Kriteria
Pemimpin
dan
Pedoman Asta
Brata
Oleh
Ida Bagus
Wibawa, S.E.
DARI
dulu
hingga kapan pun,
pola
kepemimpinan yang dituntut
adalah yang
senantiasa
berorentasi
kepada
kepentingan rakyat.
Dalam
kenyataannya kepemimpinan
seorang
pemimpin tidak
selalu
berpegang pada
prinsip
kerakyatan namun
cenderung
pada
sifat individu
dan
organisasi kelompok.
Ada
tiga
kriteria yang diperlukan
untuk
memilih pemimpin.
Pertama,
pemimpin yang
berasal
dari rakyat
dapat
dipastikan akan
mewakili
kepentingan
rakyatnya.
Sosok
pemimpin rakyat
akan
berjuang memenuhi
kehendak
rakyat
bukan memenuhi
kehendak
pribadi
ataupun organisasinya.
Pemimpin yang
berasal
dari rakyat
akan
memahami penderitaan
dan
harapan rakyat
dalam
mencapai kehidupan
yang lebih
baik.
Dengan demikian,
kebijakan yang
akan
diambil dalam
menjalankan
pemerintahannya
tidak
akan bertentangan
dengan
keinginan rakyat.
Jika
hal itu
dapat
dipenuhi, tentulah
tidak
akan pernah
terjadi
pemimpin yang ditolak
oleh
rakyat.
Kedua,
pemimpin
adalah
sosok yang memiliki
jiwa
hidup sederhana,
amat
terkait dengan
berbagai
gambaran
tentang
kegagalan para
pemimpin
dalam
mengendalikan hawa
nafsu,
khususnya dalam
hal
memperkaya diri,
keluarga,
kelompok,
atau
organisasi yang mendukungnya.
Di
samping itu,
banyak
pemimpin terjebak
dalam
kehidupan budaya
hedonistik,
atau
gandrung pada
kenikmatan
hidup
duniawi.
Ketiga,
pemimpin
memahami
ajaran
kepemimpinan dalam
Asta
Brata; adalah
delapan
syarat dalam
pemerintahan yang
digambarkan
oleh
sifat-sifat alam
dalam
diri seorang
pemimpin.
*
Surya
yaitu matahari.
Matahari
memancarkan
sinar
terang sebagai
sumber
kehidupan yang membuat
semua
makhluk tumbuh
dan
berkembang. Seorang
pemimpin
hendaknya
mampu
menumbuhkembangkan daya
hidup
rakyatnya untuk
membangun
bangsa
dan negara,
dengan
memberikan bekal
lahir
dan batin
untuk
dapat berkarya.
*
Candra
yaitu bulan.
Bulan
memancarkan sinar
di
kegelapan malam.
Cahaya
bulan yang lembut
mampu
menumbuhkan semangat
dan
harapan-harapan yang indah.
Seorang
pemimpin hendaknya
mampu
memberikan dorongan
atau
motivasi untuk
membangkitkan
semangat
rakyatnya,
dalam
suasana suka
dan
duka.
*
Kartika
yaitu bintang.
Bintang
memancarkan sinar
indah
kemilau, mempunyai
tempat yang
tepat
di langit
hingga
dapat menjadi
pedoman
arah. Seorang
pemimpin
hendaknya
menjadi
teladan, untuk
berbuat
kebaikan. Tidak
ragu
menjalankan keputusan
yang disepakati,
serta
tidak mudah
terpengaruh
oleh
pihak yang akan
menyesatkan.
*
Angkasa
yaitu langit.
Langit
itu luas
tak
terbatas, hingga
mampu
menampung apa
saja yang
datang
padanya. Seorang
pemimpin
hendaknya
mempunyai
keluasan
batin
dan kemampuan
mengendalikan
diri yang
kuat,
hingga dengan
sabar
mampu menampung
pendapat
rakyatnya yang
bermacam-macam.
*
Maruta
yaitu angin.
Angin
selalu ada
di
mana-mana, tanpa
membedakan
tempat
serta selalu
mengisi
semua ruangan yang
kosong.
Seorang pemimpin
hendaknya
selalu
dekat dengan
rakyat,
tanpa membedakan
derajat
dan martabatnya,
bisa
mengetahui keadaan
dan
keinginan rakyatnya.
Mampu
memahami dan
menyerap
aspirasi
rakyat.
*
Samudra
yaitu lautan/air.
Laut,
betapapun luasnya,
senantiasa
mempunyai
permukaan yang rata
dan
bersifat sejuk
menyegarkan.
Seorang
pemimpin hendaknya
menempatkan
semua
orang pada
derajat
dan martabat yang
sama,
sehingga dapat
berlaku
adil, bijaksana,
dan
penuh kasih saying
terhadap
rakyatnya.
*
Dahana
yaitu api.
Api
mempunyai kemampuan
untuk
membakar habis
dan
menghancurkan segala
sesuatu yang
bersentuhan
dengannya.
Seorang
pemimpin hendaknya
berwibawa
dan
berani menegakkan
kebenaran
dan
keadilan secara
tegas
dan tuntas
tanpa
pandang bulu.
*
Bumi
yaitu tanah/pertiwi.
Bumi
mempunyai sifat
kuat
dan murah
hati.
Selalu memberi
hasil
kepada siapa pun yang
mengolah
dan
memeliharanya dengan
tekun.
Seorang pemimpin
hendaknya
berwatak
sentosa,
teguh
dan murah
hati,
senang beramal
dan
senantiasa berusaha
untuk
tidak mengecewakan
kepercayaan
rakyatnya.
Kalau
kaitkan
ajaran-ajaran tersebut
dengan
dinamika global saat
ini,
muaranya selalu
pada
kebenaran dan
kebijaksanaan.
Selain
itu pemimpin
juga
harus memiliki
landasan
etika, moral
dan
budi pekerti yang
kuat
serta memiliki
niat
dan tujuan yang
benar
dalam arti
niat
untuk membangun
bangsa
dan negara
ini
dengan berdasarkan
Pancasila
dan UUD '45,
serta
memiliki tujuan
untuk
mencerdasaskan dan
menyejahterakan
kehidupan
rakyat.
Penulis,
Humas
Kanjanu Foundation asal
Klungkung