Miskin
Mental, Bangsa Indonesia
Terpuruk
SUDAH
63 tahun
Indonesia
merdeka,
namun
kondisi bangsa
Indonesia masih
saja
terpuruk, masih
sangat
jauh dari
cita-cita
Proklamasi.
Selama
kurun waktu
lebih
dari enam
dasa
warsa itu,
lima
orang
presiden silih
berganti
mengendalikan
roda
pemerintahan di
Indonesia.
Namun,
keterpurukan
itu
masih saja
membelenggu.
Faktor
utama
pemicu keterpurukan
bangsa
Indonesia
itu,
terletak pada
sikap mental
komponen
anak
bangsa yang keropos.
Yakni,
lebih
banyak komponen
anak
bangsa yang terjangkit
"penyakit"
miskin mental
dibandingkan yang
kaya mental.
Hal itu
ditegaskan motivator nomor
satu Indonesia
Andrie
Wongso pada
acara
talkshow "Dari Bali Kita
Bangkitkan Kembali
Semangat
Nasionalisme Indonesia
Berdasarkan
Budi" yang
digelar
Inti Bali bersama
Kelompok Media Bali Post.
Acara
ini
digelar serangkaian
100 Tahun
Kebangkitan
Nasional
di
Gedung Ksirarnawa
Taman
Budaya Bali,
Senin (26/5)
kemarin.
"Penyakit"
miskin mental
itu,
kata Andrie
Wongso,
teraktualisasi dalam
bentuk
malas, loyo,
tidak
disiplin, takut
tantangan,
banyak
mengeluh, tidak
mengerti
tanggung
jawab
dan berbagai
sikap
negatif lainnya,
tapi
mengharapkan kehidupan
lebih
enak. Jika
komponen
anak
bangsa tidak
mampu
melepaskan diri
dari "penyakit"
miskin mental
itu,
maka jangan
pernah
bermimpi Indonesia
akan
bangkit.
Dia
menegaskan, Indonesia
dewasa
ini memang
sarat
dengan "penyakit"
berat
dan akut.
Kualitas
sumber
daya manusia (SDM)
Indonesia
saat
ini berada
di
peringkat 115 di
antara 175
negara-negara
di
dunia.
Di
tataran ASEAN,
sudah
tertinggal dari
Malaysia,
Thailand, Filipina dan
Vietnam.
Apalagi
jika
dibandingkan dengan
Singapura yang
sudah
melaju sangat
jauh.
Kualitas
SDM yang rendah
itu
diperparah lagi
dengan
tingginya utang
luar
negeri, angka
kemiskinan,
pengangguran,
korupsi
dan berbagai
permasalahan
lainnya.
Selama
ini,
kata dia, Indonesia
senantiasa
dininabobokan
dengan
predikat sebagai
negara yang
kaya
raya
akan sumber
daya
alam.
Ditegaskannya,
perbedaan
antara
negara miskin
atau
negara berkembang
seperti
Indonesia
dengan
negara maju
dan
kaya tidak
tergantung
dari
umur negara,
sumber
daya alam,
ras,
warna kulit,
kecerdasan
dan
agamanya.
Sebagai
contoh,
India
dan
Mesir berusia
lebih 2.000
tahun
tapi masih
tetap
miskin sampai
saat
ini.
Sebaliknya
Singapura, Australia,
Kanada
dan Selandia
Baru
berumur di
bawah 150
tahun,
tapi saat
ini
sudah dikelompokkan
sebagai
negara maju.
Pada
kesempatan
itu,
Pimpinan Kelompok
Media Bali Post Satria
Naradha
menegaskan momentum
peringatan 100 Tahun
Kebangkitan
Nasional
ini
wajib dimanfaatkan
sebagai
ajang untuk
mengevaluasi
segala
sesuatu yang semestinya
bisa
dilakukan terhadap
Bali maupun Indonesia
tercinta
ini.
Dalam
konteks
kehidupan berbangsa
dan
bernegara saat
ini,
Bali
memang
memiliki posisi
penyangga.
"Kalau
kita
berbicara dalam
konteks
seratus tahun
kebangkitan
bangsa
ini,
Bali telah
seratus
tahun menyangga
dari
cita-cita para
pendahulu
kita,
bagaimana bersatu
dalam
kebhinekaan dalam
sebuah
bangsa besar
bernama Indonesia
ini,"
ujarnya.
Satria
Naradha
berharap, posisi Bali
sebagai
penyangga kejayaan
NKRI itu
bisa
makin diperkuat
oleh
segenap komponen
masyarakat Bali.
Dengan
begitu,
masyarakat
Bali
bisa
menjadi matahari
bagi
nasionalisme dan
jati
diri bangsa
Indonesia.
"Dalam
konteks
ini, kita
memerlukan
peran
dari seluruh
warga
Bali
dan
sameton-sameton kita
warga
Tionghoa yang ada
di Bali.
Kami
yakin dan
kita
pasti bisa
untuk
memberi contoh
bagi
kawan-kawan kita yang
berada
di wilayah
lain di
Indonesia. Mari
kita tunjukkan
bahwa
dari
Bali
kita
kembali bangkitkan
kejayaan
bangsa Indonesia,"
tegasnya.
Guna
merealisasikan
hal itu,
kata
dia, segenap
komponen
bangsa
harus bangkit
bersama-sama
dan
makin mengentalkan
semangat
dan
kesadaran untuk
bersatu.
Komitmen
itu,
tidak semata
diaktualisasikan
dalam
bentuk talkshow
tapi
harus diimplementasikan
dalam
langkah-langkah yang lebih
nyata.
"Saat
ini,
bangsa kita
memang
sedang berada
di
persimpangan jalan.
Berbagai
kendala
mengancam dan
dari
segi ekonomi
kita
betul-betul terpuruk.
Tapi,
saya
yakin bahwa
Bali akan
menjadi
lokomotif ekonomi
bangsa Indonesia
dan
kita semua
juga
bisa menjadi
lokomotif
dan
menjadi pemain-pemain
yang nasionalis,
berbudi
dan memiliki
jati
diri," tegasnya.
Sementara
itu
Ketua Pembina INTI Ir. Frans
B Siswanto
mengajak
semua
komponen bangsa
khususnya
warga
Thionghoa yang ada
di Bali
terus mengabdikan
diri
pada bangsa
dan
negara.
''Marilah
kita
menjadi warga
negara yang
terbaik,''
katanya.
Talkshow
yang dipandu
Komunikator
nomor
satu Indonesia Ponijan
Liaw, MBA
ini
dihadiri ratusan
komponen
masyarakat Bali yang
meliputi
unsur
tokoh masyarakat
dan
adat, generasi
muda,
rektor PTN/PTS se-Bali dan
warga
Tionghoa di Bali.
(ian)