kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 25 September 2007

 Mancanegara


Musharraf
Ditentang untuk Jadi Presiden Lagi

Islamabad -
Polisi
antihuru-hara Pakistan menangkap lusinan demonstran yang bertindak rusuh dengan melemparkan batu serta benda keras lainnya di luar gedung Mahkamah Agung, Senin (24/9) kemarin. Tindakan anarki aktivis sebagai perlawanan terhadap keinginan Presiden Pervez Musharraf terpilih lagi.

Sementara itu, para pengacara mengumumkan mereka kemungkinan mendukung seorang mantan hakim dari MA sebagai kandidat pertama untuk menyaingi penguasa militer Musharraf, yang mencoba memenangkan periode kedua di kursi presiden dalam pemilihan 6 Oktober mendatang.

Sebuah aliansi partai pro-demokrasi menyatakan akan memblokir Musharraf -- sosok sekutu kunci AS yang duduk di kursi pemerintah dalam kudeta 1999 -- untuk bisa memenangkan jabatan baru dari parlemen federal dan propinsi.

Lusinan pengunjuk rasa kaum oposisi di Islamabad melemparkan batu ke arah polisi yang mencoba menghentikan langkah mereka merangsek menuju gedung MA sambil mengeluarkan slogan termasuk "sahabat Amerika adalah pengkhianat" dan "mundur Musharraf". Setelah dalam beberapa kali pergumulan sengit, polisi yang menunggangi kuda lantas memecah belah konsentrasi massa. Petugas dengan pakaian lengkap seperti helm dan pelindung menyeret sedikitnya dua lusin orang ke dalam kendaraan polisi. 

Tampak pula ratusan polisi berjaga ketat di sekitar gedung Mahkamah Agung yang berbentuk seperti bulatan. Jika dilihat kebanyakan kaum demonstran berasal dari koalisi utama Pakistan partai-partai garis geras Islam seperti Muttahida-Majlis-e-Amal (MMA), atau United Action Front.

Polisi Pakistan sebelumnya menangkap beberapa pemimpin oposisi akhir pekan lalu, termasuk seorang pemimpin senior MMA yang bertindak selaku ketua partai milik bekas PM Nawaz Sharif yang kini tinggal di pengungsian.

Pemerintah mengatakan "penahanan preventif" dilakukan untuk menghentikan protes dan mengembalikan situasi keamanan pasca-aksi unjuk rasa Jumat lalu. Namun kubu oposisi menuduh Musharraf mencoba "membersihkan lawan-lawannya."

Mahkamah Agung Pakistan saat ini sedang menyidangkan beberapa petisi yang dilayangkan oleh aliansi oposisi pihak yang berada di belakang kampanye unjuk rasa dengan menyebut diri All Parties Democracy Movement.

Petisi itu menanyakan ketidaklayakan Musharraf untuk maju dalam pemilihan, karena peran gandanya sebagai presiden dan kepala militer adalah ilegal secara hukum. MA sendiri rencananya akan mengumumkan keputusannya Selasa hari ini atau Rabu esok.

Musharraf kini menghadapi penantang pertamanya menuju kursi presiden -- penantang yang terlihat tidak memiliki sedikit pun kesempatan untuk menang -- melihat kenyataan kekuasaan mayoritas Musharraf di parlemen. Para pengacara menominasikan mantan hakim MA "sangat dihormati" Wajih-udin Ahmad untuk maju dalam pemilihan.

Pengacara muncul sebagai oposisi Musharraf sejak ia memecat kepala MA Iftikhar Muhammad Chaudhry, 9 Maret. Musharraf sendiri menyatakan akan keluar dari militer per 15 November jika ia terpilih, namun oposisi mengatakan ia harus menggantung seragam militernya lebih dahulu. (ton/afp)

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)