Bali agar
Dikembangkan
Pertanian
Organik
Denpasar
(Bali Post) -
Pertanian
organik
penting dikembangkan
agar pertiwi
atau
tanah Bali terhindar
dari
kerusakan akibat
penggunaan
zat-zat
kimia.
Alam Bali
relatif
kecil,
apa pun aktivitas
yang dilakukan
mesti
mampu menekan
seminimal
mungkin
kerusakan lingkungan.
''Termasuk
dalam
aktivitas bertani.
Agar
alam
tidak tercemar
zat-zat
kimia, sudah
saatnya
masyarakat mengembangkan
pertanian
organik,''
kata
Kepala Lab Bio Pestisida
Fakultas
Pertanian
Unud Prof. Dr. Ir.
Dewa
Ngurah Suprapta,
Senin (24/9)
kemarin.
Dikatakan,
produk
pertanian organik
akan
aman
dikonsumsi, di
samping
kandungan gizinya
cukup
bagus. ''Luas
areal
pertanian di
Bali
relatif
sempit.
Jika
kita bersaing
secara
kuantitas, tentu
tidak
akan
berdaya.
Karena
itu
kita mesti
bersaing
secara
kualitas.
Produk
pertanian
organik
mampu memenuhi
sisi
kualitas -- yang di
dalamnya
menyangkut
kandungan
gizi
dan tidak
membahayakan
kesehatan,''
kata
Direktur Program
Pascasarjana Unud
yang peraih
penghargaan
Kalpataru
ini.
Jika
dalam praktiknya
masyarakat
tetap
menggunakan pupuk
dan
pestisida kimia,
akan
berdampak
negatif
terhadap lingkungan
alam
dan juga
kesehatan
manusia.
Berdasarkan
data WHO, kata
Dewa
Suprapta, setiap
tahunnya
sekitar 20
ribu
orang di
dunia
meninggal akibat
penggunaan
pestisida
sintetis (pestisida
kimia
buatan pabrik).
Belum
lagi
berdampak pada
gangguan
kesehatan
seperti
kanker dan
kemandulan.
Dikatakannya,
memang
dalam dunia
pertanian
tidak
mungkin petani
terbebas
dari
gangguan
hama
dan
penyakit tanaman.
Ada
ribuan
jenis
hama
dan
penyakit yang mengganggu
tanaman.
Hampir
50 persen
petani
kehilangan hasil
pertanian,
jika
tidak menggunakan
pestisida.
Karena
itu
kehadiran pestisida
sangat
penting artinya.
Cuma, agar
tidak
membahayakan lingkungan
dan
kesehatan manusia,
pestisida yang
digunakan
mesti yang
berbahan
baku
alami --
pestisida
nabati (bahan
bakunya
berasal dari
tanam-tanaman
seperti
daun tembakau,
akar
pohon tuba dan
daun
sirih) dan bio
pestisida (menggunakan
mikroorganisme).
''Kedua
pestisida jenis
ini
sangat alami
dan
ramah lingkungan.
Cuma
baru sekitar 1,3
persen
mampu bersaing
dengan
pestisida sintetis
di
pasaran,'' katanya
sembari
menyebut salah
satu
mikroorganisme yang cukup
berhasil
membunuh
hama
penggerek
yakni bacillus
thuringiensis.
Bakteri
penghasil Bt toxin
itu
mampu membunuh
serangga
jenis
ulat penggerek.
(08)