Program yang sudah
dicanangkan
pemerintah
memang
sebaiknya tidak
dipolemikkan
berlarut-larut,
apalagi
ada yang sampai
menolak.
Masalahnya,
bila
masalah dipermasalahkan
akan
berdampak memunculkan
masalah
baru lagi.
Tinggal
saat ini
pemerintah
harus
serius menggarap
program yang sudah
dicanangkan.
Pengawasan
mesti
benar-benar diefektifkan
dengan
lebih mengutamakan
pengabdian
untuk
kesejahteraan rakyat.
--------------------------------
Idealnya,
BLT dan Program
Padat
Karya
Oleh
Alit Purnata
PRO-KONTRA
soal
kenaikan harga BBM
sudah
tidak ada
manfaatnya
lagi.
Berbagai argumen
pembenar agar
pemerintah
tidak
menaikkan harga BBM
terpatahkan
sudah,
dengan berlakunya
argumen
pemerintah. Sekalipun
aksi-aksi
protes
di beberapa
daerah
masih berlanjut,
setelah
resmi diumumkan
Sabtu (24/5)
lalu
harga BBM naik,
aksi-aksi
itu
tidak bermakna
lagi,
bahkan lebih
mendatangkan
masalah
baru. Di Jakarta,
misalnya,
aksi demo
berbuntut
penangkapan
mahasiswa,
ketegangan
pihak
kampus dengan
aparat,
kerusakan gedung
kampus,
atau terganggunya
kelancaran
aktivitas
warga
masyarakat lainnya
yang menggunakan
sarana
publik.
-----------------------
Kini
babak
baru sudah
ada di
depan
mata yakni
harga premium
dari Rp
4.500 per liter menjadi
Rp 6.000 per liter, solar
Rp 5.500
dari
sebelumnya Rp 4.300
per liter dan
minyak
tanah yang merupakan
kebutuhan
utama
ibu-ibu rumah
tangga
menjadi Rp 2.500
dari
sebelumya Rp 2.000
per liter. Artinya,
saat
ini masyarakat
kita
mengalami beban
hidup
semakin berat.
Bukan
saja untuk
membeli BBM yang
memang
lebih mahal,
tetapi
menghadapi lonjakan
harga
sebagai dampak
kenaikan
harga
minyak tersebut.
Harga
sembako sudah
pasti
naik, bahkan
sebelum
harga BBM secara
resmi
dinaikkan. Kenaikan
harga
kebutuhan pokok
sehari-hari
itu
lebih hebat
daripada
biaya
siswa sekolah,
karena
naik sampai
dua kali.
Pertama,
saat
baru diisyaratkan (menjelang)
kenaikan,
dan
pada saat
harga BBM
resmi
diumumkan naik.
Sedangkan
biaya
sekolah siswa
hanya
naik sekali
dalam
setahun, itu pun
bisa
juga tidak
naik.
Dengan
menaikkan
harga BBM,
tampaknya
pemerintah
sudah
tidak mampu
lagi
mencari solusi lain.
Bahkan,
Wapres Jusuf
Kalla (JK)
berani
mempertaruhkan
popularitasnya. Ini
artinya SBY-JK
mau
tidak mau
harus
mengambil keputusan
untuk
menaikkan harga BBM
dengan
tidak memikirkan
lagi
ketenaran diri
sendiri.
Artinya,
kebijakan
tidak
populis ini
sudah
siap diterima
dengan
kehilangan popularitas.
Termasuk
tidak
merespons sorotan DPR
dan
juga maraknya demo
mahasiswa
dan
masyarakat di
mana-mana.
Masalahnya
saat
ini, bagaimana
memecahkan
persoalan yang
semakin
berat dirasakan
rakyat.
Tentu tidak
tepat
hanya menyalahkan
program yang sudah
dicanangkan
pemerintah.
Tentu
juga masukan yang
diberikan
masyarakat
dan
pengamat, jangan
dianggap
angin
lalu saja.
Seperti program BLT (bantuan
langsung
tunai),
misalnya, yang diberikan
kepada 19,1
juta
rumah tangga
miskin (RTM)
dan
pemberian beras
untuk
keluarga miskin (raskin)
senilai
Rp 4,2 trilyun,
sudah
seharusnya dilaksanakan.
Kebijakan
pemerintah
untuk
menolong rakyat
secara
langsung sebagai
dampak
dari kenaikan
harga BBM,
memang
seharusnya dihormati.
Persoalan program
itu
lantas dinilai
kurang
mendidik, membuat
rakyat
malas, menurunkan
martabat
rakyat
atau sebutan
apa pun,
pada
saat ini agar
dibiarkan
dulu
berjalan. Yang terpenting
bagaimana
jutaan
rakyat miskin
itu
tertolong dan
bisa
bernapas lega
untuk
menutupi kebutuhan
sehari-hari
dengan
menerima Rp 100
ribu per
bulan.
Dengan BLT itu,
rakyat
miskin bisa
membeli
makanan atau
pangan
kebutuhan sehari-hari,
yang selama
ini
hanya bisa
menikmati
nasi
aking dalam
keseharian
seperti
banyak diwartakan
media
massa.
Logikanya,
setelah
masyarakat mendapatkan
BLT, tentu
mereka
tidak lantas
diam
hanya menunggu
pencairan BLT
berikutnya.
Ketika
pangan dalam
sebulan
atau beberapa
bulan
tersedia di
rumah
tangga masing-masing
maskin, program
pemerintah
lainnya
harus sudah
diluncurkan.
Seperti
banyak dikemukakan
pengamat,
maka program
padat
karyalah yang paling tepat
dibuat. Program
padat
karya masuk
desa
sudah harus
jalan
dan melibatkan
tenaga
masyarakat luas.
Banyak
sektor bisa
dikembangkan yang
melibatkan
banyak
orang, seperti
pertanian,
perkebunan,
perikanan,
industri
dan
perdagangan serta
lainnya.
Kegiatan
padat
karya itu
misalnya
membuat
saluran irigasi
melibatkan
banyak
orang, pengerukan
sungai,
pembuatan jalan
desa
menuju daerah
terisolasi,
dan lain-lainnya.
Kegairahan
masyarakat
juga
perlu dipacu
dengan
memberi subsidi
di
sektor pertanian.
Baik
keringanan dalam
harga
pupuk, obat-obatan
sampai
bantuan bibit.
Karena
idealnya, dalam
mengurangi
kemiskinan
adalah
bagaimana pemerintah
memberikan ''ikan''
yang dalam
hal ini
BLT dan ''pancing''
adalah program
padat
karya dalam
pemberdayaan
masyarakat.
Ke
depan tentu
sudah
harus diprogramkan,
tidak
saja rakyat
mendapatkan
ikan
dan punya
pancing,
juga
sekaligus punya
kolam
ikannya.
Pemerintah
Serius
Program yang sudah
dicanangkan
pemerintah
memang
sebaiknya tidak
dipolemikkan
berlarut-larut,
apalagi
ada yang sampai
menolak.
Masalahnya,
bila
masalah dipermasalahkan
akan
berdampak memunculkan
masalah
baru lagi.
Tinggal
saat ini
pemerintah
harus
serius menggarap
program yang sudah
dicanangkan.
Pengawasan
mesti
benar-benar diefektifkan
dengan
lebih mengutamakan
pengabdian
untuk
kesejahteraan rakyat.
Program bagus
dan
biaya besar
tidak
akan mencapai
sasaran
bila anggarannya
sudah
terpangkas dari
pusat
sampai ke
daerah
hingga diterima minim
oleh
mereka yang berhak
menerima.
Tindakan
tegas
bagi aparat yang
menyelewengkan
dana BLT,
misalnya,
mesti
diterapkan dengan
konsekuen.
Kehadiran
KPK langsung
mengawasi
pencairan BLT,
tentu
menjadi babak
baru yang
mesti
mendapat acungan
jempol
untuk tidak
memunculkan
kemelut
pembagian BLT pada
2005. Pemberdayaan
masyarakat
lewat PNPM
Mandiri
atau Program Nasional
Pemberdayaan
Masyarakat
Mandiri yang
menyasar 3.999
kecamatan
dengan
anggaran Rp 13,2
trilyun
atau masing-masing
Rp 1
milyar per kecamatan,
bisa
berjalan dengan
baik.
Apalah artinya
penghematan
belanja
departemen Rp 30,3
trilyun,
penghematan
dan
efisiensi Pertamina
Rp 7
trilyun atau
penghematan
biaya PLN
Rp 5
trilyun dan
mengoptimalkan
penerimaan
negara
nonmigas sampai
Rp 20
trilyun, bila
korupsi
tetap saja
marak.
Di sinilah
ditunggu
kesungguhan
pemerintah,
aparat
dari pusat
sampai
daerah berkomitmen
meniadakan KKN (korupsi,
kolusi
dan nepotisme)
tersebut.
Semangat 100
Tahun
Kebangkitan Nasional,
Mei 2008
ini
hendaknya menjadi
pemicu
dan pemacu
tekad
itu. Termasuk slogan
yang digelorakan
pemerintah ''Indonesia
Bisa''
hendaknya mendorong
kita ''bisa
bersemangat''
untuk
menjadikan bangsa
ini ''bisa
maju''
dan tentu
bukan ''bisa
mundur''
atau
malah terpuruk.
Penulis,
wartawan Bali Post
---------------------------
*
Program bagus
dan
biaya besar
tidak
akan mencapai
sasaran
bila anggarannya
sudah
terpangkas dari
pusat
sampai ke
daerah
hingga diterima minim
oleh
mereka yang berhak
menerima.
*
Kehadiran KPK
langsung
mengawasi
pencairan BLT,
tentu
menjadi babak
baru yang
mesti
mendapat acungan
jempol
untuk tidak
memunculkan
kemelut
pembagian BLT pada
2005.
*
Ditunggu
kesungguhan
pemerintah,
aparat
dari pusat
sampai
daerah berkomitmen
meniadakan KKN (korupsi,
kolusi
dan nepotisme).