BLT, Bikin (Pemerintah)
Lebih
Terkenal
KENDATI
bantuan
langsung tunai (BLT)
tetap
akan
dilaksanakan,
tetap
saja mengandung
kontroversi.
Beberapa
daerah
bahkan secara
terbuka
menolak menyalurkan
dana
BLT.
Ada
yang mengemukakan
alasan
rasional yakni
tidak
mendidik masyarakat,
namun
ada juga yang
karena
alasan politis,
khawatir
BLT bisa
menaikkan
popularitas
pemerintah (baca:
SBY-JK).
Muncul
plesetan BLT,
bikin (pemerintah
SBY-JK) lebih
terkenal.
Plesetan
ini
boleh jadi
hanya
iseng, namun
kalau
dilihat substansinya
juga
mengandung kebenaran.
Di
satu
sisi Presiden
Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY)
dan
Wapres Jusuf
Kalla (JK)
mengaku
merelakan popularitasnya
turun
gara-gara menaikkan
harga BBM
bersubsidi.
Namun
di sisi
lain,
keduanya justru
mereguk
simpati dan
popularitas
dengan
menggulirkan program BLT
untuk keluarga
miskin.
Pemerintahan
SBY-JK seolah
menjadi
sinterklas yang datang
ke
gubuk-gubuk reyot
menawarkan
Rp 100.000 yang
sesungguhnya
tak
banyak membantu
masyarakat
untuk
ke luar
dari "situasi
batas" (istilah
Paulo Freire),
yakni
kemiskinan.
Kemiskinan,
sebagaimana
dibuatkan
oleh
para sosilolog,
ada yang
terjadi
secara kultural,
ada pula yang
terjadi
secara struktural.
Kultural
lebih
disebabkan oleh
kondisi internal
dan
lingkungan si
miskin,
sementara kemiskinan
struktural
terjadi
karena kondisi
sosial
politik di
luar
jangkauan si papa.
Dengan
demikian,
persoalan
kemiskinan
tidak
sederhana.
Tak
sekadar
diukur dari
berapa kali
makan
sehari, pakai
kutang
atau tidak,
tinggal
di rumah
petak,
tamat di
sekolah
mana.
Kemiskinan
sangat
kompleks.
Di
dalamnya
menyangkut
nilai-nilai
sosial,
etos kerja,
keyakinan,
bahkan
pilihan hidup.
Karena
itu,
pendataan pemerintah
yang hanya
didasarkan
pada
indikator-indikator ekonomi,
bukan
saja mengentengkan
persoalan,
tetapi
juga bisa
menyesatkan.
Dalam
kondisi
seperti ini,
tentu
sangat rawan
terhadap
manipulasi
oleh
mereka yang disapa
Ebiet G.
Ade
sebagai ''tangan yang
tega
berbuat nista''.
Sudah
menjadi
rahasia umum,
dana
BLT yang jumlahnya
trilyunan
rupiah
itu diselewengkan
oleh
mereka yang menyalurkannya.
Ada KKN,
ada mark-up
jumlah
penerima, ada
penyunatan
dengan
alasan ini-itu.
Bahkan,
ada pula yang
menjadikannya
sebagai "modal
politik"
untuk
mencari popularitas,
seolah-olah
dananya
dari kantong
pribadi.
Yang memilukan,
penerapan BLT
di Indonesia
tampaknya
salah momentum.
Di
tengah
kampanye mengenai
Kebangkitan
Nasional yang
dirayakan 100
tahun,
pemerintah justru
mengajari
rakyatnya
untuk
bermental gembel,
meminta-minta
dan
mengiba.
Tanpa
meneteskan
keringat,
dapat
bantuan gratis.
Di
sini,
harus diakui
pemerintahan SBY-JK
dengan
seluruh jajajarannya
telah
gagal memilih
jalan.
Alih-alih
untuk
membantu rakyat
miskin,
justru meninabobokannya
agar terus
bermimpi,
kapan
dapat gratisan
lagi?
Saat
pemilu, pilih
si anu
saja ah...
Tidak
salah lagi, BLT
memang
bikin lebih
terkenal!
*
gregorius