memadai
untuk
kebutuhan sekitar 250
juta
penduduk
Indonesia.
Fenomena
tersebut
hendaknya
membuat
pemerintah Indonesia beserta
segenap
rakyat harus
sadar
akan
adanya
bencana kekurangan
pangan yang
ditandai
dengan
meningkatnya angka
kemiskinan,
kelaparan
dan
gizi buruk.
Untuk
itu
Seratus Tahun
Kebangkitan
Nasional
dapat
dipakai sebagai
semangat
untuk
mendorong pemerintah
beserta
seluruh petani,
peternak,
nelayan
dan pengolah
hasil
pertanian untuk
segera
bangkit membangun
pertanian yang
selama
ini terpuruk
dan
kurang diminati
generasi
penerus.
Hasil
pertanian
berupa
berbagai pangan
merupakan
kebutuhan
dasar
dari seluruh
umat
manusia di
dunia
ini. Tanpa
pangan yang
cukup
maka kehidupan
bernegara
akan
menjadi
kacau, kecerdasan
generasi
penerus
akan menurun
dan
akhirnya akan
berkembang
berbagai
jenis
penyakit serta
memperpendek
harapan
hidup manusia.
Untuk
menuju
hidup tenteram
dan
damai, maka
pangan
merupakan salah
satu
faktor yang harus
tercukupi,
karena
di dalam
pangan
itu sendiri
terdapat
komponen-komponen yang
sangat
dibutuhkan oleh
tubuh
untuk tumbuh
dan
berkembang serta
melakukan
berbagai
aktivitas
hidup.
Komponen
tersebut
seperti protein
untuk
membangun dan
mengganti
sel yang
rusak
akibat berbagai
aktivitas
manusia,
karbohidrat
dan
lemak dibutuhkan
untuk
memperoleh energi
untuk
proses tersebut.
Vitamin
dan mineral
untuk
pemeliharaan fungsi
tubuh
dan keseimbangan
serta air yang
dikandung
oleh
bahan pangan
diperuntukkan
sebagai
pelarut dan
memperlancar
reaksi
kimia di
dalam
tubuh.
Untuk
mendorong
bangkitnya
sektor
pertanian dalam
arti
luas maka
pemerintah
harus
menetapkan beberapa
pioritas.
Pertama,
iklim
pertanian yang kondusif
bagi
tumbuh dan
berkembangnya
sektor yang
menjadi
kebutuhan dasar
manusia.
Kedua,
akses
pasar dan
teknologi
pascapanen
serta
teknologi pengolahan
hasil
pertanian juga
tidak
kalah penting
dalam
rangka menumbuhkan
semangat
petani,
karena hasil
pertaniannya
dapat
terserap dengan
harga yang
menguntungkan.
Berbagai
langkah
kongkret yang dapat
dipakai
untuk terciptanya
iklim
pertanian yang kondusif
antara
lain dengan
menetapkan
daerah-daerah
pertanian
sesuai
dengan keunggulan
kearifan
lokal yang
sudah
cocok dengan
kondisi
setempat.
Menyediakan
infrastruktur yang
dibutuhkan
oleh
petani seperti
irigasi
dan akses
jalan
raya.
Penyediaan
pupuk
dan pestisida
pada
saat dibutuhkan
dengan
kuantitas maupun
kontinuitasnya.
Tersedianya
akses
pasar dengan
harga yang
layak, yang
selama
ini membuat
para
petani kapok yaitu
bila
musim panen
tiba,
di mana
harga
selalu rendah
dan
anjlok.
Paradigma
ini
harus diubah
dan
dicarikan solusi
oleh
pemerintah terkait.
Adanya
akses pasar yang
di
dalamnya berisi
berbagai
informasi
harga
jual yang layak,
daerah/negara
atau
perusahaan yang membutuhkan
serta
tersedianya gudang-gudang
yang dapat
menampung
hasil
pertanian petani yang
merupakan
sarana
teknologi pascapanen,
sehingga
dapat
melindungi hasil
panen
petani dari
kerusakan
akibat
berbagai
hama
dan
pembusukan.
Industri
berupa
pabrik pengolahan
hasil
pertanian untuk
menampung
hasil
produksi yang melimpah
untuk
dijadikan berbagai
produk
dengan nilai
tambah.
Pembinaan
dan
pelatihan kepada
petani
serta nelayan
secara
kontinu
akan menumbuhkan
rasa
percaya diri
dan
keyakinan petani
untuk
terus semangat
guna
membangun pertanian.
Mendukung
dan
mendorong berdirinya
sekolah-sekolah
di
bidang pertanian agar
kesinambungan
generasi
penerus
tetap terjalin
untuk
menggantikan petani-petani
yang sudah
tua.
Bantuan
dan
penyediaan kredit
jangka
panjang dengan
bunga
rendah dapat
membantu
untuk
ekstensifikasi dan
intensifikasi
usaha
pertanian.
Penulis,
dosen
FakultasPertanian
Universitas
Warmadewa