kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 27 Mei 2008

 Debat


Kebangkitan
Pertanian, Kebutuhan Dasar Manusia
Oleh
Dr. Ir. I Gde Suranaya Pandit, M.P.

SERATUS Tahun Kebangkitan Nasional Indonesia dapat dipakai sebagai salah satu tonggak sejarah untuk bangkitnya sektor pertanian dalam arti luas dalam penyediaan pangan yang memadai untuk kebutuhan sekitar 250 juta penduduk Indonesia.

     Fenomena tersebut hendaknya membuat pemerintah Indonesia beserta segenap rakyat harus sadar akan adanya bencana kekurangan pangan yang ditandai dengan meningkatnya angka kemiskinan, kelaparan dan gizi buruk. Untuk itu Seratus Tahun Kebangkitan Nasional dapat dipakai sebagai semangat untuk mendorong pemerintah beserta seluruh petani, peternak, nelayan dan pengolah hasil pertanian untuk segera bangkit membangun pertanian yang selama ini terpuruk dan kurang diminati generasi penerus. Hasil pertanian berupa berbagai pangan merupakan kebutuhan dasar dari seluruh umat manusia di dunia ini. Tanpa pangan yang cukup maka kehidupan bernegara akan menjadi kacau, kecerdasan generasi penerus akan menurun dan akhirnya akan berkembang berbagai jenis penyakit serta memperpendek harapan hidup manusia.

Untuk menuju hidup tenteram dan damai, maka pangan merupakan salah satu faktor yang harus tercukupi, karena di dalam pangan itu sendiri terdapat komponen-komponen yang sangat dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh dan berkembang serta melakukan berbagai aktivitas hidup. Komponen tersebut seperti protein untuk membangun dan mengganti sel yang rusak akibat berbagai aktivitas manusia, karbohidrat dan lemak dibutuhkan untuk memperoleh energi untuk proses tersebut. Vitamin dan mineral untuk pemeliharaan fungsi tubuh dan keseimbangan serta air yang dikandung oleh bahan pangan diperuntukkan sebagai pelarut dan memperlancar reaksi kimia di dalam tubuh.

 

Untuk mendorong bangkitnya sektor pertanian dalam arti luas maka pemerintah harus menetapkan beberapa pioritas. Pertama, iklim pertanian yang kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya sektor yang menjadi kebutuhan dasar manusia. Kedua, akses pasar dan teknologi pascapanen serta teknologi pengolahan hasil pertanian juga tidak kalah penting dalam rangka menumbuhkan semangat petani, karena hasil pertaniannya dapat terserap dengan harga yang menguntungkan. Berbagai langkah kongkret yang dapat dipakai untuk terciptanya iklim pertanian yang kondusif antara lain dengan menetapkan daerah-daerah pertanian sesuai dengan keunggulan kearifan lokal yang sudah cocok dengan kondisi setempat. Menyediakan infrastruktur yang dibutuhkan oleh petani seperti irigasi dan akses jalan raya. Penyediaan pupuk dan pestisida pada saat dibutuhkan dengan kuantitas maupun kontinuitasnya. Tersedianya akses pasar dengan harga yang layak, yang selama ini membuat para petani kapok yaitu bila musim panen tiba, di mana harga selalu rendah dan anjlok. Paradigma ini harus diubah dan dicarikan solusi oleh pemerintah terkait. Adanya akses pasar yang di dalamnya berisi berbagai informasi harga jual yang layak, daerah/negara atau perusahaan yang membutuhkan serta tersedianya gudang-gudang yang dapat menampung hasil pertanian petani yang merupakan sarana teknologi pascapanen, sehingga dapat melindungi hasil panen petani dari kerusakan akibat berbagai hama dan pembusukan. Industri berupa pabrik pengolahan hasil pertanian untuk menampung hasil produksi yang melimpah untuk dijadikan berbagai produk dengan nilai tambah. Pembinaan dan pelatihan kepada petani serta nelayan secara kontinu akan menumbuhkan rasa percaya diri dan keyakinan petani untuk terus semangat guna membangun pertanian. Mendukung dan mendorong berdirinya sekolah-sekolah di bidang pertanian agar kesinambungan generasi penerus tetap terjalin untuk menggantikan petani-petani yang sudah tua. Bantuan dan penyediaan kredit jangka panjang dengan bunga rendah dapat membantu untuk ekstensifikasi dan intensifikasi usaha pertanian.

Penulis, dosen FakultasPertanian Universitas Warmadewa

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)