kembali ke halaman depan

 

 

 

 

Selasa Kliwon, 25 September 2007

 Bali


Bali agar Dikembangkan
Pertanian Organik

Denpasar (Bali Post) -
Pertanian
organik penting dikembangkan agar pertiwi atau tanah Bali terhindar dari kerusakan akibat penggunaan zat-zat kimia. Alam Bali relatif kecil, apa pun aktivitas yang dilakukan mesti mampu menekan seminimal mungkin kerusakan lingkungan. ''Termasuk dalam aktivitas bertani. Agar alam tidak tercemar zat-zat kimia, sudah saatnya masyarakat mengembangkan pertanian organik,'' kata Kepala Lab Bio Pestisida Fakultas Pertanian Unud Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, Senin (24/9) kemarin.

Dikatakan, produk pertanian organik akan aman dikonsumsi, di samping kandungan gizinya cukup bagus. ''Luas areal pertanian di Bali relatif sempit. Jika kita bersaing secara kuantitas, tentu tidak akan berdaya. Karena itu kita mesti bersaing secara kualitas. Produk pertanian organik mampu memenuhi sisi kualitas -- yang di dalamnya menyangkut kandungan gizi dan tidak membahayakan kesehatan,'' kata Direktur Program Pascasarjana Unud yang peraih penghargaan Kalpataru ini. Jika dalam praktiknya masyarakat tetap menggunakan pupuk dan pestisida kimia, akan berdampak negatif terhadap lingkungan alam dan juga kesehatan manusia.

Berdasarkan data WHO, kata Dewa Suprapta, setiap tahunnya sekitar 20 ribu orang di dunia meninggal akibat penggunaan pestisida sintetis (pestisida kimia buatan pabrik). Belum lagi berdampak pada gangguan kesehatan seperti kanker dan kemandulan.

Dikatakannya, memang dalam dunia pertanian tidak mungkin petani terbebas dari gangguan hama dan penyakit tanaman. Ada ribuan jenis hama dan penyakit yang mengganggu tanaman. Hampir 50 persen petani kehilangan hasil pertanian, jika tidak menggunakan pestisida. Karena itu kehadiran pestisida sangat penting artinya. Cuma, agar tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia, pestisida yang digunakan mesti yang berbahan baku alami -- pestisida nabati (bahan bakunya berasal dari tanam-tanaman seperti daun tembakau, akar pohon tuba dan daun sirih) dan bio pestisida (menggunakan mikroorganisme).

''Kedua pestisida jenis ini sangat alami dan ramah lingkungan. Cuma baru sekitar 1,3 persen mampu bersaing dengan pestisida sintetis di pasaran,'' katanya sembari menyebut salah satu mikroorganisme yang cukup berhasil membunuh hama penggerek yakni bacillus thuringiensis. Bakteri penghasil Bt toxin itu mampu membunuh serangga jenis ulat penggerek. (08)

 

 

 

CUACA


ACARA TV & RADIO


Radio Global FM 99,15 (LIVE)