kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 25 September 2007

 Tajuk Rencana


Mencari
Pemimpin Berkualitas

WACANA seputar sistem perekrutan dan pemilihan presiden dan kepala daerah terus bergulir. Dalam manajemen perusahaan disebutkan, produk yang berkualitas akan didapatkan jika proses kerjanya juga berkualitas. Di bidang politik, apa dan bagaimana sistem perekrutan dan pemilihan calon pemimpin yang berkualitas sehingga melahirkan sosok pemimpin yang berkualitas?

Dalam sistem ketatanegaraan dan politik yang berlaku di negara kita hingga sekarang ini, peranan partai politik sangat menentukan. Dalam peran DPR yang kian besar sekarang ini, apalagi jika dibandingkan perannya dalam era orde baru, warna kepentingan parpol cukup dominan. Hal itu mengingat semua anggota DPR adalah anggota parpol atau yang tampil lewat pintu parpol.

Kepentingan tersebut juga terjabarkan dalam produk-produk lembaga legislatif. Sebagian produk tersebut adalah ketentuan perundang-undangan yang menjadi acuan bagi perekrutan dan pemilihan presiden maupun kepala daerah. Logikanya, secara tidak langsung besar peranan parpol lewat para fungsionarisnya di DPR dalam menentukan kualitas model apa sosok para pemimpin bangsa ini.

Kualitas produk lembaga legislatif juga ditentukan kualitas anggotanya. Dalam menentukan siapa yang menjadi anggota lembaga legislatif peran parpol juga cukup besar. Itu berarti kualitas fungsionaris parpol di lembaga legislatif juga tergantung kualitas pengurus parpolnya. Seberapa jauh kadar kualitas pengurus parpol umumnya dewasa ini?

Kongres, konperensi, atau musyawarah, yakni forum terpilihnya pemimpin atau pengurus parpol adalah proses demokrasi yang berkualitas. Namun, isinya dan hasilnya, belum tentu berkualitas. Paling tidak, ada dua faktor yang mempengaruhinya. Pertama, proses perekrutan kader dan pengkaderan calon pemimpin atau pengurus dalam kehidupan organisasi parpol umumnya belum sepenuhnya berkualitas. Masih sering terlihat kader yang muncul dadakan, kader yang mahir loncat pagar, kader yang warna-warni motivasinya, kader yang tampil berkat praktik kolusi dan nepotisme.

Kedua, oknum-oknum yang memiliki kewenangan dalam menentukan siapa yang pantas menjadi pemimpin atau pengurus parpol dalam forum demokratis itu, juga belum dijamin kualitasnya. Masih patut dipertanyakan kualitas proses oknum-oknum itu terpilih menjadi pengurus parpol di tingkat provinsi, kabupaten, kecamatan, atau desa.

Masih sering terjadi, perekrutam dan pemilihan pengurus parpol, lebih-lebih di daerah pedesaan, lebih diwarnai emosi bukan didasari pertimbangan aspek-aspek kualitas. Mengubah cara berpikir masyarakat Indonesia umumnya, dari emosional semata menjadi rasional, sebagaimana yang dituntut dalam kehidupan parpol modern, dewasa ini masih dalam proses. Oleh karena itu walaupun prosesnya sudah berkualitas, tetapi tanpa didukung rakyat pemilih yang sudah berubah persepsinya, yang sudah mampu membedakan mana yang berkualitas dan mana yang tidak berkualitas, maka belum dijamin terpilihnya sosok pemimpin yang berkualitas.

Wacana seputar perlunya kualitas hidup berdemokrasi ditingkatkan, cukup subur tumbuh sejak bergulirnya gerakan reformasi. Sebagian keinginan itu sudah terserap dan telah dirumuskan dalam ketentuan perundang-undangan, bahkan telah diterapkan. Sebagian wacana lagi belum, misalnya yang terkait pemilu calon legislator dengan sepenuhnya sistem distrik. Tampilnya calon kepala daerah dari kalangan perorangan adalah sebagian wacana dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan demokrasi kita.

Munculnya wacana seputar sistem perekrutan dan pemilihan presiden dan kepala daerah tetap kita harapkan, dan juga kita harapkan para elite politik dengan legowo mau dan mampu menyerapnya demi lebih berkualitasnya proses demokrasi dan tampilnya sosok pemimpin yang lebih berkualitas. Berbarengan dengan itu pendidikan politik perlu digencarkan sehingga persepsi masyarakat berubah menjadi lebih rasional, lebih berkualitas.

 

     

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)