Fiskal
Dihapus,
Rugikan
Pariwisata
Domestik
PERNYATAAN
Menteri
Keuangan Sri Mulyani
Indrawati
di
depan DPR-RI
pekan
lalu yang akan
menghapus
kebijakan
fiskal
luar negeri
tahun 2010
bukanlah
isu
baru.
Penghapusan
fiskal
luar negeri
sudah lama
diwacanakan
pemerintah.
Rencana
pemerintah
ini
sempat ditentang
Meneg
Pariwisata Jero
Wacik.
Menteri
asal
Bali ini
punya
alasan pariwisata
Indonesia khususnya Bali
sangat
terpuruk.
Jika
DPR meloloskan
penghapusan
fiskal
luar negeri
dalam
pembahasan RUU Pajak,
penderitaan
rakyat Bali
akan
bertambah.
Sepinya
wisatawan
mancanegara
berkunjung
ke
Bali, wisatawan
domestik (nusantara)
bisa
jadi penyelamat
perekonomian
masyarakat --
meski
masih jauh
dari
harapan.
Melihat
begitu
pentingnya fiskal
luar
negeri untuk
membendung
wisatawan
domestik agar
tak
ramai-ramai terbang
ke luar
negeri,
Februari 2005 Jero
Wacik
mengadakan jumpa
peres
khusus menyampaikan
keberatan
atas
diberlakukan kebijakan
bebas
fiskal ke
luar
negeri, terutama
bagi
mereka yang bertujuan
wisata.
Hal
ini
sesuai dengan
rapat
kabinet terbatas yang
dipimpin
Presiden
Susilo
Bambang Uudhoyono
di
Istana Tampak Siring.
Sudah
bisa
dipastikan jika
fiskal
luar negeri yang
besarnya
Rp 200
ribu s.d
Rp 1
juta per orang
dihapus,
pelancong
domestik
akan
lebih banyak
memilih
piknik ke
luar
negeri, termasuk
mereka yang
kemampuan
finansialnya
masih
terbatas. Mereka
ini
ingin mencari
objek
wisata lain di
luar
negeri yang biayanya
mungkin
sama
dengan
biaya berlibur
di Bali
atau tempat
lainnya
di Indonesia.
Dalam
pembahasan RUU
Pajak
ini, kita
berharap DPR
berpikir
untuk
kepentingan masalah
domestik.
Dewan
jangan
samakan
Indonesia
dengan
negara-negara maju
yang telah
menghapus
fiskal
luar negerinya.
Biaya
fiskal
lebih baik
tetap
diberlakukan selektif
bagi
warga
Indonesia yang
pergi
ke luar
negeri.
Dengan
kebijakan ini
diharapkan
akan
meningkatkan
jumlah
wisatawan domestik
yang berwisata
di
dalam negeri.
Memang
banyak yang
mendukung
penghapusan
fiskal
luar negeri
ini.
Apalagi
tidak
pernah ada
ada
penjelasan rinci
dan
transparan berapa
pemasukan
negara
dari fiskal
sebenarnya.
Pungutan
fiskal
ini juga
rawan
terjadinya korupsi.
Kita tidak
menutup
mata, di
kawasan ASEAN
tinggal Indonesia yang
menerapkan
pungutan
fiskal.
Sebenarnya,
selain
Indonesia,
Thailand juga
pernah
memberlakukan fiskal.
Tetapi
beberapa
bulan
kemudian kebijakan
itu
dicabut, karena
dinilai
lebih banyak
merugikan
daripada
menguntungkan
dunia
pariwisata
Thailand.
Kebijakan
menghapus
fiskal
pasti
akan disambut
positif
oleh industri
penerbangan.
Alasannya,
kebijakan
tersebut
berpeluang
besar
meningkatkan lalu
lintas
penerbangan internasional.
Penghapusan
fiskal
sebaiknya dibarengi
dengan
peningkatan promosi
dan
inovasi di
sektor
pariwisata supaya
turis
lokal tidak
terbang
ke lain. Yang
lebih
penting lagi,
penghapusan
fiskal
ini hendaknya
dibarengi
dengan
meningkatnya perdagangan
internasioal
produk
Indonesia
di luar
negeri.
Sebab,
bebas
fiskal bukan
hanya
sekadar jalan-jalan
di luar
negeri,
tapi ada
nilai
ekonomi tinggi yang
bisa
diraih yakni
meningkatkan
ekspor.
Melihat
dua
sisi yang berbeda
dan
punya kebenaran
masing-masing,
sebaiknya
pemberlakukan
fiskal
harus selektif
karena Indonesia
banyak
tertinggal dibandingkan
negara-negara
maju.
Mereka yang
mau
berpromosi wisata,
PJTKI yang akan
bekerja
di luar
negeri
atau mahasiswa yang
belajar
di luar
negeri
harus dibebaskan
dari
biaya fiskal.
Jika
fiskal
luar negeri
dihapus
sebaiknya diiringi
dengan
menambahkan jumlah
negara yang
mendapat
fasilitas visa on arrival.
Fiskal
adalah
bentuk subsidi
bagi
industri pariwisata
domestik, yang
berakibat
tidak
terjadinya lecutan
daya
saing untuk
berkompetisi
di
pasar pariwisata
global.
Fiskal
juga
dapat melemahkan
kesempatan
menyerap
ilmu-ilmu
pengetahuan
terkini
dan kesempatan
belajar
pergaulan internasional
untuk
semua lapisan
masyarakat
kita
dari negara-negara
yang lebih
maju.
Penghapusan
fiskal
dilakukan secara
bertahap agar
tidak
menimbulkan guncangan
dalam
penerimaan negara.
Sebab
penghapusan fiskal
juga
diyakini pemerintah
akan
meningkatkan volume
perjalanan
ke luar
negeri.
Apalagi
sejumlah
negara
Asia
sering
keberatan dengan
penerapan
fiskal
sehingga membatasi
masyarakat Indonesia yang
ingin
ke luar
negeri.
Padahal,
saat yang
sama
pemerintah
mengharapkan
sebanyak
mungkin
masyarakat asing
datang.
*
wirya