Demo BBM Meluas,Angkot
Ikut
Mogok
Jakarta (Bali Post) -
Bali
Post/ap
BOM MOLOTOV - Seorang mahasiswa sedang
melemparkan bom molotov saat demo penolakan kenaikan
harga BBM di Jakarta, Senin (26/5) kemarin. Demo menolak
kenaikan harga BBM di Jakarta makin meluas. Tak hanya
mahasiswa, juga karyawan, buruh dan sopir angkot.
Aksi
unjuk
rasa menolak
kenaikan
bahan
bakar minyak (BBM)
terus
berlanjut pascapenetapan
resmi
oleh pemerintah.
Kali ini,
unjuk
rasa tidak
hanya
dilakukan mahasiswa,
juga
buruh dan
karyawan yang
merasa
makin terbebani
dengan
naiknya harga BBM.
Aksi
unjuk rasa
tersebut
dilakukan
mahasiswa
dan
buruh di
depan
Istana
Merdeka, Jakarta, Senin
(26/5) kemarin.
Ribuan
demonstran se-Jabotabek
yang tergabung
dalam
Serikat Pekerja
Seluruh Indonesia (SPSI)
datang
menggunakan truk
dan minibus.
Mereka
terpaksa
berjalan kaki
menuju
istana karena
jalan
menuju istana
hari
itu ditutup
aparat
kepolisian. Dari
arah
timur, ratusan
buruh
terpaksa berjalan
kaki dari
Stasiun
Gambir karena
truk yang
membawa
mereka hanya
bisa
sampai di situ.
Sementara yang
lain
datang dari
arah
selatan.
Mereka
melakukan
longmarch
dari
Bundaran Hotel Indonesia dan
memadati
jalur
busway.
Kehadiran
para
demonstran membuat
jalan
macet.
Untuk
meredakan
suasana,
Juru
Bicara Presiden
Andi
Mallarangeng menerima
perwakilan
pengunjuk
rasa.
Dari pantauan Bali Post,
aksi
unjuk rasa
juga
terjadi di lain
tempat
seperti di
Cawang yang
dilakukan
mahasiswa
Universitas Kristen
Indonesi (UKI)
di
depan kampus
mereka.
Aksi
yang telah
berlangsung
sejak
Jumat pekan
lalu
itu masih
terus
berlanjut.
Aksi
juga
dilakukan mahasiswa
Universitas
Nasional (Unas)
yang masih
berupaya
membebaskan 148
rekan-rekan
mereka yang
saat
ini ditahan
di
Polres Jakarta Selatan.
Angkot
Mogok
Selain
unjuk
rasa, sejumlah
pengemudi
dan
pengusaha angkutan
umum di
Jakarta, Senin
kemarin
melakukan aksi
mogok
kerja.
Buntutnya,
banyak
masyarakat yang telantar
karena
tidak ada
angkutan
umum yang
mengangkut
mereka.
Dari pantauan Bali Post,
di
kawasan Palmerah,
angkutan
Mikrolet M-16
dengan
rute Tanah
Abang-Kebon
Jeruk
tampak menghilang
dari
siang hingga
menjelang
malam.
Mikrolet yang biasa
membuat terminal
bayangan
di
sepanjang perempatan
Slipi
atau di
depan
Pasar Palmerah
tidak
ada satu pun yang
beroperasi.
Menteri
Perhubungan
Jusman
Syafii Djamal
mengakui
meski
ada sebagian
wilayah
melakukan aksi
mogok
kerja,
ia meyakini
tidak
akan sampai
meluas.
Karena
itu,
pemerintah tidak
membuat
langkah antisipasi
khusus
menangani persoalan
ini.
''Kelihatannya
enggak
ada.
Jadi
belum
ada,'' kata
Jusman
usai mendampingi
Presiden
menghadiri Indonesia
Regional Investment Forum 2008 di
Jakarta, kemarin.
Jusman
meyakini,
soal
kenaikan tarif
pascapenetapan
kenaikan BBM
oleh
pemerintah memang
menjadi
dampak dari
kebijakan
tersebut.
Terutama,
kenaikan
tarif
di dalam
kota.
Karena
itu,
kalau sampai
terjadi
mogok nasional,
menurutnya,
ada
Organda selaku
organisasi yang
bertanggung
jawab
dalam masalah
ini.
(kmb4/kmb1)