Dacin-------
Benahi
Kemacetan
dan
Pungli di
Jalanan
Di
kalangan
pengusaha
angkutan,
termasuk
angkutan
pariwisata,
kenaikan
harga BBM yang
diumumkan
pemerintah
belum lama
ini
sangat memberatkan
usaha
mereka.
Meski
BBM merupakan
salah
satu komponen
harga
pokok tarif,
harga
onderdil naik,
dan
pungli yang diduga
masih
menambah derita
pengusaha
transportasi.
Usahanya
terancam
bangkrut
terjadi
di jalanan
ini yang
mengancam
kebangkrutan
bersama.
Dalam
masa
krisis dan
turunnya
daya
beli masyarakat,
kenaikan
tarif
memang memberatkan.
Tetapi
kalau
angkutan juga
tidak
dinaikkan kasihan
pengusaha
angkutan yang
menjerit.
Bukan
rahasia
umum pemerintah
selalu
penuh kejutan.
Mengumumkan
kenaikan
harga BBM
menyebabkan
pengusaha
angkutan
kelimpungan.
Yang lebih
menyedihkan,
kita
lihat infrastruktur
yang dibuat
pemerintah
kalah
jauh dengan
perkembangan
transportasi.
Akibatnya
kemacetan
di
jalan, dan
ini
pemborosan.
Yang lainnya
masih
terdengar pungli (pungutan
liar) yang dilakukan
oknum
tertentu, baik
dibirokrasi
maupun
di jalanan.
Saat
ini
keadaan pelaku
jasa
transportasi, khususnya
yang bergerak
di
bidang penyediaan
angkutan
wisata
sangat lesu.
Kondisi
angkutan
pariwisata
belum
menunjukkan kemajuan.
Bahkan,
cenderung menurun
karena
adanya berbagai
travel warning dan travel
advisory yang dikeluarkan
negara-negara lain.
Saat
ini
pengoperasian armada
angkutan pariwisata
jauh
menurun dibandingkan
tahun-tahun
sebelumnya.
Demikian
pula, realisasi order
maupun
penyewaan armada
diperkirakan tidak
akan
sesuai
dengan harapan
dan
melorot drastis
dibandingkan
tahun
lalu.
Kondisi
ini
tentu saja
sangat
memberatkan pengusaha
mengingat
umumnya
akhir tahun
selalu
dijadikan momen
untuk
menggenjot penghasilan.
Guna
mengantisipasi
terus
lesunya bisnis
jasa
angkutan pariwisata
ini,
para pelaku
bisnis
angkutan pariwisata
giat
melakukan promosi
dan
menggandeng komponen
pariwisata
lainnya
guna meningkatkan
angka
kunjungan wisatawan.
Dengan
cara
demikian
mereka
akan tertolong
di
tengah merosotnya
wisatawan
domestik
karena
naiknya harga BBM.
Bagi
pengusaha
angkutan
kondisinya pun
menyulitkan.
Coba
kalau
dihitung rata-rata sebuah
bus memerlukan 142 liter
untuk
sekali operasional.
Dengan
harga
baru, taruhlah
bensin
sekarang Rp 6.000 per
liter, tentu
bikin
ketir juga
bila
tarifnya tidak
dinaikkan.
Dalam
masa
krisis begini
banyak
angkutan diam-diam
sudah
menaikkan tarif yang
besarnya
bervariasi.
Itu
biasanya
sopir yang
menaikkan
tarif
kendaraan mikrolet
dan
sejenisnya.
Kendaraan
jenis
ini menaikkan
tarif
lebih dulu
karena
kondisinya sering
rusak.
Jadi
dia
menyesuaikan dengan
naiknya
harga onderdil yang
mahal
bukan main.
Jika
orang
miskin mendapat
subsidi,
usaha
angkutan juga
berhak
mendapatkan subsidi
dari
pemerintah.
Dari pengalaman
yang lalu
para
pengusaha menggunakan
onderdil
bekas
pakai. Jika
kali ini
dilanjutkan
lagi,
keamanan penumpang
akan
dikorbankan.
Jika
terjadi
kecelakaan dan
makan
korban, pengusahalah
yang salah.
Lalu
di mana
letak
tanggung jawab
pemerintah?
*
wirya