Sopir Angkot di Buleleng Terpaksa Naikkan Ongkos
JIKA
ada pekerjaan lain, saya sudah dari dulu berhenti jadi
sopir angkot, kata Nengah Merta, sopir angkot di Kota
Singaraja sembari menunggu penumpang di depan Perumahan
Satelit Asri Singaraja, Senin (26/5) kemarin. Lontaran
bernada pasrah itu dikeluarkan untuk menyatakan bahwa
pekerjaan sopir bukan pekerjaan yang mudah dan
menyenangkan. Ketika harga bahan bakar minyak (BBM) naik,
sopir bisa jadi merupakan korban pertama. Naikkan harga
BBM otomatis membuat mereka harus menaikkan tarif
angkutan, sedangkan di sisi lain jumlah penumpang
dipastikan akan terus menurun seiring dengan naiknya
tarif angkutan tersebut.
Sopir angkutan umum memang akan selalu menghadapi dilema
ketika harga BBM naik. Dilema yang dihadapi bukan hanya
persoalan antara tarif dan minimnya penumpang, namun
juga persoalan hidup keluarga mereka sendiri yang juga
jauh dari kata sejahtera. Para sopir hanya bisa pasrah
menunggu pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berpihak
kepada nasib sopir, misalnya memberikan subsidi BBM
kepada mobil angkutan umum.
Nengah Merta, warga Kampung Tinggi Singaraja yang
menjadi sopir angkot jurusan Banyuasri-Penarukan,
menyatakan persoalan yang dihadapi para sopir itu bukan
masalah tinggi atau rendahnya tarif angkutan. Masalah
yang dihadapi adalah jumlah penumpang yang terus menurun
akibat meningkatnya jumlah kepemilikan motor atau mobil
pribadi. Jika tarif naik, kemungkinan penumpang akan
terus berkurang, katanya.
Saat ini, kata Merta, pemerintah di Buleleng memang
belum mengumumkan kenaikan tarif angkutan umum secara
resmi. Namun para sopir angkot di Singaraja secara
diam-diam sudah menaikkan tarif namun jumlahnya tidak
terlalu banyak. Jika sebelumnya tarif angkot Rp 3.000,
kini sopir meningkatkan menjadi Rp 4.000. Ini dilakukan
agar mereka masih bisa mendapatkan keuntungan, meski
jumlahnya sangat sedikit, katanya.
Dengan tarif Rp 4.000 itu, lanjut Merta, para sopir
sebenarnya tak bisa mendapatkan keuntungan yang banyak.
Paling-paling hanya Rp 5.000 atau Rp.10.000 sehari.
Dalam sehari seorang sopir rata-rata mengantongi
pendapatan kotor sebesar Rp 80.000. Dari pendapatan itu
sopir harus mengeluarkan biaya untuk membeli bensin
sebesar Rp 70.000 sampai Rp 75.000 sehari. Bagaimana
bisa mendapatkan keuntungan jika ongkos yang diberikan
penumpang itu lebih banyak untuk membeli bensin, katanya.
Selain angkot, mobil angkutan antar kabupaten juga sudah
menaikkan tarif sebelum pemerintah dan pihak-pihak
terkait lainnya mengumumkan kenaikan tarif secara resmi.
Seperti mobil angkutan jurusan Singaraja-Denpasar yang
sebelumnya hanya Rp 15.000 kini meningkat menjadi
sekitar Rp 20.000. Seperti juga alasan yang disampaikan
Merta, para sopir yang lain juga mengaku terpaksa
menaikkan tarif karena tarif lama sudah tidak bisa
memberikan keuntungan bagi para sopir. Jika tarif lama
masih diberlakukan, saya tak bisa makan, karena harga
pokok juga turut naik, kata seorang sopir di Singaraja.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten
Buleleng Anak Agung Ngurah Kusa membenarkan secara resmi
tarif angkutan umum di Buleleng memang belum dinaikkan
secara resmi. Ia mengaku sudah sempat melakukan
koordinasi dengan Pemkab lain di Bali, dan diketahui
memang sebagian besar belum ada yang menaikkan tarif
angkutan umum secara resmi. Saya sudah koordinasi dengan
Pemkab dan belum ada yang menaikkan tarif, katanya.
Untuk di Buleleng, Kusa mengatakan pihaknya baru akan
mengadakan rapat pada Kamis (29/5) mendatang untuk
membicarakan soal kenaikan tarif angkutan tersebut.
Pihak yang diajak rapat adalah Badan Pembina Lalu Lintas
Jalan, Organda, Jasa Raharja. Dalam rapat itu nanti
ditentukan seberapa tarif itu harus dinaikkan, ujarnya.
(ole)