kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 27 Mei 2008

 Ekuin


Dacin
-------
Benahi
Kemacetan dan Pungli di Jalanan

Di kalangan pengusaha angkutan, termasuk angkutan pariwisata, kenaikan harga BBM yang diumumkan pemerintah belum lama ini sangat memberatkan usaha mereka. Meski BBM merupakan salah satu komponen harga pokok tarif, harga onderdil naik, dan pungli yang diduga masih menambah derita pengusaha transportasi. Usahanya terancam bangkrut terjadi di jalanan ini yang mengancam kebangkrutan bersama.

Dalam masa krisis dan turunnya daya beli masyarakat, kenaikan tarif memang memberatkan. Tetapi kalau angkutan juga tidak dinaikkan kasihan pengusaha angkutan yang menjerit. Bukan rahasia umum pemerintah selalu penuh kejutan. Mengumumkan kenaikan harga BBM menyebabkan pengusaha angkutan kelimpungan.

Yang lebih menyedihkan, kita lihat infrastruktur yang dibuat pemerintah kalah jauh dengan perkembangan transportasi. Akibatnya kemacetan di jalan, dan ini pemborosan. Yang lainnya masih terdengar pungli (pungutan liar) yang dilakukan oknum tertentu, baik dibirokrasi maupun di jalanan.

Saat ini keadaan pelaku jasa transportasi, khususnya yang bergerak di bidang penyediaan angkutan wisata sangat lesu. Kondisi angkutan pariwisata belum menunjukkan kemajuan. Bahkan, cenderung menurun karena adanya berbagai travel warning dan travel advisory yang dikeluarkan negara-negara lain. Saat ini pengoperasian armada angkutan pariwisata jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Demikian pula, realisasi order maupun penyewaan armada diperkirakan tidak akan sesuai dengan harapan dan melorot drastis dibandingkan tahun lalu. Kondisi ini tentu saja sangat memberatkan pengusaha mengingat umumnya akhir tahun selalu dijadikan momen untuk menggenjot penghasilan. Guna mengantisipasi terus lesunya bisnis jasa angkutan pariwisata ini, para pelaku bisnis angkutan pariwisata giat melakukan promosi dan menggandeng komponen pariwisata lainnya guna meningkatkan angka kunjungan wisatawan. Dengan cara demikian mereka akan tertolong di tengah merosotnya wisatawan domestik karena naiknya harga BBM.

Bagi pengusaha angkutan kondisinya pun menyulitkan. Coba kalau dihitung rata-rata sebuah bus memerlukan 142 liter untuk sekali operasional. Dengan harga baru, taruhlah bensin sekarang Rp 6.000 per liter, tentu bikin ketir juga bila tarifnya tidak dinaikkan. Dalam masa krisis begini banyak angkutan diam-diam sudah menaikkan tarif yang besarnya bervariasi.

Itu biasanya sopir yang menaikkan tarif kendaraan mikrolet dan sejenisnya. Kendaraan jenis ini menaikkan tarif lebih dulu karena kondisinya sering rusak. Jadi dia menyesuaikan dengan naiknya harga onderdil yang mahal bukan main.

Jika orang miskin mendapat subsidi, usaha angkutan juga berhak mendapatkan subsidi dari pemerintah. Dari pengalaman yang lalu para pengusaha menggunakan onderdil bekas pakai. Jika kali ini dilanjutkan lagi, keamanan penumpang akan dikorbankan. Jika terjadi kecelakaan dan makan korban, pengusahalah yang salah. Lalu di mana letak tanggung jawab pemerintah? * wirya

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)