Musharraf
Ditentang
untuk
Jadi Presiden
Lagi
Islamabad -
Polisi
antihuru-hara Pakistan
menangkap
lusinan
demonstran yang bertindak
rusuh
dengan melemparkan
batu
serta benda
keras
lainnya di
luar
gedung Mahkamah
Agung,
Senin (24/9) kemarin.
Tindakan
anarki
aktivis sebagai
perlawanan
terhadap
keinginan
Presiden
Pervez
Musharraf terpilih
lagi.
Sementara
itu,
para pengacara
mengumumkan
mereka
kemungkinan mendukung
seorang
mantan hakim
dari MA
sebagai kandidat
pertama
untuk menyaingi
penguasa
militer
Musharraf, yang mencoba
memenangkan
periode
kedua di
kursi
presiden dalam
pemilihan 6
Oktober
mendatang.
Sebuah
aliansi
partai pro-demokrasi
menyatakan
akan
memblokir
Musharraf --
sosok
sekutu kunci AS yang
duduk
di kursi
pemerintah
dalam
kudeta 1999 -- untuk
bisa
memenangkan jabatan
baru
dari parlemen federal
dan
propinsi.
Lusinan
pengunjuk
rasa
kaum oposisi
di Islamabad
melemparkan
batu ke
arah
polisi yang mencoba
menghentikan
langkah
mereka merangsek
menuju
gedung MA sambil
mengeluarkan slogan
termasuk "sahabat
Amerika
adalah pengkhianat"
dan "mundur
Musharraf".
Setelah
dalam beberapa kali
pergumulan
sengit,
polisi yang menunggangi
kuda
lantas memecah
belah
konsentrasi
massa.
Petugas
dengan
pakaian lengkap
seperti helm
dan
pelindung menyeret
sedikitnya
dua
lusin orang
ke
dalam kendaraan
polisi.
Tampak
pula ratusan
polisi
berjaga ketat
di
sekitar gedung
Mahkamah
Agung yang
berbentuk
seperti
bulatan.
Jika
dilihat
kebanyakan kaum
demonstran
berasal
dari koalisi
utama
Pakistan
partai-partai
garis
geras Islam seperti
Muttahida-Majlis-e-Amal (MMA),
atau United Action Front.
Polisi
Pakistan sebelumnya
menangkap
beberapa
pemimpin
oposisi
akhir pekan
lalu,
termasuk seorang
pemimpin senior MMA yang
bertindak
selaku
ketua partai
milik
bekas PM Nawaz
Sharif yang
kini
tinggal di
pengungsian.
Pemerintah
mengatakan "penahanan
preventif"
dilakukan
untuk
menghentikan protes
dan
mengembalikan situasi
keamanan
pasca-aksi
unjuk
rasa Jumat
lalu.
Namun
kubu
oposisi menuduh
Musharraf
mencoba "membersihkan
lawan-lawannya."
Mahkamah
Agung Pakistan
saat
ini sedang
menyidangkan
beberapa
petisi yang
dilayangkan
oleh
aliansi oposisi
pihak yang
berada
di belakang
kampanye
unjuk
rasa dengan
menyebut
diri All Parties Democracy
Movement.
Petisi
itu
menanyakan ketidaklayakan
Musharraf
untuk
maju dalam
pemilihan,
karena
peran gandanya
sebagai
presiden dan
kepala
militer adalah
ilegal
secara hukum.
MA sendiri
rencananya
akan
mengumumkan
keputusannya
Selasa
hari ini
atau
Rabu esok.
Musharraf
kini
menghadapi penantang
pertamanya
menuju
kursi presiden --
penantang yang
terlihat
tidak
memiliki sedikit pun
kesempatan
untuk
menang -- melihat
kenyataan
kekuasaan
mayoritas
Musharraf
di
parlemen.
Para
pengacara
menominasikan
mantan
hakim MA "sangat
dihormati"
Wajih-udin Ahmad
untuk
maju dalam
pemilihan.
Pengacara
muncul
sebagai oposisi
Musharraf
sejak
ia
memecat
kepala MA Iftikhar
Muhammad Chaudhry, 9
Maret.
Musharraf sendiri
menyatakan
akan
keluar
dari militer per 15
November jika
ia
terpilih, namun
oposisi
mengatakan ia
harus
menggantung seragam
militernya
lebih
dahulu. (ton/afp)