kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 27 Mei 2008

 Nusantara


Miskin
Mental, Bangsa Indonesia Terpuruk

SUDAH 63 tahun Indonesia merdeka, namun kondisi bangsa Indonesia masih saja terpuruk, masih sangat jauh dari cita-cita Proklamasi. Selama kurun waktu lebih dari enam dasa warsa itu, lima orang presiden silih berganti mengendalikan roda pemerintahan di Indonesia. Namun, keterpurukan itu masih saja membelenggu. Faktor utama pemicu keterpurukan bangsa Indonesia itu, terletak pada sikap mental komponen anak bangsa yang keropos. Yakni, lebih banyak komponen anak bangsa yang terjangkit "penyakit" miskin mental dibandingkan yang kaya mental.

Hal itu ditegaskan motivator nomor satu Indonesia Andrie Wongso pada acara talkshow "Dari Bali Kita Bangkitkan Kembali Semangat Nasionalisme Indonesia Berdasarkan Budi" yang digelar Inti Bali bersama Kelompok Media Bali Post. Acara ini digelar serangkaian 100 Tahun Kebangkitan Nasional di Gedung Ksirarnawa Taman Budaya Bali, Senin (26/5) kemarin.

"Penyakit" miskin mental itu, kata Andrie Wongso, teraktualisasi dalam bentuk malas, loyo, tidak disiplin, takut tantangan, banyak mengeluh, tidak mengerti tanggung jawab dan berbagai sikap negatif lainnya, tapi mengharapkan kehidupan lebih enak. Jika komponen anak bangsa tidak mampu melepaskan diri dari "penyakit" miskin mental itu, maka jangan pernah bermimpi Indonesia akan bangkit.

Dia menegaskan, Indonesia dewasa ini memang sarat dengan "penyakit" berat dan akut. Kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia saat ini berada di peringkat 115 di antara 175 negara-negara di dunia. Di tataran ASEAN, sudah tertinggal dari Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam. Apalagi jika dibandingkan dengan Singapura yang sudah melaju sangat jauh. Kualitas SDM yang rendah itu diperparah lagi dengan tingginya utang luar negeri, angka kemiskinan, pengangguran, korupsi dan berbagai permasalahan lainnya.

Selama ini, kata dia, Indonesia senantiasa dininabobokan dengan predikat sebagai negara yang kaya raya akan sumber daya alam. Ditegaskannya, perbedaan antara negara miskin atau negara berkembang seperti Indonesia dengan negara maju dan kaya tidak tergantung dari umur negara, sumber daya alam, ras, warna kulit, kecerdasan dan agamanya. Sebagai contoh, India dan Mesir berusia lebih 2.000 tahun tapi masih tetap miskin sampai saat ini. Sebaliknya Singapura, Australia, Kanada dan Selandia Baru berumur di bawah 150 tahun, tapi saat ini sudah dikelompokkan sebagai negara maju.

Pada kesempatan itu, Pimpinan Kelompok Media Bali Post Satria Naradha menegaskan momentum peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional ini wajib dimanfaatkan sebagai ajang untuk mengevaluasi segala sesuatu yang semestinya bisa dilakukan terhadap Bali maupun Indonesia tercinta ini. Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, Bali memang memiliki posisi penyangga. "Kalau kita berbicara dalam konteks seratus tahun kebangkitan bangsa ini, Bali telah seratus tahun menyangga dari cita-cita para pendahulu kita, bagaimana bersatu dalam kebhinekaan dalam sebuah bangsa besar bernama Indonesia ini," ujarnya.

Satria Naradha berharap, posisi Bali sebagai penyangga kejayaan NKRI itu bisa makin diperkuat oleh segenap komponen masyarakat Bali. Dengan begitu, masyarakat Bali bisa menjadi matahari bagi nasionalisme dan jati diri bangsa Indonesia. "Dalam konteks ini, kita memerlukan peran dari seluruh warga Bali dan sameton-sameton kita warga Tionghoa yang ada di Bali. Kami yakin dan kita pasti bisa untuk memberi contoh bagi kawan-kawan kita yang berada di wilayah lain di Indonesia. Mari kita tunjukkan bahwa dari Bali kita kembali bangkitkan kejayaan bangsa Indonesia," tegasnya.

Guna merealisasikan hal itu, kata dia, segenap komponen bangsa harus bangkit bersama-sama dan makin mengentalkan semangat dan kesadaran untuk bersatu. Komitmen itu, tidak semata diaktualisasikan dalam bentuk talkshow tapi harus diimplementasikan dalam langkah-langkah yang lebih nyata. "Saat ini, bangsa kita memang sedang berada di persimpangan jalan. Berbagai kendala mengancam dan dari segi ekonomi kita betul-betul terpuruk. Tapi, saya yakin bahwa Bali akan menjadi lokomotif ekonomi bangsa Indonesia dan kita semua juga bisa menjadi lokomotif dan menjadi pemain-pemain yang nasionalis, berbudi dan memiliki jati diri," tegasnya.

Sementara itu Ketua Pembina INTI Ir. Frans B Siswanto mengajak semua komponen bangsa khususnya warga Thionghoa yang ada di Bali terus mengabdikan diri pada bangsa dan negara. ''Marilah kita menjadi warga negara yang terbaik,'' katanya.

Talkshow yang dipandu Komunikator nomor satu Indonesia Ponijan Liaw, MBA ini dihadiri ratusan komponen masyarakat Bali yang meliputi unsur tokoh masyarakat dan adat, generasi muda, rektor PTN/PTS se-Bali dan warga Tionghoa di Bali. (ian)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)