kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 27 Mei 2008

 Ekuin


Sopir Angkot di Buleleng Terpaksa Naikkan Ongkos

JIKA ada pekerjaan lain, saya sudah dari dulu berhenti jadi sopir angkot, kata Nengah Merta, sopir angkot di Kota Singaraja sembari menunggu penumpang di depan Perumahan Satelit Asri Singaraja, Senin (26/5) kemarin. Lontaran bernada pasrah itu dikeluarkan untuk menyatakan bahwa pekerjaan sopir bukan pekerjaan yang mudah dan menyenangkan. Ketika harga bahan bakar minyak (BBM) naik, sopir bisa jadi merupakan korban pertama. Naikkan harga BBM otomatis membuat mereka harus menaikkan tarif angkutan, sedangkan di sisi lain jumlah penumpang dipastikan akan terus menurun seiring dengan naiknya tarif angkutan tersebut. 

Sopir angkutan umum memang akan selalu menghadapi dilema ketika harga BBM naik. Dilema yang dihadapi bukan hanya persoalan antara tarif dan minimnya penumpang, namun juga persoalan hidup keluarga mereka sendiri yang juga jauh dari kata sejahtera. Para sopir hanya bisa pasrah menunggu pemerintah mengeluarkan kebijakan yang berpihak kepada nasib sopir, misalnya memberikan subsidi BBM kepada mobil angkutan umum. 

Nengah Merta, warga Kampung Tinggi Singaraja yang menjadi sopir angkot jurusan Banyuasri-Penarukan, menyatakan persoalan yang dihadapi para sopir itu bukan masalah tinggi atau rendahnya tarif angkutan. Masalah yang dihadapi adalah jumlah penumpang yang terus menurun akibat meningkatnya jumlah kepemilikan motor atau mobil pribadi. Jika tarif naik, kemungkinan penumpang akan terus berkurang, katanya. 

Saat ini, kata Merta, pemerintah di Buleleng memang belum mengumumkan kenaikan tarif angkutan umum secara resmi. Namun para sopir angkot di Singaraja secara diam-diam sudah menaikkan tarif namun jumlahnya tidak terlalu banyak. Jika sebelumnya tarif angkot Rp 3.000, kini sopir meningkatkan menjadi Rp 4.000. Ini dilakukan agar mereka masih bisa mendapatkan keuntungan, meski jumlahnya sangat sedikit, katanya.  

Dengan tarif Rp 4.000 itu, lanjut Merta, para sopir sebenarnya tak bisa mendapatkan keuntungan yang banyak. Paling-paling hanya Rp 5.000 atau Rp.10.000 sehari. Dalam sehari seorang sopir rata-rata mengantongi pendapatan kotor sebesar Rp 80.000. Dari pendapatan itu sopir harus mengeluarkan biaya untuk membeli bensin sebesar Rp 70.000 sampai Rp 75.000 sehari. Bagaimana bisa mendapatkan keuntungan jika ongkos yang diberikan penumpang itu lebih banyak untuk membeli bensin, katanya.  

Selain angkot, mobil angkutan antar kabupaten juga sudah menaikkan tarif sebelum pemerintah dan pihak-pihak terkait lainnya mengumumkan kenaikan tarif secara resmi. Seperti mobil angkutan jurusan Singaraja-Denpasar yang sebelumnya hanya Rp 15.000 kini meningkat menjadi sekitar Rp 20.000. Seperti juga alasan yang disampaikan Merta, para sopir yang lain juga mengaku terpaksa menaikkan tarif karena tarif lama sudah tidak bisa memberikan keuntungan bagi para sopir. Jika tarif lama masih diberlakukan, saya tak bisa makan, karena harga pokok juga turut naik, kata seorang sopir di Singaraja.   

Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Buleleng Anak Agung Ngurah Kusa membenarkan secara resmi tarif angkutan umum di Buleleng memang belum dinaikkan secara resmi. Ia mengaku sudah sempat melakukan koordinasi dengan Pemkab lain di Bali, dan diketahui memang sebagian besar belum ada yang menaikkan tarif angkutan umum secara resmi. Saya sudah koordinasi dengan Pemkab dan belum ada yang menaikkan tarif, katanya.

Untuk di Buleleng, Kusa mengatakan pihaknya baru akan mengadakan rapat pada Kamis (29/5) mendatang untuk membicarakan soal kenaikan tarif angkutan tersebut. Pihak yang diajak rapat adalah Badan Pembina Lalu Lintas Jalan, Organda, Jasa Raharja. Dalam rapat itu nanti ditentukan seberapa tarif itu harus dinaikkan, ujarnya.  (ole)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)