kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 25 September 2007

 Artikel


Kriteria
Pemimpin dan Pedoman Asta Brata

Oleh Ida Bagus Wibawa, S.E.

 

DARI dulu hingga kapan pun, pola kepemimpinan yang dituntut adalah yang senantiasa berorentasi kepada kepentingan rakyat. Dalam kenyataannya kepemimpinan seorang pemimpin tidak selalu berpegang pada prinsip kerakyatan namun cenderung pada sifat individu dan organisasi kelompok. Ada tiga kriteria yang diperlukan untuk memilih pemimpin.

Pertama, pemimpin yang berasal dari rakyat dapat dipastikan akan mewakili kepentingan rakyatnya. Sosok pemimpin rakyat akan berjuang memenuhi kehendak rakyat bukan memenuhi kehendak pribadi ataupun organisasinya. Pemimpin yang berasal dari rakyat akan memahami penderitaan dan harapan rakyat dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Dengan demikian, kebijakan yang akan diambil dalam menjalankan pemerintahannya tidak akan bertentangan dengan keinginan rakyat. Jika hal itu dapat dipenuhi, tentulah tidak akan pernah terjadi pemimpin yang ditolak oleh rakyat.

Kedua, pemimpin adalah sosok yang memiliki jiwa hidup sederhana, amat terkait dengan berbagai gambaran tentang kegagalan para pemimpin dalam mengendalikan hawa nafsu, khususnya dalam hal memperkaya diri, keluarga, kelompok, atau organisasi yang mendukungnya. Di samping itu, banyak pemimpin terjebak dalam kehidupan budaya hedonistik, atau gandrung pada kenikmatan hidup duniawi.

Ketiga, pemimpin memahami ajaran kepemimpinan dalam Asta Brata; adalah delapan syarat dalam pemerintahan yang digambarkan oleh sifat-sifat alam dalam diri seorang pemimpin.

* Surya yaitu matahari. Matahari memancarkan sinar terang sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Seorang pemimpin hendaknya mampu menumbuhkembangkan daya hidup rakyatnya untuk membangun bangsa dan negara, dengan memberikan bekal lahir dan batin untuk dapat berkarya.

* Candra yaitu bulan. Bulan memancarkan sinar di kegelapan malam. Cahaya bulan yang lembut mampu menumbuhkan semangat dan harapan-harapan yang indah. Seorang pemimpin hendaknya mampu memberikan dorongan atau motivasi untuk membangkitkan semangat rakyatnya, dalam suasana suka dan duka.

* Kartika yaitu bintang. Bintang memancarkan sinar indah kemilau, mempunyai tempat yang tepat di langit hingga dapat menjadi pedoman arah. Seorang pemimpin hendaknya menjadi teladan, untuk berbuat kebaikan. Tidak ragu menjalankan keputusan yang disepakati, serta tidak mudah terpengaruh oleh pihak yang akan menyesatkan.

* Angkasa yaitu langit. Langit itu luas tak terbatas, hingga mampu menampung apa saja yang datang padanya. Seorang pemimpin hendaknya mempunyai keluasan batin dan kemampuan mengendalikan diri yang kuat, hingga dengan sabar mampu menampung pendapat rakyatnya yang bermacam-macam.

* Maruta yaitu angin. Angin selalu ada di mana-mana, tanpa membedakan tempat serta selalu mengisi semua ruangan yang kosong. Seorang pemimpin hendaknya selalu dekat dengan rakyat, tanpa membedakan derajat dan martabatnya, bisa mengetahui keadaan dan keinginan rakyatnya. Mampu memahami dan menyerap aspirasi rakyat.

* Samudra yaitu lautan/air. Laut, betapapun luasnya, senantiasa mempunyai permukaan yang rata dan bersifat sejuk menyegarkan. Seorang pemimpin hendaknya menempatkan semua orang pada derajat dan martabat yang sama, sehingga dapat berlaku adil, bijaksana, dan penuh kasih saying terhadap rakyatnya.

* Dahana yaitu api. Api mempunyai kemampuan untuk membakar habis dan menghancurkan segala sesuatu yang bersentuhan dengannya. Seorang pemimpin hendaknya berwibawa dan berani menegakkan kebenaran dan keadilan secara tegas dan tuntas tanpa pandang bulu.

* Bumi yaitu tanah/pertiwi. Bumi mempunyai sifat kuat dan murah hati. Selalu memberi hasil kepada siapa pun yang mengolah dan memeliharanya dengan tekun. Seorang pemimpin hendaknya berwatak sentosa, teguh dan murah hati, senang beramal dan senantiasa berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan rakyatnya.

Kalau kaitkan ajaran-ajaran tersebut dengan dinamika global saat ini, muaranya selalu pada kebenaran dan kebijaksanaan. Selain itu pemimpin juga harus memiliki landasan etika, moral dan budi pekerti yang kuat serta memiliki niat dan tujuan yang benar dalam arti niat untuk membangun bangsa dan negara ini dengan berdasarkan Pancasila dan UUD '45, serta memiliki tujuan untuk mencerdasaskan dan menyejahterakan kehidupan rakyat.

 

Penulis, Humas Kanjanu Foundation asal Klungkung

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)